Mudik Imlek 2026 di China Diprediksi Pecahkan Rekor, Tembus 9,5 Miliar Perjalanan



KONTAN.CO.ID - GUANGZHOU. Gelombang perjalanan tahunan Festival Musim Semi di China, yang kerap disebut sebagai migrasi manusia terbesar di dunia, resmi dimulai pada Senin (2/2/2026) menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek.

Tahun ini, Tahun Baru Imlek yang menandai masuknya Tahun Kuda dalam penanggalan zodiak China jatuh pada 17 Februari. Pemerintah China menetapkan masa libur nasional selama sembilan hari, mulai 15 hingga 23 Februari—lebih panjang dibandingkan delapan hari pada tahun lalu.

Pemerintah berharap perpanjangan masa libur ini dapat mendorong konsumsi domestik, terutama belanja untuk perjalanan, kuliner, dan rekreasi selama periode perayaan. 


Namun, sentimen konsumen China masih dibayangi ketidakpastian ekonomi. Banyak masyarakat memilih menahan pengeluaran dan meningkatkan tabungan.

Nilai aset rumah tangga tergerus akibat krisis berkepanjangan di sektor properti, sementara perlambatan pertumbuhan ekonomi pascapandemi turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pekerjaan.

Baca Juga: Geopolitik Global: Aliansi Putin-Xi Mengguncang Status Taiwan 

Meski demikian, pejabat perencanaan negara pekan lalu menyatakan China memperkirakan total 9,5 miliar perjalanan penumpang selama periode arus mudik Imlek tahun ini, melampaui capaian 9,02 miliar perjalanan pada tahun lalu.

“Kenapa rasanya lebih sulit membeli tiket tahun ini dibandingkan tahun lalu? Misalnya, penerbangan pulang ke kampung halaman saya sudah habis terjual,” ujar Liu (32), seorang pelancong yang berangkat dari Bandara Guangzhou pada Senin.

“Kalau tidak membeli lebih awal, harga tiket bisa berfluktuasi tajam, bahkan bisa naik dua kali lipat,” tambahnya.

Sejumlah platform perjalanan besar melaporkan pemesanan tiket Imlek 2026 sudah melampaui level tahun sebelumnya.

Data Flight Master menunjukkan, hingga pertengahan Januari, pemesanan penerbangan domestik selama periode liburan telah menembus 4,13 juta kursi, naik sekitar 21% secara tahunan (year-on-year).

Untuk perjalanan luar negeri, destinasi favorit warga China terkonsentrasi di Asia Tenggara. Penerbangan ke kawasan ini menyumbang hampir 50% dari total rute internasional, dengan Thailand menjadi salah satu tujuan utama.

Baca Juga: Panel WTO Menangkan Gugatan China atas Subsidi Energi Bersih AS

Sebaliknya, rute menuju Jepang mengalami penurunan tajam lebih dari 40% setelah ketegangan geopolitik antara China dan Jepang pada akhir tahun lalu, menurut data Flight Master.

Di dalam negeri, kota-kota yang kaya warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) menjadi magnet baru bagi wisatawan.

Data dari agen perjalanan daring Qunar menunjukkan sejumlah kota seperti Huangshan di Anhui, Jingdezhen di Jiangxi, Quanzhou di Fujian, Foshan di Guangdong, dan Zigong di Sichuan menjadi tujuan populer selama musim liburan Imlek tahun ini.

Lonjakan mobilitas ini menunjukkan bahwa meski kehati-hatian finansial masih membayangi konsumen, tradisi mudik dan wisata saat Imlek tetap menjadi prioritas utama masyarakat China.

Selanjutnya: Menkeu Purbaya Ungkap Sebagian Proyek Pengelolaan Sampah Akan Dibiayai APBN

Menarik Dibaca: Ini 5 Aset Kripto Top Gainers saat Pelemahan Pasar Tak Terbendung