KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan kinerja pasar saham domestik sepanjang Oktober 2026, turut membebani imbal hasil produk reksadana berorientasi ekuitas. Kendati demikian, penerapan strategi value investing serta pemilihan saham secara cermat menjadi tumpuan manajer investasi untuk meredam koreksi Nilai Aktiva Bersih. Koreksi pasar ekuitas domestik tecermin dari imbal hasil reksadana Panin Asset Management per 30 Oktober 2026. Produk saham utama, Panin Dana Maksima, terkoreksi 13,01% MoM dan 23,92% YTD. Penurunan juga dialami Panin Dana Prima Kelas A sebesar 15,45% MoM dan 21,41% YTD, Panin Dana Teladan 14,55% MoM dan 20,79% YTD, serta Panin Beta One 11,57% MoM dan 30,03% YTD. Di segmen reksadana indeks ekuitas, Panin IDX-30 Kelas A mencatatkan penurunan imbal hasil sebesar 12,76% MoM dan 30,21% YTD per 30 Oktober 2026. Adapun reksadana berbasis syariah domestik seperti Panin Dana Syariah Saham terkoreksi 9,44% MoM dan 18,83% YTD. Baca Juga: Reksadana Saham Panin AM Cetak Return 7,21%, Energi Masih Jadi Andalan Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengungkapkan bahwa gejolak di pasar ekuitas dan obligasi tak lepas dari kekhawatiran investor terhadap potensi dampak isu proposal reklasifikasi indeks MSCI. "IHSG turun karena isu MSCI, obligasi turun karena kekhawatiran efek MSCI mempengaruhi nilai tukar dan yield SUN," ujar Rudiyanto kepada KONTAN, Kamis (5/11/2026). Berdasarkan Fund Fact Sheet Panin IDX-30 Kelas A per Oktober 2026, alokasi portofolio efek ekuitas ditempatkan pada Sektor Keuangan sebesar 47,9%, Sektor Perindustrian 11,6%, Sektor Barang Baku 10,3%,Sektor Energi 10,0%, Sektor Infrastruktur 8,7%, Sektor Konsumen Primer 8,2%, Sektor Teknologi 1,9%, dan Sektor Kesehatan 1,3%. Baca Juga: Reksadana Saham Panin AM Tertekan Sentimen MSCI, Reksadana Pasar Uang Tetap Tumbuh Guna meredam volatilitas pasar tersebut, Panin AM tetap konsisten mengandalkan strategi value investingberbasis pemilihan saham secara individual. "Masih sama, kami tidak melihat sektoral tapi saham per saham. Namun jika cek di FFS, alokasi lebih overweight ke sektor energi dan komoditas," ungkap Rudiyanto. Di sisi lain, instrumen berorientasi pasar uang dan saham syariah global milik Panin AM justru menunjukkan daya tahan. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, produk Panin Dana Likuid mencetak return positif 0,41% MoM dan 3,44% YTD, sementara Panin Dana Likuid Syariah menguat 0,40% MoM dan 3,35% YTD. Daya tahan lebih tinggi ditunjukkan reksadana syariah global RDS Panin Global Sharia Equity Fund dengan kenaikan imbal hasil 42,83% YTD meski terkoreksi 5,39% MoM. Sementara Panin Dana US Dollar di segmen campuran terkoreksi lebih terbatas sebesar 1,65% MoM dan 6,34% YTD berkat diversifikasi mata uang.
NAB Reksadana Panin AM Tertekan pada Oktober 2026, Value Investing Jadi Tumpuan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan kinerja pasar saham domestik sepanjang Oktober 2026, turut membebani imbal hasil produk reksadana berorientasi ekuitas. Kendati demikian, penerapan strategi value investing serta pemilihan saham secara cermat menjadi tumpuan manajer investasi untuk meredam koreksi Nilai Aktiva Bersih. Koreksi pasar ekuitas domestik tecermin dari imbal hasil reksadana Panin Asset Management per 30 Oktober 2026. Produk saham utama, Panin Dana Maksima, terkoreksi 13,01% MoM dan 23,92% YTD. Penurunan juga dialami Panin Dana Prima Kelas A sebesar 15,45% MoM dan 21,41% YTD, Panin Dana Teladan 14,55% MoM dan 20,79% YTD, serta Panin Beta One 11,57% MoM dan 30,03% YTD. Di segmen reksadana indeks ekuitas, Panin IDX-30 Kelas A mencatatkan penurunan imbal hasil sebesar 12,76% MoM dan 30,21% YTD per 30 Oktober 2026. Adapun reksadana berbasis syariah domestik seperti Panin Dana Syariah Saham terkoreksi 9,44% MoM dan 18,83% YTD. Baca Juga: Reksadana Saham Panin AM Cetak Return 7,21%, Energi Masih Jadi Andalan Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengungkapkan bahwa gejolak di pasar ekuitas dan obligasi tak lepas dari kekhawatiran investor terhadap potensi dampak isu proposal reklasifikasi indeks MSCI. "IHSG turun karena isu MSCI, obligasi turun karena kekhawatiran efek MSCI mempengaruhi nilai tukar dan yield SUN," ujar Rudiyanto kepada KONTAN, Kamis (5/11/2026). Berdasarkan Fund Fact Sheet Panin IDX-30 Kelas A per Oktober 2026, alokasi portofolio efek ekuitas ditempatkan pada Sektor Keuangan sebesar 47,9%, Sektor Perindustrian 11,6%, Sektor Barang Baku 10,3%,Sektor Energi 10,0%, Sektor Infrastruktur 8,7%, Sektor Konsumen Primer 8,2%, Sektor Teknologi 1,9%, dan Sektor Kesehatan 1,3%. Baca Juga: Reksadana Saham Panin AM Tertekan Sentimen MSCI, Reksadana Pasar Uang Tetap Tumbuh Guna meredam volatilitas pasar tersebut, Panin AM tetap konsisten mengandalkan strategi value investingberbasis pemilihan saham secara individual. "Masih sama, kami tidak melihat sektoral tapi saham per saham. Namun jika cek di FFS, alokasi lebih overweight ke sektor energi dan komoditas," ungkap Rudiyanto. Di sisi lain, instrumen berorientasi pasar uang dan saham syariah global milik Panin AM justru menunjukkan daya tahan. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, produk Panin Dana Likuid mencetak return positif 0,41% MoM dan 3,44% YTD, sementara Panin Dana Likuid Syariah menguat 0,40% MoM dan 3,35% YTD. Daya tahan lebih tinggi ditunjukkan reksadana syariah global RDS Panin Global Sharia Equity Fund dengan kenaikan imbal hasil 42,83% YTD meski terkoreksi 5,39% MoM. Sementara Panin Dana US Dollar di segmen campuran terkoreksi lebih terbatas sebesar 1,65% MoM dan 6,34% YTD berkat diversifikasi mata uang.