Nasib Rakyat: Pusing Tak Tercatat, Kemiskinan Membaik di Grafik.
Kamis, 05 Februari 2026 15:11 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) kembali membawa kabar gembira yang terdengar seperti pengumuman diskon besar-besaran: kemiskinan nasional turun. Angkanya rapi, grafiknya manis, dan persentasenya ramah di mata. Per September 2025, kemiskinan tercatat 8,25 persen atau 23,36 juta orang. Turun 490.000 orang dibanding Maret 2025. Hampir setengah juta orang “naik kelas” dalam enam bulan. Sebuah prestasi yang, jika dilihat dari jauh, tampak seperti lompatan besar. Jika dilihat dari dekat, terasa seperti langkah kecil yang diumumkan dengan pengeras suara stadion. Yang lebih memukau, penurunan ini terjadi meski garis kemiskinan naik 5,30 persen. Logikanya sederhana: standar hidup makin mahal, tapi jumlah orang miskin tetap turun. Ini seperti lomba lari di mana garis finis digeser lebih jauh, tapi pelari dinyatakan sudah sampai duluan.
BPS menjelaskan bahwa tren penurunan ini konsisten sejak Maret 2023. Artinya, konsistensi memang ada. Konsistensi angka. Konsistensi rilis. Konsistensi optimisme. Sementara itu, konsistensi realitas di lapangan tampaknya memilih jalur berbeda. Baca Juga: Danantara Wajibkan Sinergi Antar BUMN, Pengamat: Ini Bertentangan dengan UU Jawa Masih Juara Kemiskinan Dari 23,36 juta penduduk miskin, sebanyak 12,32 juta orang tinggal di Pulau Jawa. Lebih dari setengah total nasional. Jawa kembali mempertahankan tradisinya sebagai pusat segalanya: pusat ekonomi, pusat politik, pusat kemacetan, dan pusat kemiskinan. Di wilayah lain, penurunan terdalam terjadi di Maluku dan Papua. Wilayah yang selama ini paling jarang jadi panggung pembangunan, justru paling cepat menunjukkan perbaikan. Mungkin karena ekspektasinya memang rendah, jadi mudah terlihat membaik. Tonton: Vortexa Sebut Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Bantah! Kualitas Kemiskinan Membaik (Kata Indeks) Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun. Gini Ratio turun ke 0,363. Indeks-indeks ini tampak sibuk bekerja keras membaik di atas kertas, sementara harga beras, telur, minyak, dan sewa rumah tetap memilih naik di dunia nyata. Ketimpangan di kota masih lebih tinggi dibanding desa. Tapi jangan khawatir, kata BPS, trennya sama-sama turun. Ini kabar baik: yang timpang masih timpang, tapi sudah lebih nyaman secara statistik. Baca Juga: Danantara Wajibkan BUMN Belanja ke Sesama Pelat Merah, Ombudsman Ungkap Hal Ini Garis Kemiskinan yang Kian Tinggi, Harapan yang Kian Rendah Garis kemiskinan per rumah tangga kini Rp 3.053.269 per bulan, dengan rata-rata anggota keluarga 4,76 orang. Artinya, satu keluarga dengan hampir lima orang dianggap tidak miskin jika hidup dengan sekitar Rp 3 juta per bulan. Sekitar Rp 630 ribu per orang. Angka yang, dalam praktiknya, harus cukup untuk makan, bayar listrik, air, sekolah, transportasi, dan sesekali sakit. Tapi setidaknya, menurut definisi resmi, mereka tidak lagi termasuk orang miskin. Mereka mungkin masih pusing, tapi pusing yang sudah tidak tercatat. Tonton: Ray Dalio: Emas Tetap Aset Teraman di Tengah Ketidakpastian Global Pertanian Membaik, Pekerjaan Bertambah, Konsumsi Menguat BPS mencatat penyerapan tenaga kerja 1,90 juta orang dalam setahun. Pekerja formal meningkat. Sektor pertanian membaik. Ekonomi kuartal III-2025 tumbuh 5,04 persen. Semua indikator bergerak ke arah yang benar. Kecuali satu indikator yang tidak pernah masuk rilis: perasaan masyarakat bahwa hidup mereka benar-benar lebih ringan. Pemerintahan yang Sukses di Grafik Di era Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, keberhasilan tampaknya paling jelas terlihat di layar presentasi. Slide demi slide menunjukkan perbaikan. Angka demi angka membentuk narasi kemajuan.
Kemiskinan turun.
Ketimpangan turun.
Pengangguran turun.
Yang tidak ikut turun mungkin hanya harga kebutuhan pokok dan ekspektasi publik. Pemerintah berhasil membuat kemiskinan terlihat semakin kecil. Bukan dengan membuat hidup rakyat jauh lebih mudah, tetapi dengan membuat definisi kemiskinan semakin rapi. Karena di negeri ini, selama angka membaik, realitas bisa menunggu giliran. Dan rakyat, sekali lagi, diminta percaya: jika statistik bilang hidup lebih baik, maka hidup memang harus terasa lebih baik.