Neraca Dagang RI Diproyeksi Akan Tertekan Impor yang Tetap Tinggi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan rapuh hingga akhir 2026. Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan berpotensi menjaga permintaan domestik tetap kuat, sehingga mendorong impor lebih tinggi di tengah ekspor yang menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan global.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, prospek neraca perdagangan Indonesia ke depan menghadapi risiko penurunan. Kenaikan impor diperkirakan masih akan berlanjut seiring kuatnya aktivitas ekonomi domestik, sementara kinerja ekspor berpotensi melambat akibat ketidakpastian global dan geopolitik.

“Kami terus melihat risiko penurunan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan akan menjaga permintaan domestik tetap tangguh dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih kuat,” ujar Faisal dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).


Baca Juga: Impor Diproyeksi Tetap Tinggi, Surplus Neraca Dagang Indonesia Berpotensi Menipis

Menurut Faisal, risiko terhadap neraca perdagangan juga berasal dari perkembangan harga minyak global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya meningkatkan nilai impor energi Indonesia.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan menghadapi tantangan dari permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlangsung.

Ketidakpastian tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global dan mendorong sejumlah negara menerapkan kebijakan yang lebih berorientasi ke dalam negeri. Kondisi ini dapat membebani kinerja ekspor Indonesia.

Meski perdagangan global untuk semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus berkembang, Faisal menilai manfaat langsung bagi ekspor Indonesia masih terbatas. Pasalnya, partisipasi Indonesia dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut masih relatif kecil.

“Secara keseluruhan, kami memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) akan melebar menjadi 2,49% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,09% dari PDB pada tahun 2025,” jelasnya.

Perkiraan tersebut sejalan dengan kondisi neraca perdagangan yang mulai menunjukkan penurunan surplus secara kumulatif. Pada Juli 2026, neraca perdagangan memang kembali mencatat surplus US$0,12 miliar, berbalik dari defisit US$0,45 miliar pada Juni 2026.

Namun, secara kumulatif Januari-Juli 2026, surplus perdagangan hanya mencapai US$3,70 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus US$23,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Juli 2026, pertumbuhan ekspor tercatat 6,05% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dari 8,63% yoy pada Juni. Sementara pertumbuhan impor juga melambat menjadi 27,02% yoy dari 34,02% yoy.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Januari-Agustus 2026 Naik 24,1%, Estimasi Capai Rp 1.409 Triliun

Faisal menjelaskan, surplus Juli terutama terbantu oleh moderasi impor, khususnya impor migas akibat rata-rata harga minyak global yang lebih rendah. Sementara itu, ekspor masih relatif tangguh dengan dukungan ekspor batu bara, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik.

Meski demikian, perkembangan tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah risiko terhadap neraca perdagangan secara keseluruhan.

Sejalan dengan prospek CAD yang melebar, Faisal memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan turun menjadi US$143 miliar-US$147 miliar pada akhir 2026, dari US$156,47 miliar pada akhir 2025.

Dengan kondisi tersebut, ia memprediksi Bank Indonesia akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas untuk menjaga stabilitas eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News