KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa terobosan signifikan. Meski demikian, dialog antara kedua negara masih terus berjalan di tengah upaya meredakan konflik yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Pertemuan yang digelar di Islamabad pada akhir pekan lalu menjadi kontak langsung pertama antara pejabat tinggi kedua negara dalam lebih dari satu dekade, sekaligus yang paling senior sejak Revolusi Islam Iran 1979. Negosiasi berlangsung di Hotel Serena, dengan delegasi kedua negara ditempatkan di area terpisah dan difasilitasi mediator dari Pakistan. Sejumlah isu krusial menjadi fokus pembahasan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi internasional terhadap Teheran.
Hampir Capai Kesepakatan
Menurut sumber yang mengetahui jalannya perundingan, kedua pihak sempat mendekati kesepakatan. Bahkan, proses negosiasi disebut telah mencapai sekitar 80% sebelum akhirnya menemui kebuntuan pada isu-isu krusial yang tidak dapat diputuskan saat itu.
Baca Juga: Korsel Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Ketegangan di Selat Hormuz Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menjadi tokoh utama dalam perundingan, bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Suasana perundingan disebut berlangsung tegang dan penuh dinamika. Beberapa kali delegasi meninggalkan ruangan sebelum kembali melanjutkan diskusi. Meski sempat membaik pada Minggu pagi, perbedaan mendasar tetap menghambat tercapainya kesepakatan final.
Perbedaan Utama: Nuklir dan Hormuz
Amerika Serikat menegaskan bahwa tujuan utama perundingan adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Selain itu, Washington juga mendorong penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama, serta pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pungutan. Di sisi lain, Iran menuntut jaminan gencatan senjata permanen, pencabutan seluruh sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, serta pengakuan atas hak pengayaan uranium. Teheran juga ingin tetap mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz. Perbedaan kepentingan ini menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan, meskipun kedua pihak menunjukkan keinginan untuk melanjutkan dialog.
Peran Pakistan sebagai Mediator
Pemerintah Pakistan memainkan peran penting dalam menjaga jalannya negosiasi. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menegaskan bahwa upaya untuk mencapai solusi masih terus dilakukan. Pejabat Pakistan, termasuk Kepala Angkatan Darat Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, aktif menjembatani komunikasi antara kedua delegasi sepanjang perundingan yang berlangsung lebih dari 20 jam.
Tekanan Global dan Kepentingan Ekonomi
Konflik yang telah berlangsung selama enam minggu ini telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak besar terhadap distribusi minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi serta inflasi global. Di dalam negeri, tekanan politik juga meningkat bagi Presiden AS Donald Trump, seiring kekhawatiran publik terhadap dampak ekonomi dan potensi eskalasi konflik menjelang pemilu paruh waktu.
Baca Juga: Kapal Tanker China Terobos Blokade AS di Selat Hormuz, Ini Dampaknya! Sementara itu, kondisi ekonomi Iran yang terdampak perang juga menjadi faktor pendorong bagi Teheran untuk mempertimbangkan deeskalasi.
Dialog Masih Terbuka
Meski belum menghasilkan kesepakatan, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komunikasi. Gedung Putih menegaskan bahwa posisi AS tidak berubah, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. JD Vance menyatakan bahwa AS telah mengajukan proposal final sebagai dasar kesepahaman. “Kami meninggalkan perundingan dengan proposal sederhana yang merupakan tawaran terbaik kami. Kita lihat apakah Iran akan menerimanya,” ujarnya. Dengan berbagai kepentingan yang saling bertolak belakang, jalan menuju kesepakatan masih panjang. Namun, keberlanjutan dialog memberi harapan bahwa solusi diplomatik tetap memungkinkan di tengah ketegangan geopolitik yang tinggi.