Negosiasi Damai Iran-AS Menguat, Pembukaan Selat Hormuz Jadi Kunci



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Upaya diplomasi untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan perkembangan baru. 

Iran mengirim dua pejabat utamanya ke Doha, Qatar, untuk membahas potensi kesepakatan damai yang dinilai bisa menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus meredakan krisis energi global.

Sumber Reuters menyebutkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bersama negosiator utama Teheran melakukan pembicaraan intensif dengan Perdana Menteri Qatar terkait sejumlah isu krusial, mulai dari pembukaan kembali Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga pencairan dana Iran yang dibekukan di luar negeri.


Pembicaraan itu berlangsung di tengah perang yang sudah berjalan sekitar tiga bulan sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington masih memberi ruang bagi jalur diplomasi sebelum mengambil langkah lain terhadap Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 5% ke Level Terendah 2 Pekan, Optimistis AS-Iran Berdamai

"Ada peluang yang cukup solid untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi serius terkait isu nuklir," kata Rubio saat berada di New Delhi, India.

Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan optimisme serupa. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan cukup baik, namun ia memperingatkan serangan baru bisa terjadi bila negosiasi gagal mencapai kesepakatan.

Fokus utama pembicaraan saat ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Konflik yang memanas membuat lalu lintas kapal di kawasan itu anjlok drastis.

Sebelum perang pecah, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini jumlahnya hanya puluhan kapal per hari akibat ancaman keamanan dan ranjau laut.

Media Jepang Nikkei melaporkan AS dan Iran tengah membahas skema pembukaan kembali selat tersebut sekitar 30 hari setelah kesepakatan damai dicapai. Dalam periode itu, Iran disebut akan membersihkan ranjau laut sehingga kapal dari berbagai negara dapat kembali melintas dengan aman.

Baca Juga: Utusan Senior Iran Dikabarkan Bahas Peluang Kesepakatan Damai dengan AS di Qatar

Iran sendiri menegaskan tidak akan mengenakan biaya tambahan bagi kapal yang melintas. Namun Teheran membuka kemungkinan pungutan jasa navigasi dan perlindungan lingkungan melalui protokol bersama Oman.

Selain isu pelayaran, negosiasi juga menyentuh persoalan uranium yang diperkaya Iran. Washington ingin memastikan Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran terus membantah tuduhan tersebut.

Sumber diplomatik AS menyebut Iran pada prinsipnya bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan membahas pengelolaan stok uranium yang diperkaya tinggi. Sebagai bagian dari kesepakatan akhir, pencairan puluhan miliar dolar dana minyak Iran yang dibekukan di luar negeri juga ikut dibahas.

Meski peluang damai mulai terbuka, situasi kawasan masih sangat rapuh. Iran pada Senin mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman “musuh” menggunakan sistem pertahanan udara baru di kawasan Teluk Persia.

Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Militer Israel kemudian mengumumkan serangan ke sejumlah infrastruktur Hizbullah di Lembah Bekaa dan beberapa wilayah lain di Lebanon.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1% di Tengah Harapan Damai AS–Iran

Ketegangan itu dinilai bisa menjadi penghambat baru dalam proses negosiasi Iran-AS.

Trump juga mencoba memperluas momentum diplomasi dengan mendorong lebih banyak negara Arab dan Muslim bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel yang dimediasi AS pada masa jabatan pertamanya.

Ia meminta Arab Saudi dan Qatar segera menandatangani kesepakatan tersebut, disusul Pakistan, Mesir, Yordania, dan Turki.

Namun sejumlah pengamat menilai langkah Trump berisiko memperumit negosiasi dengan Iran.

Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Trump sedang mencoba menjual kesepakatan Iran sebagai kelanjutan dari Abraham Accords.

"Trump mencoba menggambarkan kesepakatan Iran sebagai sesuatu yang baik untuk Israel dan kawasan. Tetapi itu tetap penuh tantangan karena situasi Timur Tengah masih sangat rapuh," ujarnya.

Baca Juga: Trump Dorong Negara Arab dan Muslim Gabung Abraham Accords dalam Kesepakatan Iran

Optimisme pasar terhadap peluang damai mulai terlihat dari pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak turun lebih dari 4% pada Senin ke level terendah dalam dua pekan terakhir karena pasar berharap kesepakatan Iran-AS bisa segera tercapai.

Meski begitu, krisis energi global dinilai belum sepenuhnya mereda selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan jalur distribusi energi dunia belum kembali normal.