JAKARTA. Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) produksi bandeng secara nasional mengalami peningkatan rata-rata 10,4% per tahun. Tahun lalu, produksi bandeng nasional mencapai 621.393 ton. Sementara produksi bandeng tahun 2010 sebanyak 421.757 ton. Peningkatan produksi bandeng ini tak terlepas dari dukungan benih unggul dan berkualitas. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan untuk mendukung peningkatan produksi bandeng nasional, produksi benih bandeng (nener) juga harus di tingkatkan. Berdasarkan data KKP, produksi nener meningkat signifikan dari 2,4 miliar ekor pada tahun 2010 menjadi 3,2 miliar ekor pada tahun 2014. "Itu masih data sementara, kenaikan produksi nener sekitar 10,8 % per tahun," ujar Slamet, Selasa (31/3). Slamet mengatakan, produksi nener ini memang tidak sepenuhnya digunakan di dalam negeri, karena sekitar 15 % nener di ekspor ke luar negeri khususnya Filipina. Namun ia bilang pemenuhan kebutuhan nener dalam negeri masih menjadi prioritas untuk memenuhi target produksi bandeng tahun 2015 yang mencapai 1,2 juta ton dan memerlukan nener sebanyak 7,2 miliar benih bandeng. Slamet membantah adanya larangan ekspor nener. Sebab, terbukanya pasar ekspor nener dapat mendorong produksi nener secara kontinu. Ia bilang, yang perlu diperhatikan terkait produksi nener adalah peningkatan kualitas nener yang dihasilkan oleh unit pembenihan.
Naik 10,4%, produksi bandeng terdorong nener
JAKARTA. Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) produksi bandeng secara nasional mengalami peningkatan rata-rata 10,4% per tahun. Tahun lalu, produksi bandeng nasional mencapai 621.393 ton. Sementara produksi bandeng tahun 2010 sebanyak 421.757 ton. Peningkatan produksi bandeng ini tak terlepas dari dukungan benih unggul dan berkualitas. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan untuk mendukung peningkatan produksi bandeng nasional, produksi benih bandeng (nener) juga harus di tingkatkan. Berdasarkan data KKP, produksi nener meningkat signifikan dari 2,4 miliar ekor pada tahun 2010 menjadi 3,2 miliar ekor pada tahun 2014. "Itu masih data sementara, kenaikan produksi nener sekitar 10,8 % per tahun," ujar Slamet, Selasa (31/3). Slamet mengatakan, produksi nener ini memang tidak sepenuhnya digunakan di dalam negeri, karena sekitar 15 % nener di ekspor ke luar negeri khususnya Filipina. Namun ia bilang pemenuhan kebutuhan nener dalam negeri masih menjadi prioritas untuk memenuhi target produksi bandeng tahun 2015 yang mencapai 1,2 juta ton dan memerlukan nener sebanyak 7,2 miliar benih bandeng. Slamet membantah adanya larangan ekspor nener. Sebab, terbukanya pasar ekspor nener dapat mendorong produksi nener secara kontinu. Ia bilang, yang perlu diperhatikan terkait produksi nener adalah peningkatan kualitas nener yang dihasilkan oleh unit pembenihan.