KONTAN.CO.ID - Ketua Forum Kepulauan Pasifik (Pacific Islands Forum/PIF) mendorong negara-negara anggotanya untuk mengambil sikap bersama terhadap uji coba rudal China di kawasan Pasifik. Presiden Palau Surangel Whipps Jr. mengatakan, dirinya berharap 18 negara anggota PIF dapat mencapai konsensus untuk mengutuk uji coba rudal balistik China tersebut.
Baca Juga: Optimisme Pebisnis Jasa Australia Capai Level Tertinggi Enam Bulan, PMI Jasa Melesat Whipps menyampaikan hal itu pada Kamis (3/9/2026), bertepatan dengan hari terakhir pertemuan tingkat tinggi PIF yang tahun ini turut diwarnai perselisihan antara China dan Taiwan. “Hal itu jelas merupakan sesuatu yang akan kami bahas hari ini, dan suara Pasifik yang bersatu sangat penting untuk membuat Beijing menghormati kedaulatan, transparansi, dan menjadi mitra yang bertanggung jawab,” ujar Whipps dalam konferensi pers dilansir dari
Reuters. “Kami tidak ingin halaman belakang kami, rumah kami, terancam dan benar-benar tidak dihormati,” lanjutnya. Uji coba rudal balistik China pada Juli lalu merupakan peluncuran rudal pertama yang diketahui dilakukan Beijing di kawasan Pasifik sejak September 2024. Uji coba tersebut dilakukan beberapa jam setelah Fiji dan Australia menandatangani perjanjian pertahanan penting yang menjadi aliansi pertahanan pertama bagi Fiji. Namun, pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Kepulauan Pasifik pada bulan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk mengeluarkan pernyataan yang mengutuk uji coba rudal tersebut.
Baca Juga: Terungkap! 3 Alasan Julian Alvarez Tolak Pindah ke Arsenal dan Bertahan di Spanyol Padahal, sejumlah pemimpin negara secara terbuka maupun tertutup telah menyampaikan kekhawatiran mengenai meningkatnya militerisasi di kawasan Pasifik. China menyatakan, uji coba rudal tersebut dilakukan dengan aman. Ketegangan China-Taiwan Warnai Pertemuan Pertemuan PIF tahun ini juga dibayangi keberatan China atas kehadiran Taiwan dalam forum tersebut. Beijing menyatakan Taiwan tidak memenuhi syarat untuk menghadiri pertemuan PIF. Palau sebagai tuan rumah merupakan salah satu dari tiga negara kepulauan Pasifik yang masih memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.
Baca Juga: Lando Norris Dirikan LN4 Fusion, Bidik Formula 3 hingga Formula 2 China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa Taiwan berada di bawah kendalinya. Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut. Ketegangan antara Beijing dan Taipei pun menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tahunan PIF yang beranggotakan Australia, Selandia Baru dan negara-negara kepulauan Pasifik. Sejumlah pemimpin negara Pasifik bahkan tidak menghadiri pertemuan tersebut. Perdana Menteri Fiji, Vanuatu, Samoa dan Kepulauan Solomon, serta Presiden Kiribati, mengirimkan menteri berpangkat lebih rendah sebagai perwakilan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa absennya sejumlah pemimpin dapat mengurangi dampak dan hasil pertemuan PIF tahun ini.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters pada Selasa (1/9) mengatakan dirinya sangat mencurigai kemungkinan adanya campur tangan asing di balik absennya sejumlah pemimpin negara.
Baca Juga: Ronaldo dan Roberto Carlos Ambil Alih Inter de Limeira, Investasi Rp1,35 Triliun Meski demikian, Peters tidak secara langsung menuduh Beijing berada di balik ketidakhadiran tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menilai pernyataan Peters tersebut tidak berdasar.