Neraca perdagangan defisit untuk pertama kali tahun ini



JAKARTA. Untuk pertama kalinya dalam tahun ini neraca perdagangan kita mengalami defisit. Defisit ini terjadi karena nilai impor pada Juli lalu lebih besar ketimbang ekspor.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Juli 2010 mengalami defisit sebesar US$ 128,7 juta. "Mudah-mudahan ini musiman saja. Bukan karena rupiah yang menguat," kata Deputi Bidang Statistik Produksi Subagio Dwijosumono, Rabu (1/9/2010).Nilai impor Indonesia pada Juli 2010 mencapai US$ 12,62 miliar atau naik 7,32% bila dibandingkan Juni lalu. Sementara bila dibandingkan Juli tahun lalu, naik 45,35%. "Secara kumulatif nilai impor Indonesia pada Januari-Juli 2010 mencapai US$ 75,56 miliar atau melonjak 50,93% dibanding periode yang sama tahun lalu," paparnya.Untuk impor non migas mencapai US$ 10,51 miliar atau meningkat US$ 1,14 miliar dibanding Juni 2010. Sedangkan selama Januari-Juni 2010 mencapai US$ 60,33 miliar atau naik 47,81% dibanding periode yang sama tahun lalu. "Nilai Impor non migas terbesar adalah golongan mesin, peralatan mekanik senilai US$ 1,94 miliar, naik 14,48% dibanding Juni 2010," katanya.Sedangkan impor migas pada Juli lalu mencapai US$ 2,11 miliar atau turun US$ 0,28 miliar dibanding impor bulan sebelumnya. Sedangkan selama Januari-Juli 2010 mencapai US$ 15,23 miliar atau naik 64,72% dibanding periode yang sama tahun lalu.Negara pemasok barang impor terbesar pada Januari-Juli 2010 adalah China senilai US$ 10,97 miliar (18,18%), Jepang US$ 9,35 miliar (15,5%), dan Singapura US$ 5,77 miliar (9,57%)Sementara itu, nilai ekspor Indonesia pada Juli lalu mencapai US$ 12,49 miliar atau naik 1,32% dibanding Juni lalu atau menanjak 29% dibanding Juli 2009. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juli 2010 mencapai US$ 85,01 miliar atau naik 42,26% dibanding periode yang sama tahun lalu.Ekspor non migas di Juli mencapai US$ 10,61 miliar atau naik 1,76% dibanding Juni 2010 dan naik 29,49% dibanding Juli 2009. "Peningkatan non migas terbesar pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 219,8 juta, penurunan terbesar pada lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 82,9 juta," paparnya.Negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang US$ 1,37 miliar, AS sebesar US$ 1,28 miliar, dan China US$ 920 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Edy Can