KONTAN.CO.ID - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) kembali menjadi perhatian investor. Emiten ini mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp500 miliar. Aksi korporasi tersebut akan dilaksanakan mulai 4 September hingga 4 Desember 2026 melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam keterbukaan informasi, ERAA menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar untuk membeli sebanyak-banyaknya 797,5 juta saham, setara maksimal 5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Baca Juga: SRTG Tebar Dividen Rp 103,3 per Saham: Cek Profil hingga Kinerja Emiten Ini Dana buyback berasal dari kas internal perusahaan dan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Rencana tersebut menjadi perhatian karena datang ketika fundamental ERAA masih menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I 2026, penjualan perseroan mencapai Rp42,90 triliun atau tumbuh 22,39% secara tahunan. Sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp784,02 miliar, naik 37,96%.
Baca Juga: Rogoh Kocek Dalam, Emiten Menggelar Buyback Saham Rencana Buyback Saham ERAA Rp500 Miliar
Melansir laman
ERAA, manajemen ERAA mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp500 miliar.
| Keterangan | Rencana |
| Nilai maksimal buyback | Rp500 miliar |
| Maksimal saham yang dibeli | 797,5 juta saham |
| Maksimal terhadap modal disetor | 5% |
| Periode | 4 September–4 Desember 2026 |
| Sumber dana | Kas internal |
| Pelaksanaan | Melalui perdagangan BEI |
| Perantara | PT Ciptadana Sekuritas Asia |
Pembelian kembali dilakukan pada harga yang dinilai baik dan wajar oleh direksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ERAA menyatakan penggunaan kas internal untuk buyback akan mengurangi aset dan ekuitas perusahaan sebesar nilai transaksi yang dilakukan beserta biaya terkait. Namun, manajemen menilai aksi tersebut tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha perseroan. Program buyback terbaru memiliki nilai maksimal sekitar Rp500 miliar, jauh lebih besar dibandingkan program buyback yang diumumkan pada awal 2026 dengan anggaran maksimal Rp150 miliar. Pada program sebelumnya, ERAA menetapkan periode buyback tiga bulan dan alokasi maksimal Rp150 miliar. Dengan demikian, rencana Rp500 miliar menunjukkan peningkatan skala aksi buyback yang cukup signifikan. Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: Rogoh Dana Rp 100 Miliar, Elnusa (ELSA) Siap Buyback Saham Sekilas tentang Saham ERAA
PT Erajaya Swasembada Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan ritel produk telekomunikasi, elektronik konsumen, serta berbagai produk gaya hidup. Perseroan didirikan pada 1996 dan telah berkembang dari perusahaan importir, distributor dan peritel perangkat telekomunikasi menjadi ekosistem ritel dengan sejumlah lini bisnis. Saat ini, bisnis Erajaya tidak lagi hanya bergantung pada penjualan smartphone. Perseroan mengembangkan beberapa vertikal, mulai dari perangkat elektronik dan gadget, lifestyle, hingga makanan dan minuman. Erajaya juga mengoperasikan jaringan omnichannel yang menggabungkan toko fisik dengan platform digital untuk melayani konsumen.
Baca Juga: Dividen Final SMDR Rp12 per Saham: Cek Profil Emiten Logistik dan Kargo Ini Lini Bisnis ERAA
Erajaya saat ini memiliki tiga vertikal bisnis utama, yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, serta Erajaya Food & Nourishment.
1. Erajaya Digital
Erajaya Digital merupakan lini bisnis terbesar perseroan. Bisnis ini mencakup produk consumer electronics, handphone, laptop, komputer, produk operator, voucher serta berbagai perangkat pendukung lainnya. Perseroan menjalankan berbagai konsep toko, termasuk:
- Erafone
- iBox
- Samsung
- Xiaomi
- Urban Republic
- Erablue
Erafone menjadi salah satu jaringan multibrand utama, sementara iBox menjadi salah satu kanal utama penjualan produk Apple. Selain toko fisik, Erajaya juga mengembangkan kanal digital dan ekosistem omnichannel untuk mendukung pengalaman belanja konsumen.
Baca Juga: RMK Energy (RMKE) Tuntaskan Buyback Saham Senilai Rp 44,5 Miliar 2. Erajaya Active Lifestyle
Vertikal kedua adalah Erajaya Active Lifestyle, yang berfokus pada produk gaya hidup. Portofolionya mencakup perangkat IoT, aksesori, produk olahraga, fashion dan perlengkapan aktivitas luar ruangan. Beberapa konsep dan merek yang berada dalam ekosistem ini antara lain:
- Urban Republic
- JD Sports
- ASICS
- Garmin
- DJI
- Wilson
- ANTA
- MST Golf
Ekspansi ke kategori lifestyle membuat ERAA tidak hanya bergantung pada siklus penjualan smartphone dan tablet.
Baca Juga: Unilever (UNVR) Realisasikan Buyback Saham Senilai Rp 285 Miliar 3. Erajaya Food & Nourishment
ERAA juga mengembangkan bisnis makanan dan minuman melalui Erajaya Food & Nourishment. Vertikal ini mencakup bisnis restoran, kafe, bakery hingga supermarket. Portofolionya antara lain:
- Paris Baguette
- Bacha Coffee
- Curry Up
- CHAGEE
- Wetzel's Pretzels
- GrandLucky Superstore
Erajaya terus menambah portofolio di sektor tersebut. Pada Agustus 2026, perseroan juga mengumumkan kerja sama strategis dengan Oriental Kopi untuk memperkuat bisnis
food & beverage.
Baca Juga: Kucurkan Dana Triliunan, Emiten Blue Chip Gelar Buyback Saham Ekspansi ke Bisnis Kendaraan Listrik
Selain tiga vertikal utama tersebut, Erajaya juga memiliki eksposur terhadap bisnis otomotif listrik melalui XPENG. Erajaya sebelumnya masuk ke distribusi dan penjualan kendaraan listrik XPENG di Indonesia. Perkembangan terbaru menunjukkan distribusi, penjualan dan layanan purnajual XPENG tetap ditangani entitas Erajaya, meskipun XPENG kemudian mengambil alih mayoritas saham entitas manufaktur kendaraan listrik milik grup. Masuknya kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi diversifikasi ERAA ke kategori di luar bisnis gadget.
Baca Juga: Siapkan Dana Rp 250 Miliar, Bangun Kosambi Sukses (CBDK) Mulai Buyback Saham Kinerja Keuangan ERAA Semester I 2026
Merangkum data
BEI, kinerja terbaru ERAA menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, ERAA mencatat penjualan Rp42,90 triliun, naik 22,39% dibandingkan Rp35,05 triliun pada semester I 2025. Sementara itu, laba bruto meningkat menjadi sekitar Rp4,80 triliun dari Rp3,96 triliun.
Laba usaha juga meningkat menjadi sekitar Rp1,44 triliun, dibandingkan Rp1,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Kinerja | Semester I 2026 | Semester I 2025 | Pertumbuhan |
| Penjualan | Rp42,90 triliun | Rp35,05 triliun | +22,39% |
| Laba bruto | Rp4,80 triliun | Rp3,96 triliun | Naik |
| Laba usaha | Rp1,44 triliun | Rp1,12 triliun | Naik |
| Laba sebelum pajak | Rp1,15 triliun | Rp863,42 miliar | Naik |
| Laba periode berjalan | Rp872,12 miliar | Rp605,82 miliar | +43,96% |
| Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik | Rp784,02 miliar | Rp568,30 miliar | +37,96% |
| EPS dasar | Rp50,09 | Rp36,00 | +39,14% |
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan penjualan juga berhasil diterjemahkan menjadi peningkatan profitabilitas.
Tonton: Harga CPO Naik, Laba Emiten Sawit Melesat: Ada yang Tumbuh 56%! Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News