Nasib Jasa Pertambangan di 2026: Diversifikasi Bisnis Jadi Kunci Kinerja Tetap Tumbuh



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemangkasan produksi batubara dan nikel secara nasional pada 2026 berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten jasa pertambangan.

Dalam berita sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM berencana mengurangi target produksi batubara nasional pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Tak hanya itu, target produksi bijih nikel nasional pada tahun ini juga dikurangi menjadi sekitar 250 juta ton.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, kebijakan tersebut sebenarnya akan memberikan dampak yang tidak bersifat linear dan tidak sepenuhnya negatif bagi emiten jasa pertambangan.


Pada komoditas batubara misalnya, penurunan target produksi dari sekitar 790 juta ton menjadi sekitar 600 juta ton berpotensi mengikis volume overburden removal (OR) dan pengambilan batubara (coal getting), terutama bagi kontraktor yang sangat bergantung pada tambang berbiaya tinggii atau tambang marginal.

Namun, perlu diingat bahwa kebijakan ini ditujukan untuk menopang harga batubara. Dengan harga yang lebih sehat, sebagian produsen batubara berbiaya rendah tetap akan beroperasi optimal, sehingga pihak kontraktor jasa pertambangan utma masih memiliki basis volume yang relatif terjaga.

Baca Juga: Barito Renewables (BREN) Temukan Potensi Panas Bumi 60 MW di Halmahera Utara

Situasi berbeda terjadi pada komoditas nikel. Kebijakan pembatasan produksi justru terjadi di tengah defisit struktural pasokan bijih nikel terhadap kebutuhan smelter.

"Alhasil, aktivitas penambangan di tambang-tambang terintegrasi ke smelter tetap tinggi, bahkan cenderung prioritas," kata dia, Selasa (13/1/2026).

Di samping itu, pemangkasan produksi berpotensi menunda ekspansi terhadap investasi alat berat ataupun pemeliharaan, bukan menghentikan operasional. Emiten jasa pertambangan kemungkinan akan lebih selektif dalam belanja modal, mengutamakan peremajaan alat, efisiensi fleet, dan optimalisasi utilisasi dibanding pembelian unit baru.

Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, emiten jasa pertambangan seperti PT Petrosea Tbk (PTRO) justru tetap agresif dalam mengalokasikan modal besar untuk pengadaan armada baru guna mendukung proyek baru.

Adapun fokus pemeliharaan tetap menjadi prioritas utama untuk menjaga reliabilitas operasional di tengah keterbatasan kuota produksi.

Menurut Abida, langkah antisipasi utama yang dapat dilakukan emiten jasa pertambangan adalah mendiversifikasi portofolio bisnis ke komoditas mineral lain seperti emas dan tembaga guna mengurangi ketergantungan pada batubara.

Peninjauan kembali kontrak dengan pelanggan juga menjadi langkah yang lazim dan diperlukan untuk menyesuaikan target volume kerja, memastikan jaminan volume minimum, serta fleksibilitas tarif jasa.

"Dialog intensif antara kontraktor dan pemilik tambang dalam masa transisi ini sangat krusial untuk menjaga efisiensi ritase armada dan mengoptimalkan kapasitas pengiriman yang tersedia," ungkap dia, Selasa (13/1/2026).

Terlepas dari itu, peluang pertumbuhan kinerja pada 2026 tetap terbuka lebar, terutama bagi emiten jasa pertambangan yang memiliki eksposur ke tambang berbiaya rendah, tambang captive smelter, serta kontrak jangka panjang.

Di sektor nikel, risiko kekurangan bijih justru membuat tambang yang masih memiliki Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan cadangan berkualitas menjadi sangat strategis, sehingga aktivitas jasa tambangnya relatif lebih defensif.

Baca Juga: DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat

"Emiten ini yang mampu menawarkan jasa terintegrasi, mulai dari mining, hauling, hingga infrastruktur pendukung, berpeluang menjaga margin meski volume nasional dikendalikan," terang Imam.

Sementara itu, Abida menyebut, peluang pertumbuhan kinerja akan terbuka bagi emiten jasa pertambangan yang mampu melakukan transformasi bisnis, terutama melalui peralihan menuju eksekusi operasional secara in-house dan penguatan sinergi di dalam ekosistem grup.

Emiten yang berpeluang unggul adalah mereka yang memiliki kontrak jangka panjang atau seumur tambang (life of mine) dengan pelanggan berkualitas serta mampu meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi alat berat berbasis listrik atau hybrid.

Lantas, sektor jasa pertambangan dipandang masih sangat layak dipertimbangkan oleh investor lantaran valuasinya menarik dan didukung oleh prospek pemulihan harga komoditas jangka panjang seiring pengetatan produksi di dalam negeri.

Abida merekomendasi beli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan target harga mencapai Rp 32.000 per saham berkat profil defensif dan dividen yield yang kuat sekitar 8,3%.

 
UNTR Chart by TradingView

Selanjutnya: Pasar Khawatir APBN Makin Tekor, Defisit Bisa ke 3%, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Menarik Dibaca: Promo Loaf Bun Daebak Combo Hemat 25% dan Slice Cake Baru Harga Spesial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News