KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menggelar sidang
debottlenecking, Selasa (24/2). Kali ini, sidang terkait dengan proyek strategis nasional (PSN) Onshore LNG Abadi Masela di Maluku. Dalam sidang tersebut,
Executive Project Director Inpex Masela, Jarrad Blinco mengungkapkan, kekhawatiran atas potensi membengkaknya nilai investasi proyek LNG Blok Masela yang saat ini diperkirakan menembus lebih dari US$ 20 miliar.
Baca Juga: Trump Naikan Tarif Global Jadi 15%, Ekonom: Bikin Ketidakpastian Baru Menurut dia, tekanan global dan inflasi berpotensi membuat kebutuhan belanja modal alias
capital expenditure (capex) proyek tersebut meningkat dari estimasi awal. "Kami pikir, mengingat tekanan global dan inflasi, kemungkinan besar angka US$ 20 miliar itu akan meningkat pada saat penawaran sebenarnya diterima. Jadi, kekhawatiran kami saat ini adalah total investasi mungkin akan melebihi U$ 20 miliar, dan hal itu dapat berdampak pada ekonomi dan kelayakan proyek," Ujar Blinco dalam sidang debottlenecking yang digelar di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026). Ia menambahkan, Blok Masela berlokasi di wilayah timur Indonesia, tepatnya di kawasan laut dalam dengan kedalaman sekitar 800 meter dan berada di daerah yang masih minim infrastruktur. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam tahap konstruksi. Blinco menegaskan, proyek ini bukan sekadar pengembangan fasilitas LNG, melainkan juga pengembangan kawasan di Indonesia timur yang selama ini belum tersentuh infrastruktur besar. "Ini bisa menjadi tantangan yang cukup besar, terutama jika kita memikirkan kegiatan konstruksi yang perlu dilakukan, yang sangat menantang di bagian dunia ini, mengingat tidak adanya infrastruktur," katanya. Secara struktur kepemilikan, proyek ini digarap oleh Inpex Masela bersama Pertamina dan Petronas sebagai mitra. Dari sisi kapasitas, proyek ini ditargetkan memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain itu, terdapat alokasi gas domestik sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) serta produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Baca Juga: Tak Semua ASN Bisa Jadi Komcad, Ini Penjelasan Menpan RB Artinya, proyek ini tidak hanya menghasilkan LNG, tetapi juga kondensat yang memiliki nilai ekonomi tambahan. Proyek Masela sendiri telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017. Dalam pengembangannya, proyek ini akan melibatkan 11 sumur subsea yang terhubung ke fasilitas FPSO (Floating Production Storage and Offloading). Gas yang diproses di FPSO kemudian dialirkan melalui pipa sepanjang sekitar 180 kilometer menuju fasilitas LNG darat di Pulau Yamdena, dekat Kota Saumlaki. Menariknya, proyek ini juga mengintegrasikan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan akan dipisahkan dan diinjeksikan kembali ke bawah laut. Menurut Blinco, langkah ini penting untuk menghasilkan "clean LNG" yang kini semakin dituntut pasar internasional. Ia juga menekankan bahwa skala proyek Masela jauh lebih besar dibanding proyek LNG lain yang pernah dikembangkan di Indonesia. Bahkan, nilainya disebut hampir dua kali lipat dari proyek-proyek sejenis di dalam negeri, serta masuk tiga hingga empat besar proyek LNG dunia dari sisi skala. Besarnya skala proyek membuat Inpex harus bersaing secara global dalam mendapatkan kontraktor dan pemasok. Saat ini, permintaan pembangunan fasilitas LNG juga tinggi di Amerika Serikat dan Timur Tengah.
Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji, Bulog Siap Mengirim 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi "Inilah tantangan yang kita hadapi. Untuk mengembangkan proyek ini, proyek sebesar ini, kita bersaing dengan dunia," katanya. Karena itu, Inpex meminta dukungan pemerintah, terutama dalam penyederhanaan dan percepatan regulasi agar proyek dapat dieksekusi lebih cepat dan efisien.
"Bagaimana kita dapat menyederhanakan peraturan dan bahkan membuatnya sedikit lebih mudah sehingga kontraktor dapat masuk dan membangunnya lebih cepat dan lebih murah. Itulah yang ingin kita capai," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News