KONTAN.CO.ID - Negara-negara Teluk dikabarkan mendukung usulan Oman yang memungkinkan Iran memungut iuran sukarela dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi jalan keluar untuk mengakhiri gangguan perdagangan minyak yang dipicu konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Mengutip
Reuters, Selasa (28/7/2026), seorang sumber dari kawasan Teluk mengatakan, skema yang diusulkan Oman telah memperoleh dukungan negara-negara di kawasan tersebut.
Baca Juga: Industri Judi Olahraga Gelontorkan US$ 72 Juta untuk Pemilu Paruh Waktu AS Di bawah proposal tersebut, Iran tidak akan memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, sementara pembayaran yang dipungut dari kapal bersifat sukarela, bukan wajib. Skema ini disebut serupa dengan mekanisme di Selat Malaka, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura meminta kontribusi sukarela dari kapal-kapal untuk membiayai layanan navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan. Usulan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan secara mendadak kampanye pemboman terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Trump mengatakan pembicaraan dengan Teheran berlangsung "baik", namun memperingatkan serangan dapat kembali dilancarkan apabila negosiasi gagal membuahkan hasil. Sementara itu, Iran membantah sedang mengupayakan dimulainya kembali perundingan dengan AS. Sebelumnya, Washington melancarkan serangan udara bulan ini dengan tujuan mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Harga Tembaga Lanjutkan Pelemahan Jelang Rapat The Fed Setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal asing dan hanya mengizinkan kapal miliknya sendiri melintas. Kesepakatan yang dicapai AS dan Iran pada Juni sempat membuka kembali sebagian jalur tersebut. Namun, kesepakatan itu runtuh pada awal Juli setelah Iran menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang tidak disetujui Teheran. Iran sebelumnya menyatakan ingin mengelola Selat Hormuz bersama Oman, yang menguasai sisi pantai berseberangan, sekaligus mengenakan biaya layanan kepada kapal yang melintas. Sebaliknya, AS menginginkan kondisi kembali seperti sebelum perang, ketika kapal dapat melintasi Selat Hormuz tanpa dikenai pembayaran apa pun. Washington juga menilai pungutan wajib akan melanggar hukum internasional. Pada Senin (27/7), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membahas isu Selat Hormuz bersama para menteri luar negeri Oman dan Arab Saudi. Dalam pertemuan tersebut, Araqchi menekankan pentingnya kerja sama regional, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Baca Juga: Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Puluhan Terluka dan 150.000 Warga Dievakuasi Trump ancam lanjutkan serangan Trump mengatakan, ia menghentikan kampanye pemboman terbaru setelah menerima masukan dari para komandan militer bahwa operasi tersebut telah mencapai tujuannya. Selama 13 hari serangan udara, puluhan orang dilaporkan tewas di Iran, sementara sejumlah jembatan, terowongan, dan fasilitas militer di wilayah selatan negara itu mengalami kerusakan. Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan militer AS di negara-negara tetangga yang menewaskan empat personel militer AS. Iran juga menyerang infrastruktur sipil di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan AS terhadap sasaran sipil.
Baca Juga: Bursa Asia Anjlok ke Level Terendah Tiga Bulan, Rupiah Dekati Rekor Terlemah Iran menyatakan akan menahan diri selama AS juga menghentikan serangannya. Namun, laporan mengenai serangan pesawat nirawak masih muncul di Yordania, Arab Saudi, dan Iran utara pada Senin, sementara Yordania kembali melaporkan berhasil menembak jatuh sebuah drone pada Selasa. Trump mengatakan masih ada peluang tercapainya kesepakatan damai. "Saya pikir ada peluang bagus sesuatu bisa terjadi. Jika itu terjadi, bagus. Jika tidak, kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari lalu," ujarnya. Meski demikian, Iran menegaskan tidak mengajukan negosiasi baru dengan AS dan menuduh Washington telah melanggar kesepakatan kerangka perundingan yang dicapai pada Juni lalu. Trump dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington pada Selasa. Meski Israel terlibat dalam serangan awal terhadap Iran, negara itu tidak ikut dalam pembicaraan damai berikutnya. Hubungan Trump dan Netanyahu juga dilaporkan sempat memanas karena Trump menahan Israel agar tidak memperluas serangan ke Lebanon yang dapat mengganggu proses negosiasi dengan Teheran.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan Dekat Puncak 4 Pekan, Pasar Menanti Keputusan The Fed Meredanya konflik mendorong harga minyak turun tajam. Harga minyak mentah Brent anjlok sekitar 8% pada Senin dan kembali melemah lebih dari 2,5% menjadi sekitar US$ 86 per barel pada perdagangan Selasa. Washington dan Teheran sebelumnya telah menyepakati kerangka perundingan yang ditargetkan berlangsung hingga akhir Agustus untuk membahas isu-isu utama, termasuk program nuklir Iran. Namun, kedua pihak masih berbeda penafsiran mengenai klausul terkait Selat Hormuz. AS menilai, kesepakatan tersebut mewajibkan Iran menjamin kebebasan pelayaran, sedangkan Iran menganggapnya memberikan kewenangan untuk mengawasi lalu lintas kapal di selat tersebut.