KONTAN.CO.ID - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjuk tiga astronaut asal Amerika Serikat dan satu astronaut Italia untuk menjalankan misi Artemis berikutnya. Misi yang dijadwalkan berlangsung pada akhir 2027 tersebut akan menjadi uji coba penting bagi wahana pendarat bulan milik SpaceX dan Blue Origin sebelum digunakan dalam misi pendaratan manusia ke Bulan.
Baca Juga: SpaceX Catat Permintaan IPO Rp4.485 Triliun, Terbesar dalam Sejarah Melansir
Reuters, Administrator NASA Jared Isaacman mengumumkan kru Artemis III dalam sebuah acara di Houston, Amerika Serikat, Selasa (9/6/2026). Mereka adalah astronaut AS Andre Douglas, Frank Rubio, Randy Bresnik, serta astronaut Italia Luca Parmitano dari European Space Agency (ESA). Misi Artemis III akan menjadi demonstrasi penyambungan (docking) pesawat antariksa di orbit rendah Bumi yang melibatkan kapsul Orion milik NASA, wahana Starship milik SpaceX, dan Blue Moon milik Blue Origin. "Artemis III adalah kampanye peluncuran yang sangat menarik, kompleks, dan membutuhkan koordinasi tinggi. Semua akan berlangsung dalam waktu singkat dengan melibatkan tiga roket paling kuat di dunia," ujar Manajer Program Artemis NASA Jeremy Parsons.
Baca Juga: GSK Akuisisi Nuvalent, Mengapa Sektor Kesehatan Jadi Incaran Investor? Randy Bresnik yang merupakan veteran tiga misi luar angkasa ditunjuk sebagai komandan misi. Sementara itu, Luca Parmitano menjadi astronaut Eropa pertama yang bergabung dalam program Artemis. Meski tidak akan menuju Bulan, misi berdurasi sekitar dua pekan tersebut menjadi tahap krusial dalam program Artemis yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan dan membangun kehadiran jangka panjang di sana. Program ini juga menjadi bagian dari persaingan Amerika Serikat dengan China yang menargetkan pendaratan astronaut di Bulan pada 2030. Dalam skenario misi, Blue Moon akan diluncurkan lebih dulu ke orbit, disusul kapsul Orion yang membawa para astronaut. Kedua wahana akan melakukan docking selama sekitar dua hari untuk menjalankan berbagai pengujian teknologi. Setelah itu, Blue Moon akan melepaskan diri dan memberi ruang bagi Starship milik SpaceX untuk melakukan docking dengan Orion selama sekitar satu hari sebelum seluruh wahana kembali ke Bumi.
Baca Juga: Harga Emas Jatuh Lebih dari 1% Selasa (9/6), Investor Menanti Data Inflasi AS Misi ini menjadi debut pengujian bersama dua wahana pendarat Bulan yang dipilih NASA untuk mendukung program eksplorasi Bulan pada masa mendatang. Sebelumnya, misi Artemis II yang berlangsung pada April 2026 berhasil membawa tiga astronaut Amerika Serikat dan satu astronaut Kanada mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi. Adapun Artemis I pada 2022 merupakan misi tanpa awak. Tantangan Pengembangan Wahana Baik SpaceX maupun Blue Origin masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan wahana pendarat Bulan mereka. SpaceX baru saja melakukan uji terbang versi terbaru Starship yang telah dilengkapi peningkatan kemampuan untuk mendukung misi Bulan. Sementara itu, Blue Origin masih menyelidiki ledakan roket New Glenn yang terjadi di landasan peluncuran Florida bulan lalu.
Baca Juga: Harga Emas Jatuh Lebih dari 1% Selasa (9/6), Investor Menanti Data Inflasi AS Ledakan tersebut menghancurkan sebagian besar fasilitas peluncuran Blue Origin dan membuat operasional roket New Glenn terhenti selama beberapa bulan. Meski demikian, NASA tetap optimistis kedua perusahaan mampu memenuhi jadwal pengembangan yang dibutuhkan untuk misi Artemis III. "Kami yakin New Glenn akan siap mendukung Artemis III," kata Parsons. Keuntungan bagi Italia dan ESA Penunjukan Luca Parmitano juga menjadi kabar positif bagi Italia dan ESA di tengah perubahan arah program Artemis. Sebelumnya, NASA memutuskan membatalkan rencana pembangunan stasiun luar angkasa Gateway yang akan mengorbit Bulan. Keputusan tersebut sempat mengejutkan sejumlah mitra internasional seperti ESA, Kanada, dan Jepang yang telah mengembangkan berbagai komponen untuk proyek tersebut.
Baca Juga: Helikopter Apache Ditembak Jatuh, Amerika Serikat Lancarkan Serangan Balasan ke Iran Sebagai gantinya, NASA kini lebih fokus membangun basis permanen di permukaan Bulan dan telah menandatangani kerja sama baru dengan Italia untuk mendukung pengembangan fasilitas tersebut. Parmitano yang bergabung dengan korps astronaut ESA sejak 2009 telah dua kali terbang ke luar angkasa. Ia menjadi astronaut ESA pertama yang terpilih dalam misi Artemis dan astronaut non-Amerika kedua setelah astronaut Kanada Jeremy Hansen yang terbang dalam misi Artemis II. Presiden Badan Antariksa Italia, Teodoro Valente, menyatakan terpilihnya Parmitano menunjukkan peran penting Italia dan Eropa dalam eksplorasi antariksa berawak di masa depan.