Multicrane Perkasa Sebut Program Waste to Energy Bisa Angkat Industri Alat Berat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Multicrane Perkasa (MCP) melirik peluang dari program Waste to Energy (WtE) pada industri alat berat di Indonesia.

Presiden Direktur Multicrane Perkasa, Adrianus Hadiwinata menyatakan bahwa MCP memposisikan diri sebagai integrated waste movement partner untuk proyek WtE di Indonesia. MCP siap mendukung seluruh rantai penanganan limbah. Mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi.

“Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek WtE tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," ungkap Adrianus dalam rilis yang disiarkan pada Rabu (4/2/2026).


Baca Juga: Dorong Jamu Go Internasional, Kepala BPOM Resmikan Cafe Jamu Indonesia di PIK 2

Sebagai informasi, PT Multicrane Perkasa merupakan distributor alat berat dan solusi lifting modern di Indonesia yang mewakili sejumlah merek global. Antara lain Liebherr, Kato, Hiab, Sumitomo, dan Ammann. Solusi MCP menyasar sektor bisnis konstruksi, pertambangan, lifting, handling, konstruksi jalan dan waste to energy.

MCP menawarkan solusi WtE terintegrasi untuk mendukung proses pengelolaan dan konversi limbah menjadi energi secara efisien dan berkelanjutan. Solusi dari MCP mencakup aplikasi landfill dan waste handling dengan Liebherr Dozer, material handler, feeding system untuk pengelolaan limbah dengan Hiab 19000 XG dan electric handling solutions.

Pemerintah Indonesia sedang fokus mengembangkan program WtE sebagai bagian dari strategi nasional mengatasi persoalan sampah, sekaligus memperkuat bauran energi. Dengan timbunan sampah nasional yang kini melampaui 189.000 ton per hari, proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular serta ketahanan energi.

Sejalan dengan itu, sejumlah proyek WtE dan Refuse-Derived Fuel (RDF) mulai dikembangkan di berbagai daerah. Menurut Adrianus, keberhasilan proyek WtE tidak hanya bergantung pada teknologi pembangkit atau tungku pembakaran, melainkan juga pada sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut.

Tanpa sistem alat berat yang tepat, proyek WtE berisiko mengalami feeding yang tidak stabil, downtime tinggi, serta lonjakan biaya operasional yang berdampak langsung pada kelayakan ekonomi proyek. Adapun, salah satu proyek yang saat ini berjalan adalah WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang sudah berjalan sejak Juli 2025.

Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand memperlihatkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi turut ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan. Lebih lanjut, Adrianus menjelaskan dari sisi feeding limbah, MCP menghadirkan solusi berbasis crane, Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol.

Baca Juga: Gihon Telekomunikasi (GHON) Bakal Kerjasama dengan Surge dan MyRepublic

Saat ini, dua unit Hiab telah ditempatkan untuk mendukung operasional proyek di Sukabumi, sebagai bagian dari penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel. Sistem feeding berbasis electric memungkinkan operasi yang lebih stabil, menekan biaya operasional harian, serta mengurangi risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime.

Sedangkan untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty. Unit ini memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu, mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan dalam satu fasilitas, serta menjaga konsistensi feeding ke bunker atau conveyor dalam jangka panjang.

"Melalui penempatan dua unit Hiab di Sukabumi serta dukungan material handler Liebherr LH 40, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Adrianus.

Lewat pendekatan tersebut, peran perusahaan alat berat dalam proyek WtE tidak lagi terbatas sebagai pemasok unit, tetapi sebagai penyedia sistem operasional terintegrasi. "Seiring meningkatnya komitmen pemerintah terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, keberadaan mitra industri yang memahami karakter limbah Indonesia menjadi faktor penentu agar proyek WtE tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga layak secara operasional dan ekonomi jangka panjang," tandas Adrianus.

Selanjutnya: 9 Hari Ditawarkan, ORI029 Telah Terjual Rp 4,97 Triliun

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (5/2), Hujan Amat Deras di Provinsi Berikut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News