Musim Kemarau Lebih Dini, BI Waspadai Inflasi Volatile Food Bertahan Meningkat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mewaspadai inflasi volatile food yang diperkirakan bertahan meningkat ke depan.

Sebagaimana diketahui, inflasi ini berasal dari kelompok bahan makanan dengan harga yang bergejolak, sering kali dipengaruhi oleh kejutan pasokan (supply shocks) seperti gangguan cuaca, musim panen, atau kelangkaan distribusi.

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menyampaikan, meningkatnya inflasi volatile food tersebut perlu menjadi perhatian.


Baca Juga: Bank Indonesia (BI) Targetkan Inflasi Volatile Food Tetap di Bawah 5% pada 2026

“Ada satu hal lagi yang perlu mendapatkan perhatian yaitu di volatile food ataupun harga dari barang-barang yang bergejolak,” tutur Aida dalam konferensi pers, Selasa (17/3/2026).

Ia memperkirakan, inflasi volatile food ini kemungkinan meningkat sejalan dengan data BMKG yang menyatakan adanya kemungkinan musim kemarau yang lebih kering dan datangnya lebih dini.

“Jadi ini perlu kita perhatikan khususnya nanti untuk komoditas hortikultura seperti cabai-cabaian kemudian jagung maupun beras,” ungkapnya.

Baca Juga: BI: Inflasi Volatile Food Meningkat Imbas Kenaikan Harga Pangan dan Pupuk Global

Untuk diketahui, pada Februari 2026, inflasi volatile food tercatat sebesar 2,5% secara bulanan month to month (mtm) dan 4,64% year on year (yoy). Inflasi kelompok ini meningkat akibat kenaikan harga pangan dan pupuk global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News