Neraca Perdagangan Indonesia Diproyeksi Tetap Surplus di Tengah Konflik Rusia-Ukraina



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski konflik antara Rusia dan Ukraina masih membara, ini diperkirakan akan membawa dampak terhadap neraca perdagangan Indonesia. 

Akan tetapi, kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, dampak ke neraca perdagangan ini datang dari peningkatan harga komoditas minyak dan gas (migas) maupun harga komoditas non migas. 

Seperti kita ketahui, harga minyak melonjak dan berada di level tertinggi untuk beberapa tahun di pekan ini karena invasi Rusia ke Ukraina. 


Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent dengan kontrak pengiriman Mei 2022 pada Jumat (4/3) ditutup ke US$ 118,11 per barel atau melonjak 6,9%. Pun dengan harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2022 ditutup pada US$ 115,68 per barel atau naik 7,4%. 

Baca Juga: BI: Penyaluran Kredit Perbankan Capai Rp 5.700,0 Triliun Hingga Januari 2022

Sedangkan harga komoditas non migas seperti batubara pada Sabtu (5/3) diperdagangkan pada level US$ 418,75 per metrik ton atau menguat 48,75 poin alias 13,18% dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. 

Nah, dengan kondisi tersebut, Josua kemudian melihat dampak perang Rusia dan Ukraina kemudian tak akan mengusik potensi surplus neraca dagang dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. 

“Karena memang Indonesia net importir minyak, sehingga neraca dagang migas diperkirakan defisit. Namun, harga komoditas juga meroket sehingga neraca dagang non migas diperkirakan masih surplus dan ini akan menyeimbangkan,” tegas Josua kepada Kontan.co.id, Minggu (6/3). 

Akan tetapi, Josua menegaskan bahwa ini sesuai dengan pemantauannya akan kondisi yang berlangsung saat ini sehingga tetap perlu diperhatikan karena ada beberapa skenario yang bisa muncul. 

Editor: Handoyo .