KONTAN.CO.ID - BRUSSEL. Para Menteri Keuangan zona euro mendorong perluasan peran global euro. Langkah ini diambil sebagai mitigasi atas berbagai kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dianggap mengacaukan pasar dan melemahkan dolar AS. Inisiatif tersebut terungkap dalam pertemuan antar Menteri Keuangan negara Uni Eropa. “Mengingat peristiwa geopolitik baru-baru ini dalam konteks geopolitik saat ini, ada risiko bahwa sistem keuangan dan moneter internasional digunakan sebagai alat politik,” kata Menteri Keuangan Yunani Kyriakos Pierrakakis, seperti dikutip
Bloomberg, Selasa (17/2/2026). Pierrakakis, yang memimpin pertemuan antar Menteri Keuangan tersebut, menyebut, Uni Eropa perlu melindungi peran internasional euro. “Karena hal itu sangat relevan dengan kedaulatan moneter Uni Eropa,” imbuh dia.
Baca Juga: Ekonomi Jerman Tahun Ini Diperkirakan Akan Tumbuh 1% Komentar tersebut muncul tepat setelah European Central Bank (ECB) mempublikasikan langkah terbaru untuk mempromosikan euro. Pada akhir pekan lalu, lembaga kebijakan moneter tersebut mengumumkan siap menawarkan likuiditas euro kepada bank sentral dari seluruh dunia. Proposal tersebut adalah salah satu gagasan yang termasuk dalam makalah Komisi Eropa yang disiapkan menjelang pertemuan para menteri di Brussel. Dokumen tersebut, yang dilihat oleh Bloomberg, menyerukan penguatan diplomasi euro dengan meyakinkan negara-negara mitra tentang akses ke mata uang bersama. ECB menilai, AS tidak terlalu berminat memasok likuiditas dolar di periode penuh ketidakpastian. Di masa seperti ini, menawarkan likuiditas euro kepada negara mitra dapat menjadi pemanis bagi strategi perdagangan Uni Eropa dan meningkatkan peran internasional euro.
Baca Juga: Trump Incar 8 Negara Eropa, UE Siapkan “Bazoka Dagang” Dokumen tersebut mengeksplorasi cara-cara untuk mempromosikan penggunaan euro dalam penerbitan dan transaksi, terutama di sektor-sektor utama, seperti energi, bahan baku penting, transportasi udara, dan sektor pertahanan. ECB telah berulang kali menekankan perlunya meningkatkan posisi internasional euro. Presiden Bundesbank Joachim Nagel, pada Senin (16/2/2026), kembali menyuarakan sentimen tersebut. Negara-negara Eropa juga segendang sepenarian. “Investor internasional ingin melakukan diversifikasi, mereka mencari kontak dengan Eropa, itulah sebabnya kami ingin menjadi tempat yang aman bagi investasi modal dari seluruh dunia,” kata Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil.
Baca Juga: Fitch: Rating Utang Negara Eropa Bisa Turun Bila NATO Pecah Akibat Greenland Namun, para pejabat Prancis menilai kebijakan tersebut dapat merugikan eksportir, lantaran berpotensi memperkuat kurs euro terhadap dolar AS. Karena itu, menurut sumber di Kementerian Keuangan Prancis, negara Menara Eiffel ini ingin memastikan terlebih dulu mengenai mitigasi atas risiko tersebut. Komisaris Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis sepakat. Ia mengatakan, Uni Eropa harus mengamati dengan cermat efek limpahan ini. “Dalam konteks peran internasional yang lebih kuat untuk euro, kita juga harus mempertimbangkan implikasi apa yang akan ditimbulkannya terhadap nilai tukar,” katanya. Para menteri keuangan negara-negara Eropa juga membahas peningkatan ketidakseimbangan global, dengan menghadirkan Menteri Keuangan Kanada Francois-Philippe Champagne, untuk membahas masalah tersebut. Dombrovskis mengatakan, China dan AS mendorong meningkatnya ketidakseimbangan tersebut.
Baca Juga: 10 Negara Eropa Paling Rawan Pencopetan: Kenali Taktik & Tips Mencegahnya “Kebijakan China dan AS saat ini merupakan kontributor terbesar terhadap meningkatnya ketidakseimbangan, tetapi Uni Eropa juga masih perlu berbuat sesuatu,” kata Dombrovskis.