Negosiasi Damai AS-Iran di Swiss Batal, Harapan Gencatan Senjata Memudar



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON/DUBAI. Rencana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sedianya digelar di Swiss pada Jumat (19/6/2026) resmi dibatalkan. Pembatalan tersebut memunculkan kembali ketidakpastian mengenai prospek perdamaian jangka panjang di Timur Tengah setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara.

Pemerintah Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan yang direncanakan berlangsung di kawasan resor pegunungan Burgenstock tidak jadi dilaksanakan. Keputusan itu muncul setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana perjalanannya ke negara tersebut.

Juru bicara Gedung Putih menjelaskan bahwa proses penyusunan negosiasi memang sejak awal tidak berjalan mudah. "Logistik untuk negosiasi ini memang tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi." ungkapnya.


Menurut pernyataan tersebut, JD Vance bersama delegasi Amerika Serikat sebenarnya telah siap berangkat begitu seluruh rencana perjalanan diselesaikan.

Baca Juga: Serangan Israel ke Lebanon Selatan Tewaskan 15 Orang, Ketegangan Kembali Memanas

Iran Masih Menunggu Implementasi Kesepakatan

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Iran terkait pembatalan pertemuan tersebut. Sebelumnya, Teheran menyatakan siap memulai pembicaraan teknis setelah tercapainya kesepakatan 14 poin pada Rabu yang memperpanjang gencatan senjata selama sedikitnya 60 hari.

Namun, media semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa para negosiator Iran terlebih dahulu ingin melihat bukti implementasi kesepakatan sementara oleh Amerika Serikat sebelum melanjutkan proses berikutnya.

Laporan itu juga menyebut belum ada kepastian apakah delegasi Iran akan melakukan perjalanan ke Swiss.

Sementara itu, rencana upacara penandatanganan resmi perjanjian AS-Iran di Swiss juga diragukan oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Menurut Teheran, seremoni tersebut dinilai tidak diperlukan setelah kedua presiden telah menandatangani pakta tersebut.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang.

Perang tersebut juga memicu lonjakan harga energi dunia serta mengguncang pasar keuangan global akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Israel Terus Melanjutkan Operasi Militer di Lebanon

Meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara, Israel yang tidak dilibatkan dalam proses perundingan memilih menjaga jarak dari kesepakatan tersebut.

Militer Israel tetap melanjutkan operasi terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon yang didukung Iran, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai daya tahan gencatan senjata yang baru disepakati.

Baca Juga: Yen Makin Loyo Terhadap Dolar AS, Dekati Level Terendah dalam 40 Tahun

Di Lebanon, kantor berita negara NNA melaporkan sedikitnya 15 orang tewas akibat serangan terbaru Israel pada Jumat. Israel menyatakan operasi tersebut menyasar target-target Hezbollah.

Perjanjian damai sebenarnya menyerukan "pengakhiran permanen" perang di Lebanon. Namun Israel menegaskan tidak memiliki rencana untuk menarik pasukannya dan justru menampilkan peta baru yang memperlihatkan perluasan zona pendudukan.

Perkembangan tersebut memperbesar keraguan mengenai sejauh mana Presiden Donald Trump akan menekan sekutunya itu agar menghentikan ofensif militer yang sebelumnya ia janjikan akan diakhiri.

Trump Dikritik karena Dinilai Terlalu Banyak Memberi Konsesi

Di Washington, sejumlah anggota Partai Republik mempertanyakan apakah Presiden Donald Trump memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran demi mengakhiri perang yang semakin tidak populer menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Sebelumnya Trump berulang kali menegaskan perang hanya akan berakhir melalui "penyerahan tanpa syarat" Iran.

Namun, memorandum yang akhirnya ditandatangani justru memberikan berbagai bentuk pelonggaran kepada Teheran, termasuk keringanan sanksi ekonomi, pencairan aset senilai puluhan miliar dolar AS, serta pengecualian langsung terhadap ekspor minyak Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Sebut Trump Bertindak karena Terdesak

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menilai keputusan Trump menandatangani perjanjian tersebut dilakukan karena tekanan situasi.

"Trump menandatangani kesepakatan itu karena putus asa." katanya.

Baca Juga: Dana Asing Kabur dari Indonesia: Thailand Raih Berkah Berlimpah

Ia juga mengisyaratkan bahwa negosiasi mengenai program nuklir Iran tidak akan berjalan mudah.

"Jika pihak Amerika ingin mengajukan tuntutan yang berlebihan, kami tidak akan menerimanya," tambahnya.

Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk mencapai persetujuan mengenai status program nuklir Iran, kecuali jika disepakati perpanjangan waktu.

Selain itu, perjanjian juga membentuk dana rekonstruksi senilai US$300 miliar bagi Iran beserta berbagai insentif finansial lainnya.

Program Nuklir dan Rudal Masih Menjadi Isu Krusial

Pemerintah AS menyatakan negosiasi lanjutan masih dapat menghasilkan kesepakatan nuklir yang lebih kuat dibandingkan perjanjian tahun 2015 yang sebelumnya dibatalkan Trump saat masa jabatan pertamanya.

Dalam kesepakatan terbaru, Iran kembali menegaskan posisi lamanya bahwa negara tersebut tidak akan memperoleh maupun mengembangkan senjata nuklir.

Iran juga menyetujui proses pengenceran (down blending) cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi di dalam negeri serta inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Namun Teheran menolak keinginan Trump untuk memindahkan material nuklir tersebut ke luar wilayah Iran.

Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance menyatakan Washington juga akan berupaya membatasi pengembangan rudal jarak jauh Iran dalam perundingan mendatang.

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Turun

Prospek meningkatnya pasokan energi membuat harga minyak dunia melemah pada Jumat setelah kapal-kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz yang telah dibuka kembali.

Sebelum perang pecah, jalur strategis tersebut mengangkut hampir seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Iran menyatakan tetap akan mengendalikan Selat Hormuz bersama Oman dan berencana memberlakukan biaya layanan baru bagi kapal-kapal yang melintas setelah periode negosiasi 60 hari berakhir.

Baca Juga: Investor Asing Borong US$ 103 miliar Surat Berharga AS

Target Awal Trump Dinilai Belum Tercapai

Saat meluncurkan operasi militer hampir empat bulan lalu bersama Israel, Trump menyatakan tujuannya adalah menghancurkan kemampuan nuklir Iran agar negara itu tidak pernah mampu mengembangkan senjata tersebut.

Selain itu, Washington juga ingin menghentikan kemampuan Iran menyerang negara-negara tetangga, memutus dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata anti-Israel di kawasan, serta membuka peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan teokratis mereka.

Namun hingga kesepakatan ditandatangani, berbagai tujuan tersebut dinilai belum sepenuhnya tercapai.

Bahkan sejumlah pengamat berpendapat Iran kini berada dalam posisi yang lebih kuat setelah mampu bertahan menghadapi serangan negara adidaya, mempertahankan kendali strategis atas Selat Hormuz, serta memperoleh berbagai pelonggaran sanksi ekonomi yang signifikan.