Musim Konsolidasi Bank Syariah Bakal Terjadi, Ini Prospek Industri Perbankan Syariah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis perbankan syariah tahun ini dapat terdongkrak dengan adanya konsolidasi yang terjadi antar bank syariah maupun unit usaha syariah. Maklum, beberapa bank saat ini tengah menyiapkan proses pemisahaan unit usaha syariah karena kewajiban.

Seperti diketahui, penetrasi bisnis bank syariah di tanah air saat ini memang tergolong kecil jika dibandingkan dengan populasi umat muslim. Di mana, pada 2023 sendiri penetrasi pembiayaan bank syariah di tanah air baru sekitar 8% berdasarkan data OJK.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan penyetaraan pengaturan antara perbankan syariah dengan bank konvensional. Salah satunya pengembangan produk yang khas untuk bank syariah.


Tak hanya itu, Dian bilang upaya paling penting untuk pengembangan industri perbankan syariah adalah konsolidasi. Seperti diketahui, saat ini sudah ada bank yang berencana melakukan merger untuk menjadi penyaing PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Sebut saja, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang tengah melakukan proses due diligence untuk mengakuisisi Bank Muamalat. Rencananya, Bank Muamalat akan digabung dengan unit usaha syariah milik BTN yang bisa menghasilkan aset lebih dari Rp 100 triliun.

Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan (ESG) Bank Syariah Meningkat Sepanjang Tahun 2023

Selain itu, Dian juga telah memberi tanda-tanda bahwa akan ada pesaing BSI lainnya dari sektor bank swasta. Di mana, ia sudah mendengar ada pembicaraan awal antara tiga hingga empat bank swasta yang akan menggabungkan unit syariahnya.

”Ada beberapa calon yang tentu kita mengharapkan akan menjadi merger yang cukup besar juga lah,” ujar Dian.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini telah menyiapkan proses spin off. Mengingat, aset CIMB Niaga telah mencapai Rp 62,74 triliun per 2023.

Hanya saja, Lani belum mau mengungkapkan rencana lebih lanjut terkait spin off tersebut. Ia hanya bilang saat ini akan tetap memenuhi kewajiban untuk spin off jika aset sudah melebihi Rp 50 triliun.

”Tetapi konsep office chanelling dengan UUS tanpa spin off menurut saya bisa memberikan push untuk tumbuh lebih cepat,” ujar Lani.

Selain itu, Lani menambahkan bahwa perlu adanya regulasi yang mendukung seperti insentif untuk memberikan minat lebih bagi perbankan dan investor. Di mana, itu bisa mendorong untuk segmen ini digarap secara lebih serius.

Di sisi lain, penggabungan bank syariah dari sektor swasta juga bisa terjadi dari BCA dan BTPN. Di mana, saat ini dua bank tersebut masing-masing memiliki bank syariah, walaupun asetnya masih kecil.

Terlebih, BCA juga telah memastikan tetap menjadi pemegang saham dari BTPN melalui rencana rights issue bank milik SMBC tersebut. Hanya saja, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja memastikan alasannya bakal tetap memegang 1% saham BTPN untuk memiliki interaksi dengan luar negeri.

Baca Juga: Bank Syariah Swasta Beraset Rp 200 Triliunan Akan Muncul, Simak Bocorannya

”BBCA sesekali memiliki kebutuhan interaksi dengan sejumlah negara, seperti Jepang, Korea, Thailand, dan Malaysia,” ujarnya dalam acara Mirae Asset Sekuritas (22/2).

Staf Peneliti IDEAS Shofie Azzahra melihat konsolidasi antar bank syariah ini bisa meningkatkan skala hingga perluasan jaringan dan jangkauan pasar. Hanya saja, itu bukan jadi satu-satunya solusi untuk memperbesar penetrasi bank syariah.

Ia bilang bank syariah tetap perlu melakukan inovasi produk dan layanan yang sesuai permintaan pasar. Serta melakukan ekspansi pasar untuk mengeksplorasi pasar baru.

”Perlu juga membangun aliansi atau kemitraan strategis dengan berbagai pihak untuk meningkatkan jaringan dan kapasitas,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari