KONTAN.CO.ID - Samsung Electronics dan serikat pekerjanya di Korea Selatan dijadwalkan kembali melanjutkan perundingan gaji yang dimediasi pemerintah pada Senin (18/5/2026), di tengah ancaman aksi mogok kerja di raksasa teknologi tersebut. Melansir
Reuters, perundingan dilakukan beberapa hari setelah putaran pertama negosiasi terkait skema gaji dan bonus gagal mencapai kesepakatan. Jika tidak ada titik temu, serikat pekerja berencana memulai aksi mogok pada Kamis pekan ini.
Baca Juga: Rupanya Bukan Dollar AS, Ini Mata Uang Terkuat Dunia Mei 2026 Potensi mogok di perusahaan pembuat chip memori terbesar dunia itu memicu kekhawatiran pemerintah Korea Selatan karena Samsung menyumbang hampir seperempat total ekspor negara tersebut. Sejumlah pejabat tinggi Korea Selatan, termasuk perdana menteri dan menteri keuangan, menilai aksi mogok harus dihindari karena dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi, ekspor, hingga pasar keuangan. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung melalui unggahan di media sosial X pada Senin menegaskan bahwa hak manajemen perusahaan harus dihormati sebagaimana hak pekerja dalam sistem ekonomi pasar bebas negara itu. “Di Korea Selatan yang menganut demokrasi liberal dan ekonomi pasar kapitalis, pekerja harus dihormati sebagaimana dunia usaha, dan hak manajemen perusahaan juga harus dihormati sebagaimana hak buruh,” tulis Lee.
Baca Juga: WHO Tetapkan Darurat Ebola, Vaksin untuk Virus Ini Belum Tersedia Ia menambahkan bahwa pekerja berhak memperoleh kompensasi yang adil atas tenaga mereka, sementara pemegang saham yang menanggung risiko investasi juga pantas memperoleh bagian keuntungan perusahaan. Perdana Menteri Kim Min-seok sebelumnya mengatakan pemerintah akan menyiapkan seluruh opsi, termasuk arbitrase darurat, guna mencegah mogok kerja. Melalui mekanisme arbitrase darurat, pemerintah dapat melarang aksi industri selama 30 hari sambil Komisi Hubungan Perburuhan Nasional melakukan proses mediasi dan arbitrase. Namun, serikat pekerja menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan tersebut dan menolak menerima tawaran perusahaan apabila dinilai kurang menguntungkan bagi pekerja. Setelah negosiasi pekan lalu gagal, para eksekutif divisi chip Samsung dilaporkan meminta serikat pekerja untuk menahan diri dari mogok kerja. Mereka mengungkapkan adanya kekhawatiran dari pelanggan semikonduktor utama seperti Nvidia.
Baca Juga: Apa yang Diketahui Soal Wabah Ebola di Kongo dan Uganda? Ini Penjelasan WHO Menurut laporan media lokal, beberapa pelanggan bahkan disebut mempertimbangkan penghentian sementara penerimaan pengiriman produk selama mogok berlangsung karena khawatir kualitas produk tidak dapat dijamin. Samsung menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Di pasar saham, saham Samsung Electronics tercatat naik 0,7% pada perdagangan pagi, sementara indeks acuan KOSPI justru turun 2,5%.