Multivision (RAAM) Realisasikan Capex Rp 8,4 Miliar, Mayoritas untuk Ekspansi Bioskop



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 8,4 miliar pada semester I-2026. Mayoritas belanja modal tersebut dialokasikan untuk peralatan bioskop, seiring upaya perseroan memperluas jaringan layar dan memperkuat bisnis hiburan.

Direktur Keuangan PT Tripar Multivision Plus Tbk Vikas Chand Sharma mengatakan, renovasi bioskop di Magelang dan Sidoarjo masih berlangsung hingga akhir Juni 2026. Progres renovasi masing-masing telah mencapai 87% dan 80%.

"Realisasi capex semester I-2026 sebesar Rp 8,4 miliar, hampir seluruhnya untuk peralatan bioskop," ujarnya kepada Kontan beberapa waktu lalu.


Baca Juga: Tak Hanya BEV, Kemenperin Usulkan Insentif Mobil Hybrid hingga REEV

Di samping itu, RAAM telah membuka lokasi bioskop baru di Batulicin, Kalimantan Selatan, dan menargetkan pembukaan lokasi berikutnya di Singaraja, Bali. Perseroan membidik penambahan dua hingga tiga lokasi bioskop setiap tahun.

Sebelumnya, Pendiri sekaligus Presiden Direktur RAAM Ram Jethmal Punjabi menyebutkan, perusahaan merencanakan penambahan sekitar empat lokasi bioskop sepanjang 2026. Namun, dua lokasi di antaranya berpotensi bergeser ke 2027 karena perusahaan masih mempertimbangkan ketersediaan lahan dan kesesuaian lokasi.

Ram mengatakan, ekspansi bioskop perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi pasar di setiap wilayah. Selain ketersediaan lahan, perusahaan turut memperhitungkan jumlah penduduk, pendapatan per kapita, dan kemampuan masyarakat dalam membiayai kebutuhan hiburan.

Dari sisi kebutuhan investasi, pembangunan bioskop dengan empat layar dapat membutuhkan dana sekitar Rp 10 miliar. Sementara itu, kebutuhan investasi per layar berada di kisaran Rp 2,5 miliar hingga Rp 4 miliar.

Ekspansi jaringan bioskop menjadi salah satu langkah RAAM untuk menangkap potensi pertumbuhan industri perfilman nasional. Pasalnya, peningkatan produksi film belum diimbangi dengan ketersediaan layar bioskop yang memadai.

Ram sebelumnya memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 10.000 layar bioskop, sedangkan jumlah yang tersedia saat ini baru sekitar 2.600 layar. Menurut dia, keterbatasan infrastruktur penayangan menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan peredaran film nasional.

Baca Juga: Industri Smartphone Hadapi Krisis Memori, Begini Strategi HONOR

Di tengah pengembangan jaringan bioskop, RAAM juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026. Perseroan membukukan pendapatan Rp 128,6 miliar, meningkat 14,7% secara tahunan atau year on year (YoY).

Segmen film menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp 74,4 miliar, tumbuh 30,4% YoY. Kinerja tersebut didorong oleh film Cerita Lila yang meraih lebih dari satu juta penonton, performa Sengkolo 2 di Malaysia, serta monetisasi katalog film.

Adapun bisnis bioskop menyumbang 30,9% dari total pendapatan RAAM pada semester I-2026, yang terdiri dari penjualan tiket sebesar 21,9% dan makanan serta minuman atau food and beverage (F&B) sebesar 8,9%. Sementara itu, kontribusi sinetron mencapai 5,2%, Pay TV sebesar 4,2%, dan digital sebesar 1,9%.

Pada semester II-2026, RAAM berencana melanjutkan penayangan film, monetisasi katalog, dan pembukaan lokasi bioskop baru. Perseroan menyatakan target pertumbuhan sepanjang 2026 akan disampaikan melalui keterbukaan informasi.

Baca Juga: Permintaan Kapal Tambang Turun 60%, Galangan Beralih ke Tanker BBM

Selain pasar domestik, RAAM turut mengembangkan bisnis konten ke pasar internasional. Film Sengkolo 2 mencatatkan kinerja di atas ekspektasi di Malaysia. Perseroan juga menjual konten kepada pembeli di Malaysia, Thailand, dan platform streaming global.

RAAM juga memiliki jaringan bioskop di Laos dan Kamboja melalui kemitraan dengan Major Platinum Cineplex. Perseroan terus menjajaki peluang ekspansi ke pasar lain, dengan informasi resmi mengenai rencana tersebut akan disampaikan melalui keterbukaan informasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News