NATO Klaim Eropa Keluar dari Ketergantungan Militer AS, Genjot Bujet 5% dari PDB



KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON D.C. — Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan bahwa era ketergantungan sepihak pertahanan Eropa terhadap militer Amerika Serikat (AS) telah berakhir. 

Dalam pidatonya di Ronald Reagan Institute, pada Kamis 9 April 2026 di Washington DC Amerika Serikat, Rutte memuji kepemimpinan AS yang berhasil memaksa para sekutu di Eropa untuk bertransformasi dari sekadar pengikut Amerika Serikat menjadi mitra yang tangguh secara militer.

Ia menilai, saat ini telah terjadi kemitraan hard power yang melampaui bayang-bayang masa perang dingin.


Rutte mengenang warisan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang ia klaim telah memenangkan Perang Dingin melalui kekuatan nyata. 

Namun, ia memberikan catatan kritis terhadap masa "akhir sejarah" di mana Eropa sempat terlena dan membiarkan anggaran pertahanan menyusut hingga tidak relevan untuk menjaga wilayah mereka sendiri.

"Ketergantungan yang tidak sehat membuat kita menganggap kekuatan militer (hard power) sebagai sesuatu yang memalukan. Namun, sejarah membuktikan bahwa Rusia dan Vladimir Putin masih menggunakan kekuatan fisik untuk memaksakan kehendak," tegas Rutte seperti dikutip dari naskah pidato yang dipublikasikan NATO.

Baca Juga: Gedung Putih Perintahkan Militer AS untuk Fokus pada Karantina Minyak Venezuela

Target Bujet 5% PDB

Titik balik krusial terjadi pada Konfrensi Tingkat Tinggi atau KTT NATO di Den Haag Belanda musim panas tahun lalu. 

Rutte menyebut, bawah dorongan kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, negara-negara anggota sepakat untuk menyuntikkan dana sebesar 5% dari PDB ke dalam sektor pertahanan. 

Angka ini melampaui target historis 2% yang selama ini sulit dipenuhi banyak negara.

Investasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan langkah konkret untuk:

Pertama Refilling Magazines: Mengisi kembali stok amunisi dan persenjataan yang terkuras akibat perang.

Kedua, Triple Production: Mengikuti jejak AS yang baru saja menyepakati kontrak untuk melipatgandakan produksi rudal Patriot hingga tiga kali lipat.

Ketiga, Pengembangan Teknologi Drone: Mengadopsi teknologi interseptor drone hasil pembelajaran dari medan perang Ukraina untuk menangkal ancaman drone dari Rusia dan Iran.

Tonton: PM Inggris Keir Starmer Membalas Sindiran Donald Trump! NATO Terpecah?

Bukan Satu Arah

Pada kesempatan itu, Rutte mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyatakan NATO menjadi beban bagi Amerika Serikat lantaran Amerika sudah mengeluarkan banyak duit untuk operasional pangkalan militer di luar negeri dalam rangka kerjasama dengan NATO.

Menanggapi kritik Donald Trump dan menteri-menterinya bahwa aliansi NATO ini memberatkan AS, Ia menegaskan bahwa NATO kini adalah jalan dua arah.

Rutte memaparkan bukti nyata di lapangan: saat jet MIG-31 Rusia melanggar wilayah udara Estonia musim gugur lalu, jet tempur Italia, Finlandia, dan Swedia-lah yang memukul mundur mereka, bukan jet tempur Amerika Serikat. 

Begitu pula saat drone Rusia memasuki wilayah Polandia, F-35 milik Belanda yang mengeksekusi penghancuran drone tersebut.

"Eropa kini mengambil tanggung jawab yang lebih besar dan lebih adil. Kita bergeser dari ketergantungan yang tidak sehat menuju kemitraan trans atlantik sejati," pungkas Rutte.

Sekutu Kompak Menolak Bantu, Trump Serang NATO, Jepang hingga Australia
© 2026 Konten oleh Kontan