KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan mendorong nasabah wealth management perbankan untuk lebih selektif dalam menempatkan dananya. Instrumen dengan risiko relatif lebih terukur, seperti obligasi dan pasar uang, menjadi pilihan yang banyak diminati. Meski demikian, kondisi pasar yang bergejolak tidak sepenuhnya membuat investor menghindari aset berisiko. Sebagian nasabah dengan profil agresif justru memanfaatkan koreksi harga untuk meningkatkan eksposur investasi dan melakukan penyesuaian portofolio. Pemimpin Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia mengatakan, kecenderungan nasabah untuk menahan diri dan masuk ke pasar secara bertahap mulai terlihat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan tabungan dengan saldo di atas Rp1 miliar hingga Juli 2026 yang mencapai 18% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan portofolio lainnya.
"Hal ini menjadi sinyal nasabah masih wait and see dan masuk ke market secara bertahap," kata Henny kepada kontan.co.id, Kamis (10/9/2026). Per Juli 2026, aset under management (AUM) nasabah yang dikelola BNI tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen private yang meningkat 21% YoY, disertai kenaikan jumlah nasabah sebesar 9%.
Baca Juga: BTN Ungkap Alasan Bunga Kredit Masih Sulit Turun Dari sisi instrumen, Henny menyebut obligasi masih menjadi pilihan utama nasabah wealth management BNI. Secara keseluruhan, AUM investasi BNI tumbuh 10% YoY. "Secara umum, AUM investasi tumbuh 10% YoY dengan porsi obligasi yang masih mendominasi," ujarnya. Tekanan di pasar global yang memicu koreksi pasar modal membuat sebagian nasabah memilih instrumen obligasi. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seluruh investor menghindari aset berisiko. Menurut Henny, nasabah dengan profil agresif justru memanfaatkan penurunan harga aset untuk menambah porsi investasi sekaligus melakukan rebalancing portofolio. Selain obligasi, minat terhadap surat utang negara juga terus meningkat. BNI melihat nasabah tertarik pada instrumen yang menawarkan imbal hasil tetap dengan kupon premium, termasuk seri SR025 yang tengah ditawarkan.
Nasabah BCA Tetap Andalkan Obligasi dan Pasar Uang
Tren serupa juga terlihat di BCA. Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B. mengatakan, belum terlihat perubahan komposisi portofolio yang signifikan meski pasar saham mengalami tekanan. Menurut dia, kondisi tersebut bukan sepenuhnya merupakan pergeseran portofolio. Sebab, sejak awal karakter nasabah BCA memang cenderung konservatif. "Kalau kita bicara reksa dana yang equity sudah pasti merah semua. Jadi memang ada, sebenarnya sih bukan pergeseran ya, karena memang dari awal DNA-nya nasabah BCA itu memang lebih konservatif," kata Indrawan.
Baca Juga: DPK Bank Jatim Tertekan, Bakal Genjot Dana Murah Indrawan mengatakan, sejak awal BCA memiliki basis nasabah yang kuat pada instrumen obligasi. Sementara untuk reksa dana, pilihan nasabah juga lebih banyak mengarah ke pasar uang. "Jadi dari awal itu kita memang sangat strong di bonds, di obligasi, kemudian kalau kita bicara reksa dana juga kita sangat strong di money market," ujarnya. Dengan karakter tersebut, pertumbuhan investasi nasabah BCA saat ini lebih banyak tercermin pada obligasi dan pasar uang. Sementara perpindahan dana dari saham ke instrumen defensif belum terlalu terlihat karena eksposur nasabah terhadap aset berbasis ekuitas sejak awal relatif terbatas. "Kalau lihat pergeserannya mungkin tidak terlalu kelihatan karena memang belum banyak yang di equity. Jadi kondisi sekarang ini sesuai dengan profil nasabah kita yang konservatif, jadi memang tumbuhnya lebih banyak di bonds dan money market," jelasnya. Bisnis wealth management BCA sendiri terus tumbuh. Aset under management (AUM) mencapai Rp339 triliun per Juni 2026, naik 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan AUM pada 2022 yang baru mencapai Rp139 triliun. Pertumbuhan AUM tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Per Juni 2026, DPK BCA berada di sekitar Rp1.284 triliun. Indrawan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bisnis wealth management tidak serta-merta menggerus dana pihak ketiga perbankan. "Pada saat kita meluncurkan wealth management di awal-awal, tentu saja banyak teman-teman yang bilang, waduh ini kalau ada wealth management jangan-jangan dana pihak ketiga kita malah nyungsep, malah enggak naik. Ternyata fakta menunjukkan bahwa dua-duanya naik," tutur Indrawan.
CIMB Niaga Bidik Investor Muda
Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk melihat karakter investor semakin beragam, terutama berdasarkan usia dan kebutuhan finansial. Direktur Consumer & Emerging Business Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi mengatakan, nasabah yang telah mapan secara finansial cenderung memilih instrumen dengan imbal hasil yang lebih terukur dan stabil. Secara historis, kelompok tersebut banyak berinvestasi di deposito dan obligasi.
Baca Juga: BTN Jelaskan Alasan NIM Turun Meski Kredit Melaju di Semester I 2026 "Typically starting point-nya itu nasabah yang suka return yang lebih terukur, lebih stabil. Karena berangkatnya dari nasabah deposito in the past," ujar Noviady. Untuk investor muda, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang mulai diminati. CIMB Niaga juga tengah mengembangkan dan menjajaki kerja sama dengan perusahaan sekuritas untuk memperluas pilihan investasi nasabah. Menurut Noviady, investor di perusahaan sekuritas memiliki karakteristik berbeda karena banyak berasal dari kelompok usia muda, termasuk investor berusia di bawah 25 tahun.
Karena itu, CIMB Niaga tengah mengembangkan ekosistem investasi yang memungkinkan nasabah melihat berbagai instrumen dalam satu platform. "Jadi dalam konteks ini kita yang in a way sebagai integrator. Di mana nasabah bisa melihat complete instrument," katanya. Ke depan, bank akan mengintegrasikan berbagai aset nasabah, mulai dari asuransi, asset management, saham hingga emas dalam satu platform. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News