MYRX restrukturisasi utang Rp 249 miliar



JAKARTA. PT Hanson International Tbk (MYRX) mendapatkan kelonggaran pembayaran utang dari dua kreditur. Mereka adalah PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA).

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2014 yang dirilis Selasa (23/12), MYRX mengklaim mendapatkan restu untuk merestrukturisasi utang Rp 249,92 miliar.

Rinciannya, utang Rp 200 miliar pada Bank Victoria melalui anak usahanya, PT Binadaya Wiramaju. Fasilitas kredit ini ditandatangani pada 25 April 2013 untuk keperluan pengembangan Binadaya.


Tenor fasilitas ini sebenarnya 12 bulan hingga 25 April 2014. Pada 2 Mei 2014, MYRX memperpanjang hingga 29 April 2015. "Pada 8 Desember 2014, Binadaya telah mendapatkan konfirmasi tertulis dari Bank Victoria menyatakan pinjaman diperpanjang," tulis Benny Tjokrosaputro, Direktur Utama MYRX, dalam laporan keuangan.

Sebagai gantinya, bunga Hanson naik menjadi 15% per tahun dari 12% per tahun. Untuk itu, MYRX menjaminkan tanah 198,5 hektar di Mekarsari dan Maja, Kabupaten Lebak, Banten.

Sementara utang Rp 49,92 miliar kepada Bank Mayapada diperoleh dari anak usahanya, PT De Petroleum International (DPI), pada 18 April 2011. Tenor pinjaman ini satu tahun dengan bunga 12% per tahun. Tenor terebut diperpanjang menjadi 13 April 2014. Tapi kala itu MYRX tak melunasi utang dan kembali memperpanjang hingga 13 April 2015 dengan bunga 15%.

"Pada 8 Desember 2014, pinjaman ini kembali diperpanjangan sampai 13 April 2016," tulis Benny. MYRX tak bisa melunasi utang lantaran menderita defisit Rp 1,15 triliun per 30 September 2014.

Manajemen MYRX sejatinya sudah menyusun rencana meminimalisir defisit keuangan. Caranya dengan akan meningkatkan efisiensi biaya pada bisnis pertambangan dan pengolahan limbah minyak.

Emiten ini juga mulai mengembangkan properti di Serpong Kencana dan Maja, Tangerang. MYRX juga sudah mendapatkan pesanan 500 unit rumah di dua kawasan tersebut. Bahkan manajemen MYRX mengklaim, ada institusi tertarik berniat memesan 1.000 unit rumah.

Tapi nyatanya, MYRX masih menderita rugi Rp 3,12 miliar. Ini karena penjualan bersih MYRX menurun 19,11% menjadi Rp 135,41 miliar.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana