Negosiasi Damai Iran-AS Buntu, Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah Membayangi



KONTAN.CO.ID - Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum menghasilkan terobosan.

Meski demikian, Teheran memastikan komunikasi dengan Washington melalui mediator masih berlanjut di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik baru di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, Senin (2/11/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan konsultasi melalui mediator berlangsung intensif.


Baca Juga: Morgan Stanley Prediksi Koreksi Bursa Saham AS Segera Berakhir

Iran telah menyampaikan sejumlah persyaratan dan proposal untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama delapan bulan tersebut.

“Konsultasi melalui mediator berlangsung sangat intensif. Kami telah menyampaikan persyaratan dan proposal kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington,” ujar Araqchi dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, IRNA.

Pembicaraan antara negosiator Iran dan mediator Qatar selama beberapa hari berakhir tanpa kesepakatan. Meski demikian, sejumlah proposal mengalami perubahan dan draf usulan penyelesaian konflik disebut tengah diedarkan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, proposal tujuh tahap yang diajukan Iran pada September masih menjadi dasar pembicaraan.

Namun, proposal tersebut kini dipadatkan sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan dalam waktu dua hari.

“Dasar dialog dan pembicaraan antara Iran dan AS melalui mediator masih merupakan proposal tujuh tahap Iran, yang kini telah diringkas sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan dalam dua hari,” kata Baghaei.

Baca Juga: Iran Buka Peluang Perundingan Damai, Harga Minyak Dunia Merosot 6%

Proposal tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz oleh Iran, pemberian pengecualian bagi penjualan minyak Iran oleh AS, serta pembatalan sanksi baru terhadap Teheran.

Setelah itu, kedua pihak diharapkan dapat melanjutkan pembicaraan mengenai isu lainnya.

Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menolak proposal tujuh tahap tersebut pada September lalu.

Baghaei menegaskan, pemangkasan tahapan proposal tidak mengubah posisi dasar Iran. Teheran hanya bersedia kembali membahas program nuklirnya setelah memastikan seluruh persyaratan yang diajukan telah dipenuhi.

Iran juga membantah adanya pembahasan mengenai kemungkinan pemindahan persediaan uranium yang telah diperkaya tinggi ke negara lain.

Seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, negosiator Iran meninggalkan lokasi perundingan pada Minggu (1/11/2026).

Namun, kepergian tersebut bukan disebabkan persoalan dalam proses negosiasi. Ia juga menyebut draf proposal tengah diedarkan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Baca Juga: Manufaktur Inggris Menguat, Namun Kenaikan Biaya Produksi Membayangi

Risiko Serangan Baru Membayangi

Di tengah berlanjutnya komunikasi diplomatik, sumber-sumber Iran menilai kemungkinan serangan baru AS masih lebih besar dibandingkan tercapainya kesepakatan damai.

Kekhawatiran meningkat menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS pada Selasa (3/11/2026).

Iran memperingatkan akan memberikan respons agresif jika serangan militer kembali dilanjutkan, termasuk dengan menargetkan sejumlah sasaran di dalam maupun di luar kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu berlangsung.

Baca Juga: Alphabet Rilis Obligasi Euro, Uji Minat Investor di Tengah Gejolak Saham Teknologi

Potensi eskalasi konflik tersebut turut menjadi perhatian China dan Rusia. Kedua negara menyuarakan penolakan terhadap kemungkinan dimulainya kembali operasi militer dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik seharusnya memprioritaskan penyelesaian politik dibandingkan kembali menggunakan kekuatan militer.

Pernyataan tersebut disampaikan Wang setelah bertemu dengan pejabat senior keamanan Iran Ali Bagheri Kani di Beijing, Senin (2/11/2026).

China, yang merupakan salah satu pembeli utama produk energi dari kawasan Teluk, juga meningkatkan aktivitas diplomatik di Timur Tengah.

Beijing dijadwalkan menjadi tuan rumah kunjungan Sultan Oman Haitham bin Tariq al-Said. Oman memiliki posisi strategis karena berada di sisi selatan Selat Hormuz.

Pada hari yang sama, Wang juga bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi Musaed bin Mohammed al-Aiban.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan seluruh pihak perlu menjaga keamanan energi dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Baca Juga: Freezer Supermarket di Swedia Mendadak Panas, Diduga Akibat Serangan Siber

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut laporan mengenai kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran sebagai hal yang sangat mengkhawatirkan. Moskow menyerukan peningkatan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga dilaporkan melakukan pembicaraan melalui telepon dengan pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei pada Senin.

Pasokan Energi Global Masih Terancam

Ketidakpastian penyelesaian konflik Iran-AS terus membayangi pasokan energi global. Perang yang dimulai melalui serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu telah memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran serta blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konflik tersebut juga diwarnai serangan pesawat nirawak dan rudal Iran ke sejumlah negara Teluk, serta kembali memanasnya konflik di Yaman.

Meski harapan tercapainya penyelesaian diplomatik sempat menekan harga minyak dunia hampir 4% pada perdagangan Senin, risiko gangguan pasokan masih tinggi.

Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Berlanjut, Proposal Baru Pembukaan Selat Hormuz Disiapkan

Terbaru, sebuah kapal tanker pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) milik Qatar dilaporkan terkena benda-benda tak dikenal di kawasan Teluk pada Jumat (30/10/2026). Operator kapal, Nakilat, menyampaikan insiden tersebut pada Minggu.

Serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk dan Laut Merah memang telah beberapa kali terjadi selama konflik.

Namun, serangan terhadap kapal pengangkut LNG relatif jarang terjadi. Insiden terakhir yang dilaporkan melibatkan kapal tanker Qatar terjadi pada awal Juli lalu.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun jalur diplomasi masih terbuka, ancaman terhadap keamanan pelayaran dan pasokan energi dari Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.