MUF Masih Pertimbangkan Berbagai Faktor untuk Terbitkan Obligasi Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan multifinance PT Mandiri Utama Finance (MUF) sempat berencana menerbitkan surat utang atau obligasi pada tahun ini. Namun, tampaknya rencana tersebut belum terealisasi karena MUF masih mempertimbangkan sejumlah faktor hingga saat ini.

Plt Direktur Utama MUF Dapot Parasian Sinaga menerangkan faktor yang menjadi pertimbangan, yakni memperhatikan kondisi pasar dan menentukan momentum yang tepat.

"Oleh karena itu, MUF terus memantau perkembangan pasar keuangan di Indonesia sebagai bagian dari evaluasi strategi pendanaan perusahaan," katanya kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).


Secara rinci, Dapot mengungkapkan perkembangan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam menentukan strategi pendanaan.

Asal tahu saja, BI Rate naik lagi menjadi 5,75%. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sempat menyampaikan kenaikan BI Rate juga menjadi faktor yang membuat multifinance lebih berhati-hati dalam menerbitkan obligasi.

"Namun, keputusan penerbitan obligasi juga mempertimbangkan berbagai faktor lain, seperti kebutuhan bisnis dan kondisi pasar secara keseluruhan," ungkap Dapot.

Sejauh ini, Dapot mengatakan sumber pendanaan MUF masih didominasi oleh fasilitas pinjaman dari perbankan. Dia bilang pendanaan tersebut digunakan sebagai modal kerja perusahaan, terutama dalam mendukung penyaluran pembiayaan kendaraan kepada konsumen.

Terkait BI Rate, Dapot juga menyebut perubahan suku bunga tentu menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pendanaan dari bank. Meski demikian, dia mengatakan MUF terus mengelola struktur pendanaan secara optimal agar tetap dapat mendukung pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.

Asal tahu saja, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebut laju penerbitan surat utang multifinance terbilang melambat pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan hal tersebut terlihat dari nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp 12,93 triliun.

"Angka itu masih jauh di bawah realisasi penuh pada 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun. Jika angka Semester I-2026 disetahunkan secara sederhana, nilainya menjadi sekitar Rp 25,86 triliun, atau lebih rendah sekitar 32,3% dibandingkan dengan realisasi penuh 2025," ucapnya kepada Kontan.

Ahmad juga menyampaikan perlambatan tersebut terbilang wajar karena multifinance menghadapi dua dorongan yang berlawanan. Dia bilang salah satunya kebutuhan pendanaan tetap ada karena piutang pembiayaan masih tumbuh. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate ke level 5,75% membuat biaya pendanaan menjadi lebih mahal.

"Dengan demikian, perusahaan pembiayaan cenderung lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan besaran penerbitan obligasi," tuturnya.

Ahmad menyebut faktor lain yang menahan penerbitan adalah permintaan pembiayaan otomotif yang belum sepenuhnya merata. Dari sisi kebutuhan industri, dia menilai tekanan refinancing tetap besar.

Hal itu tercermin dari obligasi multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun, dengan porsi terbesar berada pada kuartal III-2026 sebesar Rp 13,68 triliun.

"Artinya, penerbitan pada semester II-2026 tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan ekspansi pembiayaan baru, tetapi juga kebutuhan untuk mengganti surat utang yang jatuh tempo," kata Ahmad.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News