Multifinance Perkuat Strategi Hadapi Persaingan Bank di Pembiayaan Kendaraan Listrik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pertumbuhan signifikan pada penyaluran pembiayaan kendaraan listrik multifinance.

Per Juli 2026, OJK mencatat penyaluran pembiayaan kendaraan listrik di industri multifinance mencapai Rp 25,49 triliun per Juli 2026 atau tumbuh sebesar 37,84% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Namun tengah pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance, sejumlah bank juga menunjukkan kinerja positif pada segmen ini.


Sebagai contoh, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pembiayaan kendaraan listrik sebesar Rp 574 miliar hingga Juli 2026. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 9% terhadap total pembiayaan kendaraan atau BSI OTO. 

Selain itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pembiayaan kendaraan listrik telah mencapai sekitar Rp 4 triliun hingga semester I-2026 atau meningkat 25% secara tahunan.

Pengamat Industri Pembiayaan, Jodjana Jody menilai perkembangan pembiayaan kendaraan listrik oleh perbankan berpotensi berkompetisi langsung dengan industri multifinance.

Menurutnya, bank memiliki keunggulan berupa basis nasabah yang sudah terbentuk sehingga dapat menawarkan persetujuan kredit dan bunga khusus kepada nasabah dengan profil prima.

Kondisi tersebut membuat multifinance perlu mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki, salah satunya melalui fleksibilitas dalam menawarkan produk pembiayaan dan kedekatan dengan ekosistem otomotif.

Baca Juga: BCA Catat Pembiayaan Kendaraan Listrik Tumbuh 25%, Minat Masyarakat Mulai Bergeser

"Multifinance bagaimana pun sangat fleksibel dan lebih customer friendly, ini yang harus ditonjolkan. Selain itu multifinance biasanya memiliki hubungan khusus dengan dealer dan prinsipal merek kendaraan dan ini bisa dikapitalisasi," ujarnya kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).

Salah satu perusahaan yang memperkuat strategi tersebut adalah PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF).

Hingga Agustus 2026, pembiayaan kendaraan listrik CNAF telah mencapai sekitar Rp1,41 triliun atau tumbuh 68% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp842 miliar.

Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman menilai perkembangan pembiayaan kendaraan listrik di perbankan merupakan bagian dari semakin terbentuknya ekosistem kendaraan listrik. Namun, peningkatan jumlah pemain juga membuat persaingan di industri pembiayaan makin ketat.

“Tentunya bagi industri multifinance, kondisi tersebut mendorong persaingan semakin dinamis,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).

Oleh karena itu, CNAF menerapkan sejumlah strategi untuk menghadapi kondisi ini.

Beberapa di antaranya adalah dengan menawarkan solusi pembiayaan yang cepat, mudah, dan sederhana, sembari tetap menjaga penerapan manajemen risiko secara prudent.

Dari sisi pricing, CNAF berupaya menjaga produk pembiayaan tetap kompetitif dengan tetap mempertimbangkan risiko dan kesehatan portofolio.

Perusahaan juga memperkuat kerja sama dengan dealer dan mitra, meningkatkan kualitas layanan, memanfaatkan digitalisasi dalam proses pembiayaan, serta mengembangkan produk sesuai kebutuhan konsumen.

Selain itu, CNAF akan memanfaatkan sinergi dengan ekosistem induknya, yaitu Bank CIMB Niaga untuk memperkuat proposisi pembiayaan dan memberikan nilai tambah bagi nasabah.

Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik CNAF Naik 68% Jadi Rp 1,41 Triliun per Agustus 2026

Sementara secara industri, Jody juga menilai kemampuan menawarkan bunga kompetitif juga menjadi salah satu faktor penting bagi multifinance untuk menghadapi persaingan dengan perbankan. Namun, tidak semua perusahaan multifinance bisa menerapkan strategi ini.

“Tipikal yang bisa begini adalah multifinance besar yang punya sumber pendanaan bervariasi dan tidak tergantung dari bank saja," katanya.

Meski demikian, multifinance dinilai masih memiliki ruang untuk memperbesar pembiayaan kendaraan listrik. Menurut Jody, perusahaan multifinance saat ini masih agresif masuk ke segmen tersebut sembari mempelajari karakteristik risikonya.

Salah satu perhatian adalah nilai jual kembali kendaraan listrik yang masih berkembang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi nilai aset ketika terjadi penarikan kendaraan dan pada akhirnya berdampak terhadap kualitas pembiayaan.

Selain itu, biaya perbaikan kendaraan listrik setelah kecelakaan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya perlindungan asuransi pada periode berikutnya.

CNAF sendiri melihat prospek pembiayaan kendaraan listrik masih terbuka seiring perkembangan pasar dan ekosistem kendaraan listrik. Pertumbuhan segmen tersebut tidak hanya ditentukan oleh harga kendaraan dan skema pembiayaan, tetapi juga perkembangan infrastruktur pendukung, pilihan model kendaraan, pemahaman konsumen, serta kebijakan pemerintah.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman juga mengaku optimis dengan prospek pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance ke depannnya.

Hal ini sejalan dengan perkembangan pembiayaan oleh multifinance pada segmen ini yang terus mengalami pertumbuhan.

Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik Berpotensi Tumbuh, Berikut Tantangan yang Membayangi

Sebagai gambaran, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik industri multifinance tumbuh 32,05% secara tahunan, dengan nilai mencapai Rp 23,39 triliun per April 2026.

Kinerjanya pun makin bertumbuh. Per Mei 2026, tumbuh sebesar 32,48% dengan nilai mencapai Rp 23,94 triliun. Lalu, posisi per Juni 2026 tumbuh 34,70%, dengan nilai mencapai Rp 24,60 triliun.

Selain itu, wacana adanya wacana pemberian insentif motor listrik juga berpotensi mendorong pembiayaan kendaraan listrik ke depannya.

"Sebab, membuat harga motor listrik lebih terjangkau bagi masyarakat," ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Senin (14/9/2026).

Oleh karena itu dengan persaingan bank yang diperkirakan akan makin kuat, multifinance dituntut tidak hanya mengandalkan pricing saja, tetapi juga mengoptimalkan fleksibilitas, jaringan dealer dan prinsipal, kualitas layanan, serta teknologi untuk mempertahankan daya saing di pasar pembiayaan kendaraan listrik.

Baca Juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik Makin Dilirik Bank, BSI dan BCA Catat Pertumbuhan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News