Mundurnya Perry Warjiyo Picu Ketidakpastian, Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.150



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan domestik. 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan ketidakpastian terkait siapa sosok pengganti gubernur BI yang definitif menjadi salah satu faktor yang bisa memengaruhi investor.

“Selama masih bersifat sementara belum definitif maka spekulasi soal kebijakan moneter masih berlanjut. Pasar akan menebak apakah independensi BI akan menurun, kemudian arah suku bunga apakah dovish atau hawkish, hingga sosok definitif (pengganti gubernur BI) apakah keponakan Presiden,” ujar Bhima kepada Kontan, Senin (27/7/2026).


Baca Juga: Dana Asing Tinggalkan Emerging Market, Indonesia Masih Tertekan

Ketidakpastian tersebut juga dinilai dapat memengaruhi arus modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), maupun pasar saham.

Dari sisi nilai tukar, Bhima memperkirakan rupiah masih berisiko melemah dalam beberapa pekan ke depan. Terpantau, setelah pengumuman mundurnya Perry Warjiyo, rupiah ditutup melemah bahkan menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 18.009 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (27/7), melemah 0,26% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.963 per dolar AS.

Bhima pun memproyeksikan kurs rupiah berpotensi menembus level Rp 18.150 per dolar AS dalam jangka waktu yang dekat.

"Rupiah berisiko menembus level Rp 18.150 dalam beberapa pekan ke depan. Selain karena mundurnya Gubernur BI, juga disebabkan kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo pemerintah," jelasnya.

Bhima juga menilai pergantian kepemimpinan di BI dapat memengaruhi persepsi risiko investor global terhadap Indonesia. Hal itu berpotensi tercermin pada kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia apabila pasar menilai independensi bank sentral melemah. Saat ini CDS 10 tahun Indonesia berada di level 146,72, naik 20,8% YoY.

"Karena BI selama ini dipercaya menjadi penyeimbang fiskal yang agresif. Kalau BI tidak lagi jadi penyeimbang maka beban fiskal akan masuk ke sisi moneter melalui kenaikan profil risiko utang di CDS," katanya.

Sementara itu, terkait arah kebijakan suku bunga, Bhima berpandangan ruang kenaikan suku bunga acuan akan lebih terbatas dibandingkan pada era Perry Warjiyo.

"Proyeksi suku bunga masih sangat terbatas, sehingga tidak ada lagi kenaikan hingga 50-75 basis poin seperti era Perry. Hati-hati karena Presiden Prabowo ingin suku bunga tetap rendah untuk mendukung penyaluran kredit ke program prioritas," pungkas Bhima.

Baca Juga: Pengunduran Diri Perry Warjiyo Bikin Pasar Wait and See, Ini Proyeksi Rupiah dan IHSG

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News