NELY Ingin Masuk Bisnis Energi



JAKARTA. Layar bisnis penyewaan kapal yang masih lesu, melecut PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk mempersiapkan lini bisnis baru. Perusahaan tersebut ingin menjajal masuk bisnis energi.

Saat ini Pelayaran Nelly tengah mengawal rencana membangun pembangkit listrik. Mereka ingin memanfaatkan arah kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo yang menaruh perhatian besar pada program pengadaan listrik 35.000 megawatt (MW).

Impian Pelayaran Nelly adalah membikin pembangkit listrik dalam skema energi baru dan terbarukan (EBT). Kapasitas pembangkit listrik mereka di bawah 10.000 MW.


Meski pemain baru, Pelayaran Nelly pede melaju sendiri. Perusahaan itu memperkirakan, harus merogoh kocek investasi US$ 10 juta. "Kami sedang melihat-lihat lokasi, seperti di Palembang dan Kalimantan Timur," ujar Tjahya Tjugiarto, Presiden Direktur PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk, Senin (2/5).

Sejatinya, Pelayaran Nelly sudah menginisiasi mimpi membangun pembangkit listrik ini sejak 2015. Tahun lalu, mereka membentuk anak perusahaan khusus di bidang energi bernama PT Nelly Energy Lestarindo.

Meskipun sejumlah persiapan seperti sudah tersusun rapi, rupanya Pelayaran Nelly masih membutuhkan waktu untuk merealisasikan rencana. Perusahaan berkode saham NELY di Bursa Efek Indonesia tersebut mengaku, masih butuh melakukan kajian selama setahun hingga dua tahun. Dus, belum ketahuan, target memulai pembangunan pembangkit listrik.

Yang pasti, Pelayaran Nelly tak mau cuma duduk saja. Sembari mematangkan rencana masuk bisnis energi, mereka aktif mencari kontrak baru.  

Pelayaran Nelly berharap kecipratan proyek pengadaan kapal yang kini tengah digelar oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)."Mudah-mudahan kami dapat lagi, kami akan maju sendiri karena tender kapal KKP kecil, kapal fiber," harap Tjahya.

Kontrak anyar itu akan melengkapi kontrak anyar Pelayaran Nelly. Sebut saja, kontrak pengadaan dua kapal perintis berkapasitas 1.200 DWT dari Kementerian Perhubungan (Kemhub). 

Pelayaran Nelly mengempit tender pengadaan dua kapal dari Kemhub tersebut sejak Oktober 2015. Target penyelesaian pembuatan kapal selama 24 bulan sejak tender di tangan. Lokasi pembuatan kapal di Banjarmasin, Kalimantan Timur.

Target stagnan

Dalam mengerjakan kontrak dari Kemhub, Pelayaran Nelly tak melaju sendiri. Melalui anak perusahaan bernama PT Permata Barito Shipyard and Engineering, mereka menggandeng perusahaan galangan kapal di Batam yaitu PT Batamec Shipyard.

Dari pengerjaan kontrak Kemhub saja, Permata Barito Shipyard mendatangkan pendapatan sekitar Rp 2 miliar. Pendapatan itu masuk dalam pos pendapatan jasa pemeliharaan dan perbaikan kapal tahun 2015, yang total tercatat Rp 25,73 miliar.

Meskipun rajin membidik proyek pengadaan kapal, Pelayaran Nelly menargetkan kinerja tahun 2016 konservatif alias sama dengan tahun 2015. "Tahun ini mirip dengan tahun kemarin," kata Tjahya.

Pelayaran Nelly memperkirakan bisnis sewa kapal masih menjadi kontributor utama tahun ini. Andalan perusahaan itu adalah sewa kapal untuk  pengangkutan kayu.

Sebagai catatan, PT Riau Andalan Pulp & Paper serta PT Panca Usaha Palopo Plywood adalah pelanggan terbesar Pelayaran Nelly pada tahun 2015 dan kuartal I-2016. Masing-masing perusahaan itu menyumbang pendapatan lebih dari 10% pendapatan Pelayaran Nelly.

Sepanjang tahun ini Pelayaran Nelly menganggarkan dana belanja modal sekitar Rp 15 miliar–Rp 20 miliar untuk pemeliharaan kapal. 

Alih-alih membeli kapal, Pelayaran Nely mempertahankan jumlah kapal, yakni  35 kapal tongkang dan 33 kapal tunda. Kalaupun membutuhkan kapal lain, perusahaan itu memilih menambah kapal dengan sistem sewa. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News