Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Surplus US$ 990 Juta pada Juli 2026



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali berada di zona surplus pada Juli 2026 setelah mencatat defisit pada bulan sebelumnya. Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang secara bulanan diproyeksikan lebih kuat dibandingkan impor.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan neraca dagang Juli 2026 surplus US$ 990 juta, berbalik dari defisit US$ 451 juta pada Juni 2026.

"Trade balance Juli surplus US$ 990 juta dari sebelumnya Juni defisit US$ 451 juta," ujar David kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).


David mengatakan, surplus neraca dagang Juli didorong oleh pertumbuhan ekspor secara bulanan atau month on month (MoM) yang lebih tinggi dibandingkan dengan impor.

Baca Juga: 64 Eksportir Tambang Dapat Relaksasi DHE SDA, Ini Daftar Lengkapnya

Ia memperkirakan ekspor Juli tumbuh 4,54% secara tahunan (year on year/YoY) dan 1,63% secara bulanan (MoM). Sementara itu, impor diproyeksikan tumbuh 20,94% secara tahunan, tetapi turun 3,96% secara bulanan.

Menurut David, secara bulanan, kinerja ekspor yang lebih baik tercermin dari data impor negara lain dari Indonesia yang relatif lebih persisten. Sementara itu, ekspor ke Indonesia mengalami penurunan yang lebih dalam.

"Secara bulanan, ekspor naik lebih tinggi tercermin dari data impor negara lain dari Indonesia lebih persisten dibandingkan dengan ekspor ke Indonesia yang turun lebih dalam," jelas David.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Bakal Sasar 13 Tindak Pidana, Korupsi hingga Perdagangan Orang

Adapun dari sisi komoditas, David menyebut pertumbuhan ekspor Indonesia masih ditopang oleh komoditas utama, terutama crude palm oil (CPO) dan batubara.

"Pendorong ekspor, yang utama seperti CPO, batubara," kata David.

Meski menjadi penopang ekspor, David melihat harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia mulai melambat, terutama batubara dan logam. Sementara itu, harga minyak masih relatif stagnan pada Juli 2026.

Dengan proyeksi tersebut, neraca perdagangan Indonesia berpotensi kembali mencatat surplus pada Juli 2026 setelah pada Juni 2026 mengalami defisit US$ 451 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News