NAB Reksadana Turun Jadi Rp 652,9 Triliun, HPAM: Bukan karena Kepanikan Investor



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksadana kembali mengalami penurunan pada Juni 2026.

Berdasarkan hasil Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, NAB reksadana menyusut 4,79% secara bulanan (month to month/MTM) menjadi Rp 652,9 triliun, seiring terjadinya net redemption sebesar Rp 23,75 triliun.

Baca Juga: Hari Ini Perdagangan Perdana Saham BACH Di BEI, ARA Jika Harga Naik Ke Level Ini


Senior Vice President sekaligus Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan menilai, penurunan tersebut lebih disebabkan oleh koreksi nilai aset (mark-to-market) dan penyesuaian portofolio (rebalancing) investor, bukan karena aksi jual akibat kepanikan pasar.

"Penurunan NAB lebih dipengaruhi oleh koreksi nilai aset dasar dan proses rebalancing portofolio investor, bukan mencerminkan kepanikan massal," ujar Reza kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).

Di tengah penurunan NAB, jumlah investor pasar modal justru meningkat 42,22% sejak awal tahun (year to date/YTD).

Menurut Reza, kenaikan tersebut didorong oleh bertambahnya investor ritel dengan nilai investasi relatif kecil, sehingga kontribusinya terhadap total dana kelolaan industri masih terbatas.

Baca Juga: S&P Dow Jones Masukkan Indonesia ke Watchlist, Berisiko Turun ke Frontier Market

Memasuki semester II-2026, HPAM memproyeksikan prospek kinerja reksadana berpotensi membaik seiring ekspektasi stabilitas kondisi makroekonomi domestik.

"Kami menerapkan pendekatan multidisiplin yang dipadukan dengan strategi contrarian value untuk mengidentifikasi aset-aset berkualitas yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya," katanya.

Dalam menghadapi volatilitas pasar, Reza merekomendasikan reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap bagi investor dengan profil risiko konservatif karena menawarkan tingkat risiko yang lebih rendah.

Sementara itu, bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka menengah hingga panjang, ia menilai koreksi pasar saat ini justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada reksadana saham maupun reksadana campuran.

HPAM juga menyarankan investor menerapkan strategi investasi bertahap (staggered investment) agar portofolio tetap adaptif terhadap perubahan siklus pasar.

Baca Juga: Saham BBCA, ELSA, hingga KOTA Jadi Pilihan BRI Danareksa Perdagangan Hari Ini (8/7)

Terkait dana kelolaan HPAM, Reza mengatakan, fluktuasi yang terjadi merupakan konsekuensi dari pergerakan pasar serta dinamika arus dana masuk dan keluar dari investor.

Ke depan, HPAM menegaskan akan tetap mengedepankan pengelolaan portofolio secara disiplin untuk menjaga kinerja investasi.

"Fokus kami adalah menjaga kualitas portofolio, memperkuat diversifikasi, serta mengelola risiko secara terukur," pungkas Reza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News