KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang meraih cuan dari pembagian dividen emiten dinilai masih terbuka di tengah kondisi pasar yang volatil. Terlebih, masih banyak emiten yang belum memasuki jadwal cum date dividen.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, periode April hingga Mei menjadi momentum penting karena banyak emiten, termasuk BUMN, akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan. “Peluang investasi pada emiten-emiten BUMN masih menarik, apalagi dengan adanya momentum RUPS,” ujarnya kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Harga Minyak Kembali ke Level Krusial US$ 100 Per Barel Menurut Nafan, investor perlu mencermati kebijakan
dividend payout ratio (DPR), terutama pada sektor-sektor yang secara historis memiliki rasio pembagian dividen tinggi. Ia menilai sektor perbankan dan energi masih menjadi yang paling prospektif. Emiten di sektor ini cenderung menjaga DPR tetap tinggi guna mempertahankan kepercayaan investor. “Perbankan dan energi itu yang paling
favorable karena biasanya DPR-nya tinggi,” tambahnya. Nafan juga menyoroti potensi
dividend yield menarik dari saham berbasis komoditas seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang berpeluang mencatatkan yield dua digit. Selain itu, valuasi saham perbankan saat ini dinilai mulai menarik karena berada pada level
price to book value (PBV) yang relatif
undervalued. Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, saham yang belum memasuki
cum date masih menarik untuk strategi
dividend capture. “Menjelang
cum date, harga saham umumnya mengalami penguatan seiring meningkatnya permintaan investor, sehingga membuka peluang kombinasi antara
capital gain dan dividen,” jelasnya. Namun, ia mengingatkan agar investor tetap selektif, mengingat sebagian sentimen tersebut sudah tercermin dalam harga saham.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Imbas Kebuntuan AS–Iran, Ini Strategi Investor Hadapi Volatilitas Dari sisi strategi, investor disarankan melakukan akumulasi secara bertahap sebelum cum date, terutama saat terjadi koreksi harga. Selain itu, disiplin dalam menentukan waktu keluar juga penting, mengingat harga saham biasanya mengalami penyesuaian setelah ex-date. Untuk menghindari
dividend trap, investor perlu memperhatikan sejumlah indikator fundamental seperti
payout ratio yang sehat, tren pertumbuhan laba yang konsisten, serta arus kas operasional yang kuat. “Yield tinggi yang berasal dari penurunan harga saham justru bisa menjadi sinyal risiko,” ujar Hari. Dari sisi rekomendasi, Hari menilai saham dengan
dividend yield tinggi seperti ADMF, ARNA, dan CNMA masih menarik karena menawarkan imbal hasil di atas 6%. Selain itu, CMRY dan ROTI juga layak dicermati karena memberikan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan dividen. Sementara itu, saham seperti AVIA, NISP, dan SIDO dinilai kurang optimal untuk strategi dividend play jangka pendek karena
yield yang relatif lebih rendah. Secara keseluruhan, strategi investasi dividen tetap menarik, baik untuk jangka pendek melalui
dividend capture maupun jangka menengah dengan memilih emiten berfundamental kuat dan konsisten membagikan dividen.
Baca Juga: Pangsa Pasar Tergeser Pasar EV, Begini Rekomendasi Saham Astra (ASII) Berikut estimasi dividend yield sejumlah saham: 1. AVIA: 3,30% 2. CMRY: 4,52% 3. NISP: 3,46% 4. SIDO: 2,91% 5. ARNA: 6,43% 6. NIKL: 1,80% 7. BNLI: 2,92%
8. ROTI: 5,72% 9. ADMF: 6,00% 10. CNMA: 6,36% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News