Mythos, AI Penemu Celah Keamanan Siber yang Memikat Dunia, Bagaimana Indonesia?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Enam minggu sudah berlalu. Bank-bank besar Inggris masih belum bisa menyentuh Mythos.

Bukan judul film fiksi ilmiah, Mythos adalah model akal imitasi (AI) terbaru milik Anthropic, perusahaan AI asal Amerika Serikat yang juga membuat Claude. Model ini bukan aplikasi percakapan AI sehari-hari seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude sendiri. Mythos dirancang untuk mengerjakan satu tigas sangat spesifik, yaitu mencari celah keamanan tersembunyi di sistem perangkat lunak secara otonom, secara lebih cepat dan lebih dalam dari yang bisa dilakukan manusia.

Dan itulah yang membuat Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) Andrew Bailey gelisah.


"Ini belum terjadi, dan saya rasa hal ini agak tersangkut dalam proses dengan pemerintahan AS," kata Bailey kepada Bloomberg TV, Jumat (29/5), di sela konferensi perbankan sentral di Reykjavik, Islandia seperti dikutip Reuters.

"Mengapa prosesnya berbeda antara satu perusahaan dengan yang lain, saya tidak bisa menjelaskan itu kepada Anda."

Jika Anda masih bingung kenapa Bailey curcol seperti itu, lanjutkan membaca artikel ini.

Baca Juga: Kevin Warsh Berjanji Ikuti Tradisi Terbaik The Fed, Sambil Mencari Perubahan

Dimulai dari Sebuah Kebocoran

Cerita Mythos bermula dari kecelakaan. Akhir Maret 2026, kesalahan konfigurasi sistem manajemen konten Anthropic membuat draf blog tentang model baru ini tersebar ke publik.

Fortune salah satu media yang pertama melaporkannya: Anthropic tengah mengembangkan AI yang oleh perusahaannya sendiri disebut "by far the most powerful AI model" yang pernah mereka bangun. Model ini diklaim memiliki kemampuan keamanan siber yang jauh melampaui model-model sebelumnya.

Sebelum pengumuman resmi, muncul laporan media bahwa Anthropic secara diam-diam telah memperingatkan pejabat senior pemerintah AS bahwa model Mythos bisa membuat serangan siber skala besar "jauh lebih mungkin terjadi" di tahun 2026.

Pasar langsung bereaksi. Saham-saham perusahaan keamanan siber rontok dalam satu sesi perdagangan. Investor khawatir AI sekaliber Mythos bisa mendisrupsi seluruh industri keamanan siber konvensional.

Pada 7 April 2026, Anthropic resmi mengumumkan Mythos Preview lewat blog perusahaan, sekaligus meluncurkan Project Glasswing, sebuah program akses terbatas terhadap Mythos untuk sekitar 50 organisasi terpilih.

Mitra awalnya, masih berdasarkan laporan Fortune: Amazon Web Services, Apple, Broadcom, Cisco, CrowdStrike, Google, JPMorgan Chase, Microsoft, Nvidia, dan Linux Foundation. Anthropic menyiapkan kredit penggunaan senilai US$ 100 juta dan donasi US$ 4 juta untuk komunitas keamanan open-source.

Dari kalangan perbankan, hanya JPMorgan Chase yang masuk daftar awal. Belakangan, berdasarkan laporan S&P Global Market Intelligence, eksekutif Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan Bank of New York Mellon mengonfirmasi mereka juga sudah mendapatkan akses. Per awal Mei 2026, bank-bank di zona euro dan Inggris masih nihil.

Selang sebulan kemudian, Selasa (2/6), Anthropic mengumumkan ekspansi besar Project Glasswing: sekitar 150 organisasi baru dari lebih dari 15 negara resmi mendapatkan akses ke Claude Mythos Preview. Dalam satu langkah, jumlah mitra program itu berlipat empat, dari semula sekitar 50 menjadi hampir 200.

Baca Juga: Tuai Kritik dari Parlemen, Dana Persenjataan Trump US$ 1,8 Miliar Tidak Dilanjutkan

Angka yang Bicara Sendiri

Selama sebulan program berjalan sejak Project Glasswing diluncurkan, hasilnya mengejutkan. Dari lebih dari 23.000 kandidat kerentanan yang ditemukan di ribuan proyek perangkat lunak, sebanyak 6.202 tergolong bertingkat keparahan tinggi hingga kritis. Setelah verifikasi oleh enam firma riset keamanan independen, 1.726 dikonfirmasi sebagai celah nyata, dengan 1.094 di antaranya tergolong serius 

Contoh konkretnya: Cloudflare menemukan 2.000 bug, 400 di antaranya kritis. Mozilla memperbaiki 271 kerentanan di Firefox — sepuluh kali lebih banyak dibanding yang ditemukan menggunakan model Claude versi sebelumnya. Microsoft mengumumkan pembaruan keamanan mereka akan "terus membesar untuk beberapa waktu ke depan," sebagian karena bug yang ditemukan lewat Mythos Preview.

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan: celah berusia 27 tahun pada sistem operasi OpenBSD, dan kerentanan pada pustaka kriptografi WolfSSL (CVE-2026-5194, skor CVSS 9,1) yang memungkinkan penyerang memalsukan identitas situs web, termasuk situs perbankan, tanpa diketahui pengguna. Celah ini sudah ditambal setelah ditemukan.

Namun ada ironi yang mencolok dari laporan yang sama: dari total 530 celah kritis yang sudah diungkapkan kepada para pengelola perangkat lunak, baru 75 yang berhasil ditambal. Bottleneck-nya bukan lagi kemampuan menemukan — melainkan kapasitas manusia untuk memperbaiki.

Baca Juga: Menlu Rubio: AS Tidak Akan Menukar Keringanan Sanksi dengan Pembukaan Selat Hormuz

Hambatan dari Washington

Gubernur bank sentral Inggris Bailey sudah mengangkat isu ini jauh sebelum wawancara di Reykjavik.

Pada 14 April 2026 — berdasarkan laporan Reuters dan Bloomberg — Bailey berpidato di Columbia University, New York. Ia berkata: "Masuk akal untuk berpikir bahwa Anthropic mungkin telah menemukan cara untuk memecahkan seluruh dunia risiko siber." Pernyataan itu langsung menjadi headline di seluruh media keuangan global.

Saat itu pula, Pip White — Kepala Anthropic untuk Inggris, Irlandia, dan Eropa Utara — menyatakan kepada Bloomberg TV bahwa bank-bank Inggris akan mendapat akses "dalam waktu satu minggu." Janji itu dibuat enam minggu sebelum Bailey harus kembali bicara di Reykjavik — masih dengan tangan kosong.

Anthropic, menurut Bailey, sebenarnya bersedia membagi akses secara uji coba. Ganjalan ada di Washington. Anthropic diketahui tengah berselisih dengan pemerintahan Donald Trump soal batas penggunaan AI untuk keperluan militer, laporan Reuters menyebut ketegangan ini sebagai salah satu faktor. Trump sendiri baru-baru ini menunda penandatanganan perintah eksekutif yang seharusnya membentuk kerangka koordinasi antara pengembang AI dan pemerintah AS, sebagaimana dilaporkan Reuters dan Bloomberg.

Hasilnya tidak simetris: bank-bank AS sudah menggunakan Mythos untuk memperkuat pertahanan siber mereka. Bank-bank di Inggris masih menunggu.

Kini, dengan ekspansi 2 Juni, gambaran itu bergeser. NATO dan ENISA (badan keamanan siber Uni Eropa) dikonfirmasi mendapat akses.

Komisi Eropa sebelumnya menyebut akses ke Mythos sebagai "hal yang sangat penting" dan mengirim pejabatnya ke San Francisco untuk bernegosiasi langsung dengan Anthropic.

Baca Juga: Yield US Treasury Turun Selasa (2/6), Pasar Mulai Bertaruh pada Arah Baru The Fed

Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Akses

Bailey berbicara bukan hanya sebagai Gubernur BoE. Ia juga Ketua Financial Stability Board (FSB), badan yang menetapkan standar keuangan global untuk negara-negara G20.

"Dampak limpahan dari risiko siber semacam ini terlalu besar untuk diselesaikan hanya dengan pendekatan satu negara," ujarnya, dikutip Reuters

Tidak semua pihak sependapat dengan tingkat kekhawatiran itu. Sejumlah pakar keamanan siber yang diwawancarai Reuters menilai bahwa ketakutan soal penyalahgunaan Mythos untuk serangan kemungkinan berlebihan.

Di front Eropa, Anthropic sedang memperluas akses Glasswing. Badan keamanan siber Uni Eropa, ENISA, dilaporkan tengah dalam proses bergabung ke Project Glasswing setelah melalui empat hingga lima pertemuan negosiasi dengan Anthropic sejak April 2026 — berdasarkan laporan Crypto Briefing.

Baca Juga: Jensen Huang Bikin Heboh Wall Street, Saham Marvell Langsung Melejit 25%

Ketika AI Menjadi Urusan Geopolitik

Di balik soal teknis, ada sinyal yang lebih besar: akses ke model AI frontier kini bukan lagi sekadar urusan lisensi perangkat lunak. Ia telah berubah menjadi instrumen dalam permainan geopolitik antarnegara.

Fakta bahwa Gubernur Bank of England, salah satu otoritas keuangan paling berpengaruh di dunia, terpaksa angkat bicara secara publik karena tidak bisa mendapatkan akses ke alat yang dianggap vital bagi keamanan sistem perbankan negerinya, dan tidak mampu mendapat penjelasan mengapa perlakuannya berbeda dengan pihak lain, adalah cermin dari realitas baru itu.

Bagi regulator keuangan di luar AS, termasuk Indonesia, situasi ini menjadi pengingat. Jika industri keuangan di negara-negara maju makin kuat membentuk benteng pertahanan dengan AI seperti Mythos, sasaran begal digital tentu beralih ke medan yang lebih rentan bobol.

Siapkah perbankan menghadapi risiko yang membesar itu? Sudah adakah rencana atau inisiatif dari BI dan OJK untuk melobi Anthropic agar bisa disertakan dalam proyek Glasswing?

Di luar antusiasme pada Mythos, sebuah fakta baru tak terbantahkan mencuat: ketergantungan pada infrastruktur AI buatan perusahaan Amerika bisa menjadi titik lemah baru. Bukan dari sisi teknis, melainkan dari sisi politik.

Semoga para pemangku tanggung jawab negeri ini sadar bahwa membangun teknologi secara mandiri di era serba AI ini merupakan keharusan, bukan sekadar pilihan.