Neraca Dagang RI Terancam Defisit di April 2026, Efek Adanya Lonjakan Impor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca dagang Indonesia pada April 2026 diprediksi mencatat defisit untuk pertama kalinya setelah selama 71 bulan berturut-turut membukukan surplus sejak Mei 2020.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual memperkirakan neraca dagang Indonesia pada April 2026 mengalami defisit sebesar US$ 10 juta, berbalik dari posisi surplus US$ 3,32 miliar pada Maret 2026.

Trade balance defisit karena impor yang sangat tinggi, dilihat dari beberapa data yang sudah available dari negara lain,” ujar David kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).


Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu

Secara rinci, David memperkirakan ekspor Indonesia pada April 2026 tumbuh 10,3% secara tahunan dan naik 1,6% secara bulanan. Sementara itu, impor diperkirakan tumbuh lebih tinggi yakni 11,2% year on year (yoy) dan melonjak 19,2% secara month to month (mtm).

Menurut David, lonjakan impor tercermin dari kenaikan impor sejumlah negara mitra dagang utama dari Indonesia. Impor China tercatat meningkat sekitar US$ 1,8 miliar terutama untuk produk plastik, barang elektronik, dan mesin.

Selain itu, David juga mencatat impor dari Singapura juga meningkat sekitar US$ 1,4 miliar dan dari Malaysia naik sekitar US$ 600 juta, terutama didorong impor minyak.

Ia menjelaskan, tingginya impor tersebut menjadi faktor utama yang menekan neraca perdagangan Indonesia hingga berpotensi mengalami defisit.

Di sisi lain, kinerja harga komoditas ekspor dinilai belum cukup kuat menopang surplus perdagangan. David menyebut harga komoditas ekspor secara keseluruhan mengalami penurunan terutama akibat melemahnya harga batubara.

Sementara harga crude palm oil (CPO) cenderung stagnan dan harga logam hanya naik tipis.

Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu

Sedangkan dari sisi impor, kenaikan harga komoditas terutama minyak turut meningkatkan nilai impor Indonesia pada April 2026.

Dengan kondisi tersebut, David menilai tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia mulai meningkat seiring tingginya kebutuhan impor dan belum kuatnya dukungan harga komoditas ekspor utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News