Nasehat Warren Buffett: Jangan Pernah Memegang Uang Selama Perang



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Suasana ekonomi dunia saat ini benar-benar penuh ketegangan. Itu sebabnya, pelaku pasar enggan mengambil risiko alias risk-off. Kondisi yang terjadi saat ini, pasar saham turun, sementara harga minyak mentah dan komoditas lainnya melonjak tinggi.

Kondisi tersebut terjadi setelah pejabat AS mengemukakan untuk meningkatkan kemungkinan sanksi minyak terhadap Rusia. Pada saat yang bersamaan, dunia menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Ukraina, di mana invasi Rusia telah mencapai hari ke-12 dan lebih dari satu juta orang telah melarikan diri dari pertempuran.

Mengutip Market Watch, dengan latar belakang pergolakan geopolitik yang tidak dapat diprediksi dan berbahaya, berikut adalah beberapa saran investasi masa perang dari Warren Buffett Berkshire Hathaway, yang diambil dari hasil wawancaranya pada tahun 2014. Itu merupakan tahun terakhir kali Rusia menginvasi Ukraina.


“Satu hal yang bisa Anda yakini adalah jika kita terlibat dalam perang yang sangat besar, nilai uang akan turun — itu terjadi di hampir setiap perang yang saya ketahui. Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah memegang uang selama perang,” katanya.

Baca Juga: Warren Buffett Beli Saham Occidental Petroleum Senilai US$ 5,1 Miliar

Mengutip smh.com.au, saat ditanyakan jika tidak ingin memegang uang tunai, apa yang ingin dia miliki, begini jawaban Warren Buffett. 

"Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah memegang uang selama perang. Anda mungkin ingin memiliki pertanian, Anda mungkin ingin memiliki rumah apartemen, Anda mungkin ingin memiliki sekuritas," jelas Warren Buffett.

Baca Juga: Warren Buffett jadi Orang Terkaya ke-5 Dunia saat Kekayaan Miliarder Lain Turun

Dia menambahkan, “Selama Perang Dunia II, pasar saham maju -- pasar saham akan maju seiring waktu. Bisnis Amerika akan bernilai lebih banyak uang, dolar akan bernilai lebih sedikit, sehingga uang tidak akan membeli Anda sebanyak itu."

"Tapi Anda akan jauh lebih baik memiliki aset produktif selama 50 tahun ke depan, daripada Anda akan memiliki selembar kertas," ungkapnya.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie