Neraca Dagang RI Surplus US$ 38,54 Miliar Sepanjang 2025, AS Penyumbang Terbesar



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami kinerja positif sepanjang periode Januari-November 2025, dengan surplus mencapai US$ 38,54 miliar, atau meningkat 31,8% secara tahunan dibandingkan periode tahun sebelumnya US$ 29,24 miliar.

Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara mitra dagang penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia. Sebaliknya, China masih menjadi negara yang memberikan tekanan terbesar terhadap neraca perdagangan nasional dengan defisit terdalam.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebut, surplus perdagangan tersebut terutama ditopang oleh kuatnya kinerja ekspor nonminyak dan gas (nonmigas).


Baca Juga: Harga Emas dan Perhiasan Picu Inflasi 2025, BPS Catat 11 Kali Jadi Penyumbang Utama

“Surplus sepanjang Januari hingga November 2025 ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 56,15 miliar,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).

Namun demikian, kinerja positif tersebut masih dibayangi oleh defisit sektor migas. BPS mencatat, neraca perdagangan migas sepanjang Januari–November 2025 mengalami defisit sebesar US$ 17,61 miliar, sehingga menjadi pemberat surplus perdagangan secara keseluruhan.

Dari sisi negara mitra dagang, neraca perdagangan total Indonesia yang mencakup migas dan nonmigas mencatatkan surplus terbesar dari perdagangan dengan AS mencapai US$ 16,54 miliar. Sementara India menempati posisi kedua dengan surplus US$ 12,6 miliar, disusul Filipina dengan surplus sebesar US$ 7,81 miliar.

Sebaliknya, China masih menjadi penyumbang defisit terdalam bagi neraca perdagangan Indonesia, disusul oleh Australia dan Singapura.

“Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah China yakni minus US$ 17,74 miliar, Australia sebesar minus US$ 5,04 miliar, yang ketiga adalah Singapura sebesar minus US$ 4,66 miliar,” papar Pudji.

Khusus pada neraca perdagangan nonmigas, dominasi AS sebagai pasar ekspor utama Indonesia semakin menguat, dengan surplus nonmigas sebesar US$ 19,21 miliar, diikuti India sebesar US$ 12,16 miliar dan Filipina sebesar US$ 7,71 miliar.

Sementara itu, China kembali tercatat sebagai penyumbang defisit terbesar pada kelompok nonmigas dengan nilai minus US$ 19,28 miliar. Defisit nonmigas berikutnya berasal dari Australia sebesar minus US$ 4,33 miliar dan Brasil sebesar minus US$ 1,65 miliar.

Selanjutnya: Situasi Geopolitik Memanas, Pertamina Klaim Aset Migas di Venezuela Tak Terdampak

Menarik Dibaca: Promo HokBen Spesial Musim Hujan, Beli Hoka Ramen Gratis Bubur Hangat Khas Jepang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News