Mungkinkah Surplus Solar Dikonversi Jadi Avtur? Begini Kata Ahli Teknik Perminyakan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menyoroti rencana pemerintah mengalihkan potensi surplus solar menjadi avtur, usai menjalankan program mandatori biodiesel 50% (B50).

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo mengatakan, pemanfaatan kelebihan pasokan minyak solar tersebut tepat dilakukan demi mengoptimalkan kapasitas energi domestik. Menurutnya, kebijakan ini harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur pengolahan di sisi hulu. 

"Langkah startegis yang baik dan perlu didukung dalam meningkatkan kemandirian energi nasional," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (12/7/2026).


Baca Juga: Badan Usaha Tambang Dapat Tugas Amankan DMO Batubara 212 Juta Metrik Ton, untuk Apa?

Hadi menerangkan, konversi solar menjadi avtur memerlukan proses teknis lanjutan pada fasilitas pengolahan minyak bumi agar menghasilkan spesifikasi yang sesuai standar penerbangan. 

Dia bilang, secara teori solar bisa dikonversi menjadi avtur dengan pengolahan tahap lanjut. Dalam praktiknya harus dilakukan di kilang modern seperti Refinery Development Master Plan (RDMP) Balilpapan.

Hadi menuturkan, pengaturan produksi pada kilang modern tersebut nantinya akan difokuskan pada pengelolaan kolom distilasi untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak secara lebih spesifik.

Kilang modern tersebut akan mengatur kolom destinasi sehinga fraksi avtur lebih banyak daripada bensin dan solar. Menurutnya, ini penting untuk menjamin volume output.

"Tentu akan dicarakan crude dengan speksifikasi fraksi ringan yang lebih banyak," tuturnya.

Hadi menambahkan, saat ini, RDMP Balikpapan dan Kilang Cilacap secara speksifikasi teknis mampu melakukan itu. Ia memproyeksikan proses tersebut memerlukan penyesuaian infrastruktur kilang dengan nilai pendanaan tertentu. 

"Estimasi kasar untuk modifikasi kolom refraksi bervariasi sekitar US$ 15 juta," imbuhnya.

Baca Juga: Potensi Surplus Solar, Pemerintah Berencana Manfaatkan Menjadi Avtur

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut, potensi kelebihan pasokan solar didorong oleh peningkatan kapasitas produksi pada fasilitas pengolahan minyak milik negara. 

"Memang di dalam hitungan kita dengan Pertamina, ke depan mungkin akan terjadi surplus, kenapa? Karena dengan optimalisasi terhadap kilang kita yang ada di Kalimantan Timur itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter," ujarnya di rest area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7/2026).

Bahlil mengungkapkan, kelebihan pasokan solar tersebut terbilang cukup besar sehingga memerlukan penyerapan yang tepat pada industri hilir. Berdasarkan kalkulasi sementara yang sedang digodok pemerintah bersama dengan PT Pertamina, angka surplus tersebut diperkirakan bisa mencapai jutaan kiloliter per tahun.

"Maka akan terjadi surplus, surplusnya itu diperkirakan, ini lagi dalam hitungan diperkirakan ya, di antara 3 sampai 4 juta," ungkapnya.

Untuk memanfaatkan kelebihan pasokan tersebut, pemerintah berencana mengonversi solar menjadi bahan bakar penerbangan karena adanya kemiripan karakteristik bahan baku. 

"Tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur. Karena bahan baku Avtur itu hampir sama dengan solar juga, dari solar juga," kata Bahlil.

Baca Juga: Pasar Keamanan Siber Indonesia Diproyeksi Tembus US$ 6,7 Miliar pada 2034

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News