Mudik Lebaran 2026, Konsumsi Rumah Tangga hingga Ekonomi Kuartal I Ikut Terdorong



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan momentum mudik Lebaran 2026 akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional pada tiga bulan pertama alias kuartal I tahun 2026. 

Mobilitas masyarakat yang masif dinilai bakal memberikan dampak rembesan (trickle-down effect) yang signifikan terhadap perputaran uang di berbagai daerah.

Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi mengungkapkan, pergerakan masyarakat dalam skala besar ini akan memicu lonjakan permintaan di berbagai sektor jasa dan barang. Berdasarkan proyeksi, terdapat sekitar 143,9 juta orang yang melakukan mobilisasi selama periode hari raya tersebut.


Baca Juga: Draf Perppu Kejahatan Ekonomi Mencuat, CORE Ingatkan Risiko Penumpukan Kekuasaan

“Mudik Lebaran menciptakan lonjakan konsumsi dan distribusi ekonomi ke daerah. Mobilitas dari proyeksi 143,9 juta orang akan berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi di sektor ritel, pariwisata, makanan minuman, transportasi dan UMKM,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/3).

Chandra menjelaskan, fenomena tahunan ini efektif mendorong redistribusi kekayaan dari kota-kota besar menuju daerah. Selain itu, geliat ekonomi sudah mulai terasa sejak rantai pasok di sektor industri pengolahan meningkat untuk memenuhi kebutuhan stok nasional sebelum memasuki masa libur panjang.

“Mudik Lebaran bukan hanya fenomena sosial dan budaya akan tetapi juga menjadi pendorong ekonomi nasional yang memicu perputaran uang dari kota besar ke daerah. Biasanya aktivitas manufaktur juga berada di zona ekspansif menjelang hari raya,” tuturnya.

Optimisme ini sekaligus memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tiga bulan pertama tahun 2026. Chandra meyakini, tingginya daya beli masyarakat selama Lebaran akan menjaga stabilitas produk domestik bruto (PDB) nasional. 

“Ini tentunya akan memperkuat konsumsi rumah tangga yang merupakan kontribusi terbesar pada PDB Indonesia, pada kuartal I tahun ini,” ujar dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang membeberkan, perputaran uang di momen mudik lebaran ini bisa mencapai Rp 148,39 triliun, naik sekitar 8% dari tahun lalu. 

Hitungan ini didasarkan pada asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga yang meningkat 10% menjadi Rp 4,12 juta per Kepala Keluarga (KK).

"Jumlah pemudik 143,9 juta setara dengan 35.975.000 kepala keluarga dengan asumsi rata-rata per keluarga 4 orang. Jika per keluarga membawa uang sebesar Rp 4,12 juta naik 10% dari tahun 2025 lalu sebesar Rp 3,75 juta maka potensi perputaran uang sebesar Rp 148,39 triliun," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (17/3/2026).

Sarman menuturkan, geliat konsumsi bakal melonjak rata-rata 10%-15%, diyakini mampu mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 ke level 5,4% – 5,5%. 

Baca Juga: KPK Sebut Eks Menag Yaqut Punya GERD dan ASMA

Menurutnya, ini didorong oleh akumulasi perputaran uang dari libur Nataru di Januari, perayaan Imlek yang menyumbang Rp 9 triliun, dan puncaknya pada Idul Fitri 1447 H.

Kendati demikian, Sarman mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga psikologi pasar. Ia mendesak pemerintah untuk menjamin ketersediaan BBM dan gas selama dan sesudah Lebaran agar masyarakat tidak ragu untuk membelanjakan uangnya di daerah masing-masing.

"Hal sangat penting karena masyarakat juga mengikuti perkembangan geopolitik perang Iran vs AS dan Israel yang berpotensi mengganggu pasokan BBM dan gas ke dalam negeri," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News