KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang menemui kebuntuan berdampak pada pergerakan valuta asing (valas) komoditas. Mengutip
Trading Economics Rabu (29/4/2026) pukul 15.45 WIB, pasangan valas AUD/USD di level 0,7158, terkoreksi 0,32% secara harian. Pairing valas NZD/USD di level 0,5861, melemah 0,38% secara harian. Pasangan valas USD/CAD di level 1,3682, terkoreksi 0,01% secara harian.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan saat perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan, pasar global biasanya langsung merespons melalui dua jalur utama. Yakni kenaikan harga minyak dan meningkatnya permintaan terhadap aset
safe haven.
Baca Juga: Emas dan Perak Melemah, Dolar AS Perkasa Tekan Harga Logam Mulia “Kombinasi ini menciptakan dampak yang sangat menarik bagi pasar valuta asing, khususnya pada kelompok mata uang komoditas seperti dolar Kanada (CAD), dolar Australia (AUD), dolar Selandia Baru (NZD),” ujar Nanang kepada Kontan, Rabu (29/4/2026). Nanang melihat banyak pelaku pasar mengira seluruh mata uang komoditas akan otomatis menguat ketika harga minyak naik. Kenyataannya, kondisi pasar jauh lebih kompleks. Tidak semua
commodity currencies bereaksi dengan cara yang sama. Dalam situasi geopolitik seperti kebuntuan AS–Iran, justru terjadi perbedaan performa yang cukup tajam antar mata uang tersebut. Dolar Kanada biasanya menjadi pemenang utama dalam situasi ini. Kanada adalah salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, sehingga kenaikan harga
crude oil secara langsung memberikan dukungan fundamental terhadap CAD. Ketika harga minyak naik, pendapatan ekspor Kanada meningkat dan pasar cenderung mengantisipasi dampak positif terhadap ekonomi domestik. Hal ini membuat CAD relatif lebih kuat dibanding mata uang G10 lainnya. Jika kebuntuan AS–Iran terus berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, CAD berpotensi menjadi outperformer utama. “Strategi yang paling umum digunakan
trader adalah
sell USD/CAD
on rally.
Pair ini sering dianggap sebagai instrumen paling bersih untuk memanfaatkan tema geopolitik minyak. AUD memang dikenal sebagai
commodity currency, tetapi penggeraknya tidak sama dengan CAD,” terang Nanang.
Baca Juga: Penawaran Lelang SUN Tembus Rp 74,95 Triliun, Pemerintah Hanya Serap Rp 40 Triliun Selanjutnya, Dolar Australia jauh lebih sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi China, sentimen pasar global, dan pergerakan ekuitas dunia. Ketika kebuntuan AS–Iran memicu
risk-off sentiment, investor justru cenderung menghindari aset berisiko, termasuk AUD. Artinya, meskipun harga komoditas naik, AUD belum tentu ikut menguat. Jika pasar lebih fokus pada ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS sebagai
safe haven, AUD/USD justru bisa melemah. “Karena itu, pendekatan yang lebih bijak adalah
sell AUD/USD on rally, bukan
buy agresif,” kata Nanang. Berikutnya, Nanang bilang Dolar Selandia Baru atau Kiwi biasanya menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul dalam kondisi seperti ini. NZD sangat sensitif terhadap risk appetite global. Ketika pasar memasuki mode risk-off, investor cenderung keluar dari aset berisiko tinggi dan mencari perlindungan pada USD. Karena Selandia Baru bukan eksportir energi utama seperti Kanada atau Norwegia, NZD tidak mendapat manfaat langsung dari kenaikan harga minyak. Akibatnya, pair seperti NZD/USD sering menjadi target sell favorit trader institusional. “Dalam konteks kebuntuan AS–Iran, NZD sering menjadi salah satu mata uang dengan prospek paling lemah,” imbuhnya. Secara umum, Nanang merekomendasikan
buy oil currencies seperti CAD. Sementara risk currencies SELL NZD dan AUD secara selektif.
Baca Juga: Emas dan Perak Melemah, Dolar AS Perkasa Tekan Harga Logam Mulia “Kebuntuan perundingan AS–Iran bukan sekadar isu politik, tetapi juga penggerak besar bagi pasar forex global. Dampaknya terhadap valas komoditas sangat signifikan, terutama melalui jalur harga minyak dan sentimen risk-off,” jelas Nanang. Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX menambahkan, pelaku pasar menanti keputusan kebijakan dari Bank of Canada dan Federal Reserve yang diperkirakan sama-sama mempertahankan suku bunga. Fokus utama tertuju pada arah kebijakan ke depan, terutama terkait dampak inflasi energi, sehingga pergerakan USD/CAD cenderung terbatas dengan bias menguat dalam jangka pendek. Amru juga bilang ekspektasi kebijakan
hawkish dari Reserve Bank of Australia masih menjadi faktor penopang, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Di sisi lain, pergerakan dolar AS yang relatif terbatas menjelang keputusan Federal Reserve turut menahan tekanan lebih dalam. “Kombinasi faktor ini membuat AUD/USD bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek,” kata Amru. Selain itu, Reserve Bank of New Zealand diperkirakan akan mempertahankan sikap hati-hati dengan kecenderungan pengetatan kebijakan untuk menekan inflasi yang masih tinggi. Pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, terutama setelah data inflasi kuartal pertama yang kuat. “Ke depan, arah NZDUSD akan sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan bank sentral serta dinamika global,” terang Amru.
Baca Juga: Laporkan Kinerja Q1 2026, Gojek dan GoPay Makin Cuan Dalam jangka pendek, Amru memperkirakan pasangan AUD/USD berada di area
support 0,7140 dan
resistance berada di area 0,7200. Pasangan NZD/USD berada di area
support 0,5860 dan
resistance berada di area 0,5920.
Pairing USD/CAD berada di area
support 1,3630 dan
resistance berada di area 1,3700. Sementara Nanang memproyeksikan pasangan AUD/USD di kisaran 0,7000 – 0,7250 pada kuartal II-2026. Pairing NZD/USD di kisaran 0,5800 – 0,6050. Pasangan USD/CAD diproyeksi di kisaran 1,3550 – 1,4000 pada kuartal II-2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News