Negosiasi AS-Iran Menguat, Dolar AS Tertekan ke Level Terendah 6 Pekan Rabu (15/4)



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah mendekati level terendah dalam enam minggu terakhir pada Rabu (15/4/2026), seiring meningkatnya harapan pasar terhadap kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran.

Optimisme tersebut mendorong pelaku pasar beralih ke aset berisiko (risk-on), sehingga menekan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun Rabu (15/4) Pagi: Brent ke US$ 94,27 per Barel


Mengutip Reuters, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik dengan Iran berpotensi kembali dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan.

Pernyataan ini memicu ekspektasi bahwa ketegangan geopolitik dapat mereda dalam waktu dekat.

Sebagai dampaknya, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 98,109 atau mendekati titik terendah dalam lebih dari enam minggu.

Sementara itu, mata uang euro menguat ke level US$1,1793, mendekati posisi tertinggi sejak awal Maret. Poundsterling juga menguat ke US$1,3574.

Baca Juga: AS Tuduh China Timbun Minyak Saat Perang, Sebut Mitra Global Tak Dapat Diandalkan

Analis pasar dari IG Tony Sycamore menyebut bahwa pasar mulai melihat konflik ini sebagai guncangan energi yang bersifat sementara.

“Pasar semakin berharap ketegangan akan segera mereda, sehingga pemerintah AS dapat beralih fokus pada stimulus ekonomi menjelang pemilu,” ujarnya.

Penurunan dolar juga dipicu oleh melemahnya harga minyak. Harga minyak mentah Brent tercatat turun ke kisaran US$94 per barel setelah sebelumnya anjlok tajam.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$90 per barel.

Kondisi ini terjadi di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan permintaan terhadap aset aman.

Baca Juga: Kapal Perang AS Cegat Dua Tanker Minyak Iran, Blokade Mulai Diuji Efektivitasnya

Kini, dengan meningkatnya harapan diplomasi, investor mulai mengurangi posisi defensif dan kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham dan mata uang komoditas.

Secara keseluruhan, pergerakan lintas aset menunjukkan perubahan sentimen pasar dari mode defensif menuju optimisme, dengan asumsi bahwa konflik Timur Tengah tidak akan berlangsung lama dan dampaknya terhadap ekonomi global dapat terbatas.