KONTAN.CO.ID - Tata Sons kembali memperpanjang masa jabatan N. Chandrasekaran sebagai chairman untuk lima tahun ke depan. Keputusan tersebut memperpanjang kepemimpinan Chandrasekaran atas konglomerasi India yang memiliki bisnis mulai dari penerbangan, otomotif, teknologi hingga energi. Melansir
Reuters, Tata Sons, perusahaan induk yang mengendalikan lebih dari 30 perusahaan dalam Tata Group, menunjuk kembali Chandrasekaran sebagai chairman pada Kamis (17/9/2026). Masa jabatan sebelumnya akan berakhir pada Februari 2027.
Perpanjangan mandat tersebut datang setelah Chandrasekaran pada bulan lalu menyatakan tidak akan mencari masa jabatan berikutnya sebagai chairman Tata Sons. Di bawah kepemimpinannya, Tata Group memiliki portofolio bisnis yang tersebar di berbagai sektor dan pasar global. Namun, sejumlah lini usaha juga menghadapi tantangan mulai dari kerugian bisnis penerbangan, tekanan industri teknologi hingga gangguan produksi otomotif.
Baca Juga: Kremlin: Sanksi Baru AS Akan Persulit Upaya Damai Rusia-Ukraina Bisnis penerbangan Bisnis penerbangan Tata Group bertumpu pada Air India dan Air India Express, yang secara keseluruhan mengoperasikan hampir 300 pesawat. Air India masih menghadapi tekanan keuangan setelah mencatat kerugian setiap tahun sejak diambil alih Tata Group pada 2022. Maskapai tersebut saat ini menjalankan program transformasi multi-tahun di tengah persoalan rantai pasok, kerugian yang meningkat dan kebutuhan modernisasi sistem teknologi informasi. Kinerja bisnis penerbangan menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam periode kepemimpinan baru Chandrasekaran.
Baca Juga: Bank of England (BoE) Pertahankan Suku Bunga, Inflasi Tinggi Membayangi Otomotif hingga Jaguar Land Rover Di sektor otomotif, Tata Motors telah berkembang dari produsen kendaraan niaga domestik menjadi grup otomotif global. Ekspansi tersebut salah satunya ditopang oleh akuisisi produsen mobil mewah Inggris, Jaguar Land Rover (JLR), senilai US$ 2,3 miliar pada 2008. Tata Motors menyelesaikan pemisahan bisnisnya pada Oktober 2025 menjadi Tata Motors Passenger Vehicles Ltd dan Tata Motors Ltd yang berfokus pada kendaraan komersial. JLR saat ini menghadapi sejumlah tekanan. Produsen mobil mewah tersebut kembali mencatat kerugian tahunan setelah serangan siber mengganggu produksinya. JLR juga menghadapi permintaan yang lebih lemah di China serta kenaikan tarif Amerika Serikat. Di sisi lain, Tata Motors memperluas bisnis kendaraan komersial melalui kesepakatan akuisisi Iveco Group di Eropa senilai US$ 4,36 miliar pada 2025. Transaksi tersebut memperluas jangkauan bisnis kendaraan komersial Tata ke Eropa dan Amerika.
Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Naikkan Bunga Lagi, Ini Proyeksi Broker Wall Street Teknologi masih jadi penopang Sektor teknologi menjadi salah satu bisnis penting dalam ekosistem Tata Group melalui Tata Consultancy Services (TCS). Didirikan pada 1968, TCS menyediakan layanan teknologi untuk berbagai industri, termasuk perbankan, manufaktur, barang konsumsi dan media di berbagai negara. TCS secara historis menjadi kontributor terbesar pendapatan dividen bagi Tata Sons. Namun, saham TCS telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya sepanjang tahun ini. Kapitalisasi pasarnya kini sekitar US$ 92,85 miliar. Penurunan tersebut terjadi ketika pelanggan perusahaan teknologi mengurangi belanja diskresioner di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Baja dan energi Tata Group juga memiliki bisnis baja melalui Tata Steel, yang berdiri sejak 1907 dan menjalankan kegiatan mulai dari pertambangan hingga produksi baja jadi di India dan Eropa. Perusahaan memperkuat ekspansi global melalui akuisisi Corus senilai US$ 12 miliar pada 2007. Untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026, Tata Steel mencatat laba bersih 159,69 miliar rupee atau sekitar US$ 1,66 miliar. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan laba 84,23 miliar rupee pada tahun sebelumnya. Sementara di sektor energi, Tata Power menjalankan bisnis pembangkitan, transmisi dan distribusi listrik, energi terbarukan, manufaktur panel surya hingga pengisian kendaraan listrik. Tata Power memiliki kapasitas terpasang lebih dari 16 gigawatt dan melayani lebih dari 13 juta pelanggan. Laba setelah pajak pada tahun fiskal 2026 mencapai 51,18 miliar rupee, naik dari 47,75 miliar rupee setahun sebelumnya.
Baca Juga: Bank of America Rekrut Bankir Goldman Sachs Perkuat Bisnis Asia Ritel hingga semikonduktor Portofolio Tata Group juga mencakup pasar konsumen melalui perusahaan seperti Titan, Trent, Tata Consumer Products dan Voltas. Bisnis tersebut mencakup perhiasan, fesyen, makanan dan minuman, elektronik serta barang konsumsi. Tata juga memiliki merek teh Inggris Tetley dan menjadi mitra Starbucks dalam menjalankan jaringan gerai di India. Di sektor teknologi manufaktur, Tata Electronics tengah mengembangkan bisnis semikonduktor. Perusahaan membangun fasilitas fabrikasi semikonduktor di Gujarat serta fasilitas perakitan dan pengujian chip di Assam. Investasi tersebut diarahkan untuk memasok kebutuhan industri otomotif, AI dan elektronik konsumen, sekaligus mendukung ambisi India mengembangkan industri semikonduktor domestik.
Baca Juga: Trump Harap Perang Iran Segera Berakhir, Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas Jasa keuangan hingga digital
Tata Group juga memiliki bisnis jasa keuangan melalui Tata Capital yang bergerak di bidang pembiayaan, manajemen kekayaan dan investment banking. Di sektor asuransi, grup tersebut memiliki Tata AIA dan Tata AIG yang masing-masing bergerak di asuransi jiwa serta asuransi umum. Sementara itu, bisnis telekomunikasi dan digital dijalankan antara lain melalui Tata Communications dan Tata Play. Tata Communications menghubungkan bisnis di lebih dari 190 negara dan telah memperluas layanan ke cloud, cybersecurity serta infrastruktur AI. Dengan portofolio yang membentang dari bisnis tradisional seperti baja dan otomotif hingga semikonduktor serta infrastruktur AI, mandat baru Chandrasekaran akan berlangsung ketika Tata Group menghadapi perubahan besar dalam struktur industri dan ekonomi global.