Multifinace pasang strategi tekan kredit macet



JAKARTA. Berkah bulan Ramadan dan Idul Fitri memang terasa bagi perusahaan pembiayaan. Tapi, perusahaan multifinance mengantisipasi potensi kenaikan kredit macet pasca Lebaran.

PT Mandiri Tunas Finance (MTF), misalnya, menilai tantangan menekan laju non performing loan (NPL) tahun ini lebih berat. Soalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat.

Meski begitu, Harjanto Tjitohardjojo, Direktur MTF, menegaskan, perusahaannya akan menjaga agar rasio NPL yang saat ini 1,2% tak melonjak tinggi. "Mungkin akan naik sedikit selepas hari raya, tapi kami tekan lagi supaya di akhir tahun kembali ke kisaran 1,2%," katanya, (28/6).


MTF bakal mengandalkan Divisi Collecting guna menekan laju rasio kredit macet yang biasa terjadi selepas Idul Fitri.

Untuk meningkatkan kinerja, MTF menggelar kontes khusus di divisi tersebut. Tujuannya, papar Harjanto, agar setiap tim di Divisi Collection berlomba -lomba memberikan kinerja terbaiknya. Tim yang berkinerja baik bakal diganjar penghargaan.

PT Citra Tirta Mulia alias Citifin Multi Finance Syariah juga berupaya menekan rasio kredit acet yang biasanya terjadi selepas Lebaran. Perusahaan pembiayaan murni syarah ini menyiapkan strategi khusus untuk mendorong nasabah membayar angsuran lebih cepat.

Yulian Ma'mun, Sekretaris Perusahaan Citifin, mengatakan, perusahaannya menawarkan diskon cicilan kepada nasabah, khusus di bulan puasa ini. Potongan itu diberikan bagi nasabah yang membayar sebelum jatuh tempo.

Diskon juga bakal diberikan kalau nasabah membayar minimal untuk dua bulan ke depan sekaligus. "Ini dilakukan untuk mendorong kesadaran nasabah dalam membayar angsuran," ujar Yulian.

Melalui strategi ini, Yulian optimistis, rasio NPL Citifin sehabis Lebaran bisa diredam. Saat ini, NPL Citifin berada di angka 1,3%. "Mungkin tetap ada kenaikan, tapi masih akan di bawah 1,5%," katanya.

PT Al Ijarah Indonesia Finance (Alif) pun menyiapkan strategi menangkal kenaikan NPL lebih tinggi. Alif lebih selektif menyalurkan kredit selama bulan puasa. Khususnya untuk konsumen di segmen sepeda motor.

Iman Pribadi, Direktur Utama Alif, menyebutkan, konsumen segmen motor memiliki risiko kredit macet lebih besar. Ini tak lepas dari kemampuan ekonomi yang lebih kecil. "Jadi, kami rem dulu di sepeda motor selama puasa ini," ujar Iman.

Saat ini NPL Alif mencapai 3,4%. Sebagian besar kredit seret tersebut berasal dari nasabah kendaraan roda dua.

Menurut Imam, nasabah dan pasar motor, merupakan segmen yang paling rentan dengan kondisi perekonomian yang kini lesu darah. Sehingga, sangat wajar kalau segmen tersebut harus mendapatkan perhatian lebih besar ketimbang di roda empat.

Sebagai gantinya, Alif lebih fokus menggarap kredit roda empat, baik baru maupun seken. Selain nilai pembiayaannya lebih besar, tingkat risikonya pun jauh lebih baik. Dengan strategi ini, Iman yakin rasio kredit macet Alif bisa ditekan, meski potensi kenaikannya tetap ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan