KONTAN.CO.ID - Pendapatan Rusia dari ekspor energi turun dalam 12 bulan terakhir, meskipun volume ekspor minyaknya justru meningkat. Melansir
Reuters, menurut analisis dari
Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), total pendapatan Rusia dari ekspor minyak, gas, batu bara, dan produk olahan energi mencapai 193 miliar euro dalam periode 12 bulan hingga 24 Februari 2026. Angka ini turun 27% dibanding periode yang sama sebelum invasi penuh ke Ukraina pada 2022. Mengapa ini penting?
Rusia sangat bergantung pada pendapatan energi untuk membiayai perang di Ukraina. Ketergantungan ini mendorong negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap sektor energi Rusia dengan tujuan melemahkan kapasitas militernya. Namun, data menunjukkan dinamika yang lebih kompleks:
- Pendapatan dari ekspor minyak mentah turun 18% secara tahunan.
- Volume ekspor minyak mentah justru 6% lebih tinggi dibanding level sebelum invasi, mencapai 215 juta ton.
Artinya, penurunan pendapatan bukan karena penurunan volume, melainkan karena harga jual yang lebih rendah. Sanksi tidak menghentikan ekspor minyak Rusia, tetapi memaksa Moskow menjual dengan diskon.
Baca Juga: Ancaman Trump: Mitra Dagang Mundur, Tarif Lebih Tinggi Menanti! Pergeseran pasar dan “shadow fleet”
Sejak 2022, Rusia mengalihkan sebagian besar ekspor minyak lautnya ke China, India, dan Turki. Untuk menghindari sanksi Barat, Rusia juga mengandalkan
“shadow fleet” alias armada tanker tua yang tidak diasuransikan oleh perusahaan Barat. Namun tekanan bisa meningkat tahun ini. Pertama, Presiden AS Donald Trump menjadikan diversifikasi impor energi sebagai syarat dalam negosiasi dagang dengan India. Selain itu, Uni Eropa juga sedang membahas larangan luas terhadap bisnis yang mendukung ekspor minyak laut Rusia. Meski proposal ini sempat diveto Hungaria karena sengketa pipa minyak Ukraina, jika lolos, dampaknya akan signifikan.
Tonton: Luhut Ungkap Keuntungan Besar Perjanjian AS Saat ini, lebih dari sepertiga ekspor minyak Rusia masih menggunakan tanker dan jasa pelayaran Barat. Jika larangan total diberlakukan, jalur ini bisa tertutup dan skema price cap minyak Rusia yang diterapkan negara-negara G7 berpotensi menjadi tidak relevan.