KONTAN.CO.ID – MADINAH. Di tengah ribuan jemaah haji yang diberangkatkan melalui Embarkasi Makassar, kisah Nenek Jumaria P. Sire Said pelan-pelan mencuat bukan hanya sebagai cerita haru, tetapi juga sebagai wajah manusia dari sebuah inovasi layanan haji modern. Jemaah haji lansia (sekitar 70 tahunan) asal Kabupaten Maros ini hanyalah salah satu jemaah dari Embarkasi Makassar yang berangkat melalui sistem Makkah Route Program di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin milik Arab Saudi. Program ini memang dirancang untuk menyederhanakan seluruh proses keimigrasian jemaah mulai dari pemeriksaan paspor, bea cukai, hingga pengurusan bagasi langsung di negara asal, sehingga setibanya di Arab Saudi jemaah bisa langsung melanjutkan perjalanan ibadah tanpa hambatan administratif.
Baca Juga: Kemenhaj: Jumlah Jemaah haji yang Wafat Mencapai 12 Orang Namun yang membuat nama Nenek Jumaria berbeda adalah ketika kisahnya dijadikan bagian dari dokumenter Makkah Route yang dipublikasikan melalui kanal instagram resmi. Dalam video itu, sosok nenek petani sederhana yang menabung puluhan tahun untuk bisa berhaji tampil apa adanya tanpa skenario berlebihan, tanpa rekayasa emosi. Potongan video dirinya haru, bercerita tentang menabung, hidup dari sawah, hingga akhirnya sampai ke tanah suci, menyebar cepat di berbagai platform media sosial. Cuplikan itu banyak dibagikan ulang di TikTok, Instagram, dan sosial media lainnya. Ketua kloter UPG 14, Siti Hawaisyah (Ketua Kloter UPG 14), menjelaskan bahwa viralnya Nenek bukan sesuatu yang direncanakan secara personal, melainkan efek dari dokumentasi resmi program Makkah Route yang kemudian menyentuh publik secara luas. “Awalnya itu memang tim Makkah Route datang untuk dokumentasi. Mereka memilih jemaah dengan cerita hidup yang kuat, dan Nenek termasuk yang terpilih. Setelah video itu tayang, baru kemudian viral di media sosial,” ujarnya kepada awak media, Rabu (7/5/2026). Menurut Siti, yang membuat cerita itu menyebar luas adalah karena keaslian emosinya. Tidak ada rekayasa, tidak ada dialog yang dibuat-buat. “Karena memang dia latar belakang kehidupannya petani sawah. Dia menabung sedikit-sedikit puluhan tahun. Cerita unik kehidupannya,” tambahnya.
Baca Juga: Jemaah Haji Gelombang II Telah Tiba Hari Ini di Makkah Ia juga menjelaskan bahwa proses pengambilan gambar dilakukan dalam waktu singkat, hanya sekitar satu hari di kampung halaman Nenek di Maros. Namun hasilnya kemudian menjadi salah satu materi publikasi yang paling banyak dibicarakan. “Tim Makkah Route itu untuk datang mewawancarai sambil dia mengambil videonya, filmnya,” kata Siti. Siti juga menggambarkan momen itu sebagai sesuatu yang tidak biasa, sekaligus membanggakan bagi masyarakat semkitar. “Masyarakat sempat berkumpul semua di sana, pada saat pengambilan shooting itu. Mereka datang berbondong-bondong, tetangga dan keluarganya, orang-orang di sekitar situ untuk menyaksikan,” ujarnya. Menurut Siti, antusiasme itu juga datang dari rasa bangga masyarakat setempat karena salah satu warga mereka dipilih menjadi bagian dari dokumentasi internasional Makkah Route.
“Buat masyarakat, ini seperti kebanggaan tersendiri. Nenek yang hidup sederhana di kampung, tiba-tiba difilmkan oleh tim dari luar, lalu ceritanya sampai ke publik luas. Jadi mereka ikut hadir menyaksikan,” katanya. Dalam konteks yang lebih luas, viralnya Nenek Jumaria juga ikut mengangkat citra Makkah Route sebagai program layanan haji modern yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga dekat dengan cerita manusia di baliknya. Seperti yang dijelaskan dalam laporan resmi, program ini bahkan telah diperluas ke berbagai negara dan melayani lebih dari satu juta jemaah sejak diluncurkan, sebagai bagian dari transformasi layanan haji berbasis digital dan efisiensi tinggi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News