Multifinance Optimistis Target Porsi Pembiayaan Produktif Berpeluang Tercapai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan porsi penyaluran pembiayaan multifinance ke sektor produktif sebesar 46%-48% pada 2026-2027. Namun, angkanya masih di bawah target, yakni 44,47% terhadap total penyaluran pembiayaan industri per Juni 2026. Adapun pembiayaan industri mencapai Rp 511,26 triliun per Juni 2026.

Sejumlah perusahaan multifinance turut angkat bicara mengenai target tersebut. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) melihat peluang untuk mencapai target tersebut masih terbuka, meskipun tantangannya cukup besar di tengah dinamika perekonomian saat ini. 

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan peluang itu tercermin dari sejumlah sektor produktif, khususnya UMKM dan perdagangan, yang masih menunjukkan potensi pertumbuhan yang baik. Dengan demikian, tetap menjadi sumber peluang bagi industri pembiayaan.


Baca Juga: Restrukturisasi Utang BUMN Karya Berpotensi Tekan Laba Himbara

"Kebutuhan pelaku usaha terhadap modal kerja maupun pembiayaan investasi diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan pembiayaan," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Oleh karena itu, Ristiawan menerangkan dalam mendorong peningkatan porsi pembiayaan sektor produktif, pihaknya mengedepankan strategi digitalisasi untuk menghadirkan proses cepat dengan simplifikasi dokumen, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang prudent. 

"Dengan pendekatan tersebut, kami berharap pertumbuhan pembiayaan dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa mengesampingkan kualitas pembiayaan," ujarnya.

Terkait kinerja, CNAF membukukan total penyaluran pembiayaan baru pada sektor produktif mencapai Rp 1,1 triliun per Juni 2026. Nilainya meningkat 22%, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 904 miliar. 

Ristiawan menyampaikan pembiayaan sektor produktif tersebut berkontribusi sebesar 30% terhadap total penyaluran pembiayaan baru perusahaan hingga Juni 2026 yang tercatat senilai Rp 3,7 triliun.

Baca Juga: El Nino Mengancam Program Asuransi Usaha Tani Padi

Senada, PT Astra Sedaya Finance atau yang dikenal sebagai Astra Credit Companies (ACC) menilai peluang untuk meningkatkan porsi pembiayaan sektor produktif tetap terbuka ke depannya. Namun, EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo mengatakan pencapaiannya masih akan dipengaruhi berbagai faktor, seperti perkembangan kondisi ekonomi, permintaan pembiayaan, serta aktivitas dunia usaha. 

Untuk mendorong kinerja pembiayaan produktif, Riadi menerangkan pihaknya akan terus mengoptimalkan kerja sama dengan mitra usaha, memperluas akses pembiayaan, serta menghadirkan solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. 

"Hingga akhir tahun, pembiayaan sektor produktif diperkirakan tetap memiliki peluang untuk berkembang. Hal itu seiring adanya kebutuhan dunia usaha, dengan tetap memperhatikan kondisi perekonomian dan penerapan prinsip kehati-hatian," ucapnya kepada Kontan, Kamis (6/8).

Per Juni 2026, Riadi menyebut porsi pembiayaan sektor produktif ACC tercatat sebesar 37% dari total portofolio pembiayaan. Adapun total pembiayaan perusahaan per Juni 2026 mencapai Rp 23 triliun.

Sementara itu, PT Mandiri Utama Finance (MUF) memandang permintaan pembiayaan sektor produktif diperkirakan akan terus bertumbuh ke depannya, seiring meningkatnya aktivitas dunia usaha dan kebutuhan pembiayaan investasi maupun modal kerja. 

"Meski demikian, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan bisnis berjalan selaras dengan kualitas pembiayaan," ujar Plt Direktur Utama MUF Dapot Parasian Sinaga kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Ke depannya, Dapot menyampaikan MUF akan terus memperkuat pembiayaan sektor produktif melalui pengembangan kerja sama dengan pelaku usaha serta memperluas sinergi dengan ekosistem Bank Mandiri untuk memperluas basis pelanggan, sekaligus memastikan MUF memiliki sumber pendanaan yang kuat.

Lebih lanjut, Dapot menerangkan kinerja pembiayaan sektor produktif MUF menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga Juli 2026, pembiayaan sektor produktif tumbuh sebesar 34% secara Year on Year (YoY).  Nilainya berkontribusi 28% terhadap total pembiayaan baru MUF per Juli 2026.

Di sisi lain, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman optimistis peluang industri multifinance untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan ke sektor produktif masih terbuka ke depannya. 

Hal itu sejalan dengan arah kebijakan dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perusahaan Pembiayaan 2024–2028. Dia juga mendorong multifinance untuk terus mengoptimalkan penyaluran pembiayaan pada sektor produktif. 

"Khususnya, pada segmen usaha yang memiliki prospek pertumbuhan, dengan tetap menerapkan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Jumat (7/8/2026).

Sementara itu, OJK sempat menyampaikan terdapat sejumlah tantangan yang dirasakan multifinance dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Agusman mengatakan salah satu tantangannya berupa penguatan kualitas kredit debitur. 

"Selain itu, pengelolaan risiko yang sejalan dengan prinsip kehati-hatian dan pelindungan konsumen," ungkapnya.

Oleh karena itu, Agusman menerangkan perusahaan multifinance perlu terus memperkuat kapasitas penilaian kredit, tata kelola, dan manajemen risiko. Dengan demikian, penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News