KONTAN.CO.ID - Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001 atau 9/11 mengguncang Amerika Serikat, Al Qaeda masih belum sepenuhnya hilang. Kelompok yang didirikan Osama bin Laden tersebut memang kehilangan sejumlah pemimpin penting dan mengalami kemunduran, tetapi jaringan serta pengaruh ideologinya tetap bertahan di sejumlah wilayah. Serangan 9/11 menjadi titik balik dalam perang melawan terorisme global. Sebanyak 19 pembajak membajak empat pesawat penumpang dan mengarahkan tiga di antaranya ke World Trade Center di New York serta Pentagon.
Pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania setelah penumpang berusaha mengambil alih kokpit. Hampir 3.000 orang tewas dalam serangan tersebut.
Baca Juga: AS Siapkan Sanksi terhadap Bank Besar, Tekanan ke Iran Makin Meluas Osama bin Laden Tewas, Al Qaeda Tetap Bertahan
Al Qaeda muncul sebagai jaringan jihad transnasional pada akhir 1980-an di bawah kepemimpinan Osama bin Laden. Kelompok ini berkembang dari jaringan relawan Arab yang sebelumnya membantu perjuangan melawan Uni Soviet di Afghanistan. Mengutip catatan
Reuters, Al Qaeda telah melakukan sejumlah serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat sebelum 9/11. Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 1998 ketika bom truk menghantam kedutaan AS di Kenya dan Tanzania. Sebanyak 224 orang tewas dalam serangan tersebut. Setelah serangan 9/11, Amerika Serikat menginvasi Afghanistan pada Oktober 2001 dan menggulingkan pemerintahan Taliban yang saat itu memberikan tempat bagi Al Qaeda. Bin Laden kemudian melarikan diri dan selama bertahun-tahun menjadi target utama Amerika Serikat. Pasukan khusus AS akhirnya membunuhnya dalam operasi di Abbottabad, Pakistan, pada 2011.
Baca Juga: Trump Sebut Putin Ingin Berdamai dan Akhiri Perang Ukraina Al Qaeda Menyebar Lewat Jaringan Afiliasi
Setelah bin Laden tewas, kepemimpinan Al Qaeda beralih kepada Ayman al-Zawahiri. Tokoh asal Mesir tersebut kemudian terbunuh dalam serangan pesawat nirawak AS di Kabul pada 2022. Saat ini, Seif al-Adel diyakini menjadi pemimpin de facto Al Qaeda. Berbeda dengan era bin Laden, struktur kelompok tersebut kini lebih tersebar dan tidak terlalu bergantung pada satu tokoh. Setelah kehilangan basis utama di Afghanistan, pengaruh Al Qaeda justru menyebar melalui kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya. Sejumlah cabang muncul di Timur Tengah dan Afrika. Di Irak, Al Qaeda membangun jaringan yang kemudian menjadi salah satu kekuatan militan utama setelah invasi AS pada 2003. Cabang Al Qaeda di Afrika Utara muncul pada 2007, sementara Al Qaeda di Semenanjung Arab atau AQAP berkembang pada 2009. Di Suriah, Front Al Nusra menjadi salah satu kekuatan dalam perang saudara setelah 2011. Di Afrika, jaringan yang terkait dengan Al Qaeda antara lain Al-Shabaab di Somalia dan Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) di kawasan Sahel. Al Qaeda juga memiliki hubungan dengan Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP) atau Taliban Pakistan yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Pakistan.
Baca Juga: Trump Sebut Perang Iran Akan Berakhir Setelah Pemilu AS, Minyak Tembus US$100 Afrika Jadi Medan Utama Al Qaeda
Saat ini, Somalia dan kawasan Sahel di Afrika Barat menjadi salah satu pusat utama aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Di Somalia, Al-Shabaab masih menjadi kekuatan militan yang signifikan. Sementara di Sahel, JNIM memperluas pengaruhnya di tengah lemahnya pemerintahan dan konflik berkepanjangan di sejumlah negara. Di luar Afrika, TTP juga memperluas pemberontakannya di wilayah barat laut Pakistan. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut TTP mendapat dukungan ideologi, pelatihan, dan bantuan dari Al Qaeda.
Afghanistan juga kembali menjadi perhatian. Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021 setelah penarikan pasukan AS. Dalam laporan PBB yang dirilis Februari 2026, Al Qaeda disebut masih mendapatkan perlindungan dari otoritas de facto Afghanistan dan keinginan kelompok tersebut untuk melakukan operasi eksternal disebut belum berkurang. Pemerintah Taliban membantah bahwa Al Qaeda beroperasi di Afghanistan atau bahwa wilayah Afghanistan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Pakistan.
Baca Juga: China Borong Hampir 1 Juta Ton Kedelai AS Jelang Pertemuan Xi Jinping-Trump