KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat kenaikan penerbitan obligasi korporasi pada kuartal I – 2026. Hal ini salah satunya agar korporasi dapat mengunci biaya dana sebelum
yield pasar berpotensi naik. Economic Research Division Pefindo, Ahmad Nasrudin mengatakan, peningkatan penerbitan obligasi korporasi terutama ditopang oleh kebutuhan
refinancing yang masih besar. Nilai obligasi jatuh tempo pada tahun 2026 mencapai Rp 162,72 triliun, sedikit di atas Rp 161,22 triliun pada tahun 2025.
Baca Juga: Pefindo Proyeksi Penerbitan Obligasi Korporasi di 2026 Capai Rp 196,86 Triliun Selain itu, banyak emiten tampak mempercepat penerbitan pada awal tahun untuk mengunci biaya dana sebelum
yield pasar naik lebih tinggi. Seperti yang kita ketahui,
yield melonjak akhir-akhir ini setelah sempat menurun hingga Oktober. Misalnya, untuk benchmark tenor utama penerbitan 3 tahun, yield naik dari 5,4% pada 27 Februari 2026 menjadi 6,4% pada 2 April 2026. Sehingga, strategi f
ront-loading memungkinkan emiten menerbitkan surat utang dengan lebih murah di awal tahun daripada di akhir-akhir ini. “Penerbitan obligasi korporasi pada kuartal I – 2026 meningkat dibandingkan dengan kuartal I – 2025. Nilainya mencapai Rp 59,35 triliun, naik 26,9% dari Rp 46,75 triliun pada periode yang sama tahun lalu,” ujar Ahmad kepada Kontan, Selasa (7/4/2026). Ahmad menilai sentimen utama yang mempengaruhi obligasi korporasi pada kuartal II – 2026 masih berasal dari suku bunga global yang tinggi, harga energi, nilai tukar rupiah, risiko fiskal, dan arus dana asing. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik dari sekitar 3,94% pada akhir Februari menjadi sekitar 4,43% pada 27 Maret 2026.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi 2026 Bisa Lampaui Rp 200 Triliun, Ini Faktornya Pada saat yang sama, harga Brent melonjak dari sekitar US$ 72 per barel pada awal Maret menjadi sekitar US$ 113 per barel pada akhir Maret. Kombinasi ini menahan ruang penurunan
yield dan membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi, termasuk
yield obligasi korporasi. Dalam konteks ini, Ahmad melihat dua jalur yang paling penting bagi obligasi korporasi pada kuartal II-2026 adalah penahanan permintaan agregat oleh suku bunga tinggi dan menyempitnya ruang fiskal yang mendorong risiko pelebaran defisit dari yang dianggarkan akibat kenaikan beban subsidi energi. “Suku bunga yang tetap tinggi akan menahan permintaan agregat melalui biaya kredit yang lebih mahal, baik untuk rumah tangga maupun dunia usaha. Jalur ini pada akhirnya menekan laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan ekspansi usaha yang menjadi lebih berhati-hati,” jelas Ahmad.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Diproyeksi Berkinerja Positif Hingga Akhir Tahun 2025 Di saat yang sama, Ahmad mengatakan, harga minyak yang tinggi dapat memperbesar beban subsidi energi dan memperlebar defisit anggaran. Tekanan ini membatasi ruang fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan melalui belanja yang lebih ekspansif. Implikasinya, prospek pendapatan di sebagian sektor dunia usaha menjadi kurang kuat, kebutuhan penerbitan untuk ekspansi cenderung lebih terbatas, sementara penerbitan untuk refinancing dan modal kerja tetap berjalan. “Dalam kondisi seperti ini, investor juga cenderung lebih selektif dan lebih memilih emiten dengan kualitas kredit tinggi, tenor lebih pendek, dan sektor yang lebih defensif terhadap perlambatan ekonomi,” ucap Ahmad. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu sentimen
risk – off yang berpengaruh pada pasar keuangan global, termasuk obligasi korporasi. Hal itu membuat biaya dana (
cost of fund) yang diterbitkan korporasi meningkat sehingga membuat
yield obligasi korporasi naik.
Baca Juga: Ada Kebutuhan Refinancing, Penerbitan Obligasi Korporasi Marak di Kuartal I 2026 “Kalo asumsi perang ini segera mereda, pasar akan cenderung menguat dalam arti yield (obligasi korporasi) akan mulai mengecil kembali. Sekarang walaupun likuiditas tinggi, tapi karena
uncertainty tinggi membuat sebagian investor menahan diri untuk masuk,” ujar Ramdhan. Ramdhan menilai strategi yang dapat dilakukan investor adalah terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor juga dapat memilih obligasi korporasi dengan rating yang baik dan menyesuaikan dengan profil risiko masing – masing investor.
Menurutnya, obligasi korporasi dengan peringkat yang tinggi dan tenor jangka pendek hingga menengah berpotensi diminati hingga semester I – 2026.
Baca Juga: Menimbang Prospek Obligasi Korporasi Tahun 2026 “Investor sangat hati – hati masuk ke obligasi korporasi karena potensi pelemahan, kalau eskalasi geopolitik berkepanjangan berpotensi membuat market melemah,” terang Ramdhan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News