KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga komoditas energi menunjukkan arah yang berbeda di awal 2026. Harga gas alam global justru melemah meskipun permintaan komoditas energi di tengah cuaca dingin biasanya meningkat, sementara harga batubara cenderung bertahan stabil dengan koreksi terbatas. Melansir Trading Economics pukul 16.25 WIB, harga gas alam berada di level US$ 3,2 per MMBtu atau menurun 6,5% secara harian dan 13,4% Ytd. Sementara itu harga batu bara di US$ 115,6 per ton atau menurun 0,3% secara harian tapi naik 7,53% secara Ytd.
Baca Juga: Wira Global Solusi (WGSH) Akan Bagikan Saham Bonus Rp 26,75 Miliar Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, secara historis harga gas alam memang cenderung meningkat menjelang musim dingin di Amerika Utara. Namun, ketika musim dingin telah berlangsung, pergerakan harga gas lebih banyak ditentukan oleh ramalan cuaca jangka pendek. “Setelah mengalami cuaca dingin yang ekstrem belakangan ini, cuaca diperkirakan akan membaik atau lebih hangat alam,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (9/2/2026). Di sisi lain, harga batubara masih mendapat dukungan dari peningkatan permintaan energi di China, terutama dari sektor industri dan kebutuhan pemanas (heating). Permintaan tersebut muncul di tengah menurunnya pasokan energi hydro, sehingga konsumsi batubara kembali meningkat. Untuk prospek sepanjang 2026, Lukman menilai harga gas alam pada dasarnya bergerak dalam rentang yang relatif stabil sepanjang tahun dan biasanya melonjak menjelang musim dingin.
Baca Juga: Big Banks Kompak Melemah hingga Penutupan Bursa Senin (9/2), BBCA Turun Terdalam Namun, harga gas tetap sangat volatil apabila terjadi gangguan pasokan atau lonjakan permintaan secara mendadak. Sementara itu, pergerakan harga batubara akan sangat bergantung pada permintaan dari negara konsumen utama seperti China dan India. Meski demikian, Lukman memandang ruang kenaikan harga batubara relatif terbatas. “Saya melihat batubara akan sulit menembus level US$ 115 - US$ 120 per ton. Level tersebut menjadi ceiling, dan idealnya harga batubara kembali ke kisaran US$ 100 per ton,” ujarnya. Terkait peluang investasi, Lukman mengingatkan bahwa volatilitas tinggi pada gas alam membuat komoditas ini kurang ramah bagi investor awam. Pasar gas alam dinilai relatif kecil dengan pergerakan harga yang sangat tajam, serta bersifat spekulatif karena sangat dipengaruhi faktor alam yang sulit diprediksi. Sebaliknya, batubara dinilai memiliki karakter pergerakan yang lebih dapat dipantau karena didorong oleh permintaan riil dari sektor energi dan industri, meskipun potensi kenaikannya juga terbatas.
Untuk semester I 2026, Lukman memproyeksikan harga gas alam berada di kisaran US$ 3 - US$ 3,5 sementara harga batubara diperkirakan bergerak di rentang US$ 100 - US$ 105 per ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News