NATO Ketar-ketir, Waspadai Peningkatan Kerja Sama Militer China dan Rusia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kerja sama antara China dan Rusia, terutama di bidang militer.

Kekhawatiran ini disampaikan langsung oleh Panglima Tertinggi NATO di Eropa (Supreme Allied Commander Europe/SACEUR), Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat Alexus Grynkewich, pada Kamis waktu setempat.

Grynkewich menilai kolaborasi Beijing dan Moskow telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik di wilayah maritim maupun udara. Ia menyoroti peningkatan patroli gabungan di laut serta pelaksanaan patroli pembom jarak jauh yang dilakukan secara bersama-sama oleh kedua negara.


“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat peningkatan kerja sama itu, baik di domain maritim melalui patroli bersama yang semakin intens, maupun di domain udara dengan patroli pembom jarak jauh yang dilakukan secara gabungan,” ujar Grynkewich kepada para jurnalis.

Baca Juga: Ambisi Trump Kuasai Greenland Bayangi Agenda Davos, Picu Ketegangan Sekutu NATO

Menurutnya, perkembangan tersebut mendorong NATO untuk terus mengevaluasi dan memperkuat kesiapan militernya, khususnya di kawasan strategis seperti Arktik. Wilayah ini dinilai semakin penting dari sisi keamanan dan geopolitik seiring meningkatnya aktivitas negara-negara besar.

“Kami terus berupaya meningkatkan postur pertahanan dan memikirkan berbagai cara agar negara-negara anggota dapat memperkuat posisi NATO di Arktik,” kata Grynkewich.

Di sisi lain, dinamika geopolitik juga terjadi terkait wilayah Greenland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu secara tiba-tiba menarik kembali ancamannya untuk memberlakukan tarif sebagai alat tekanan guna mengambil alih Greenland.

Baca Juga: Desakan AS atas Greenland Picu Krisis, Mantan Bos NATO Minta Eropa Melawan

Trump juga menegaskan menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer dan menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri sengketa terkait wilayah Denmark tersebut sudah mulai terlihat.

Menanggapi hal itu, NATO menyatakan masih menunggu arahan lebih lanjut terkait potensi kesepakatan mengenai Greenland. Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, mengatakan aliansi tersebut akan bersikap sesuai dengan keputusan politik yang diambil oleh para pemimpin negara terkait.

Selanjutnya: Dana Asing Keluar dari Pasar Saham, Ini Dampaknya ke IHSG

Menarik Dibaca: 5 Makanan Ultra Olahan yang Masih Aman Dikonsumsi untuk Kesehatan Tubuh